
JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK LIKE COMMENT RATE DAN VOTE 😉 DUKUNG TERGODA DENGAN CARA TERSEBUT 😉
IG : asriainunhasyim
Selamat membaca 😘
.
.
.
"Aku ingin mengenalkanmu dengan teman baikku." Harun mengutarakan keinginannya.
Arumi terperangah mendengar itu. Yah, Harun dengan percaya diri ingin mengenalkan Arumi pada temannya.
"Kami pernah saling berjanji untuk mengenalkan pasangan satu sama lain. Dan aku akan menepatinya. Itupun jika kamu tak keberatan." Harun meminta persetujuan wanita di samping. Jika memang mau, maka akan terjadi. Begitu pun sebaliknya.
"K-kapan?" pertanyaan pertama yang muncul setelah apa yang pria itu ungkapkan.
"Yang jelas bukan malam ini," ucap Harun. Yah, karena malam ini adalah acara khusus bersama dengan keluarganya.
Arumi mengangguk. Wanita cantik itu juga tak menolak. Mungkin sudah tiba waktunya hubungan dengan Harun terang.
"Kapan punya waktu luang?"
Jika diingat, bahwa pekerjaan yang digeluti Arum setiap hari. "Waktu luangku hanya setelah kembali dari toko." Arumi menjeda kalimat. "T-tapi jika kamu membutuhkan kapan pun itu," cicitnya.
Harun tersenyum lembut mendengar.
Arumi memejamkan mata setelah berbicara. Dia cukup berani mengatakan kalimat tersebut. Dia banyak belajar dari masa lalunya untuk tidak menolak jika memang menyangkut hal-hal yang baik.
"Terima kasih, Dek." Terima kasih untuk pengertian yang wanita itu berikan.
*****
Mobil memasuki gerbang rumah besar, dua tingkat yang didominasi warna abu-abu.
Keringat mulai membasahi telapak tangan Arumi.
"Jangan ragu. Ada aku." Harun yang melihat ketegangan wanitanya mencoba meyakinkan.
"A-aku takut." Terdengar jelas suara Arumi yang memelas. Bagaimana jika orang-orang di rumah Harun tidak menyukainya? Bagaimana jika orang-orang tidak menerimanya?
Harun menggeleng. "Tenanglah, semua akan baik-baik saja. Ingat! Ada aku." Lagi-lagi Harun mengandalkan dirinya sebagai pelindung jika memang ada sesuatu yang kurang mengenakkan. Meskipun itu hal yang mustahil.
Arumi menenangkan perasaan. Dia menarik napas dan membuang. Melakukannya berulang kali.
"Yuk!" ajak Harun yang dibalas anggukan mantap oleh Arumi.
__ADS_1
Pria itu keluar terlebih dahulu dan membukakan pintu untuk pujaan hatinya.
*****
"Assalamualaikum ...."
"Waalaikumussalam." Tak butuh waktu lama, salam Harun mendapat balasan kompak dari ayah, bunda beserta Sang Adik.
Arumi dengan perasaan yang begitu gugup mulai maju menjajarkan diri dengan Harun. "Assalamualaikum ...." Arumi dengan suara yang amat lembutnya.
"Waalaikumussalam calon mantuku." Bunda Ira dan Ayah Kamil lagi-lagi membalasnya serempak.
Arumi langsung menggapai tangan kedua paruh baya itu bergantian dan menciuminya. Bunda Ira memeluk. "Arumi ...."
Meskipun kenal baik dengan paruh baya di depan, entah mengapa dia merasa begitu canggung. Jika sebelumnya bertemu dengan hubungan owner dan pelanggan, sekarang lebih dari itu. Calon mertua dan calon menantu.
"Bu ...." Arumi membalas pelukannya.
Suasana menjadi haru. Mereka berdua tidak menyangka jika sebentar lagi menjadi satu keluarga.
"Khm!" Harun berdehem.
Keduanya melepas pelukan. Terlihat jelas mata paruh baya yang telah melahirkannya mulai berkaca-kaca.
"Masuk, Nak!" Ayah Kamil menyeru.
*****
"Calon Abang cantik, yah," puji Fanny.
"Iyalah! Abangmu tidak salah memilih!" imbuh Bunda Ira dengan antusias seraya memegang punggung tangan Arumi yang dingin.
Harun dan Arumi hanya membalasnya dengan senyuman.
"Kami suka dessert buatanmu, Nak," ucap Ayah Kamil.
"Terima kasih, Om." Arumi mengangguk sekali.
"Jangan panggil, Om. Mulai sekarang, belajarlah memanggil kami sama dengan panggilan Harun. Ayah dan Bunda," jelas Ayah Kamil.
"Iya, Nak."
Arumi semakin salah tingkah dibuatnya. "I-iya A-ayah."
Harun yang melihat itu hanya menggelengkan kepala. Senang jelas ia rasakan. Mana kala melihat orang-orang yang disayanginya berkumpul dan saling menerima satu sama lain.
"Ayo makanannya silahkan dimakan!" Bunda Ira mempersilahkan semuanya untuk menyantap hidangan yang sedari tadi telah tersedia dengan begitu rapinya di depan.
Acara makan malam berjalan begitu khidmat. Tak ada suara selain dentingan sendok dan garpu yang saling beradu. Sesekali mata Arumi melirik Harun yang makan dengan begitu elegannya. Begitu pun sebaliknya.
__ADS_1
*****
"Nak Arumi, apa kamu sudah yakin dengan putra kami?" Ayah Kamil memulai inti dari pertemuannya. Mereka membahas di ruang keluarga.
Arumi yang mendengar itu menelan ludah. Matanya melirik Harun yang juga sedang menatapnya. Mereka semua ingin mendengar penuturan langsung dari mulut wanita cantik itu.
Seluruh sikap Harun mulai pertama bertemu sampai sekarang terputar jelas dalam ingatan Arumi.
Setiap ungkapan yang diberikan padanya masih terngiang. Yah, itu cukup memberinya alasan untuk membalas, "Iya, Ayah."
Dua kata yang terdengar spontan membuat semua orang yang berada di ruangan itu bahagia bukan kepalang.
"Nak Rumi, kami sudah lama menanti momen seperti ini. Karena memang Harun adalah tipikal pria yang acuh tak acuh masalah percintaan."
Arumi menyengir. Apa yang dikatakan Harun dulu benar adanya.
"Tiba-tiba saja dia datang dan memberi tahu pada kami semua bahwa dia menyukai seorang wanita yang tak lain adalah kamu!" Bunda Ira menjelaskan secara terang-terangan.
Harun tertawa. "Sudah cocok Bunda."
"Kamu sudah bicara pada Ibu Reni?" tanya Ayah Kamil.
Harun mengangguk mantap. "Alhamdulillah ... lampau hijau, Ayah."
"Ya sudah. Tunggu apa lagi?! Lusa, Ayah dan Bunda akan datang membicarakan langsung tanggal dan bulannya. Sesuatu yang baik tidak boleh ditunda-tunda!" tegas Ayah Kamil.
"Lebih cepat lebih baik!" timpal Fanny.
"Bagaimana, Nak Rumi?" tanya Bunda Ira.
Arumi menelan ludah mendengarnya. Dia memandang Harun. "A-aku t-terserah ... Abang."
Abang?
.
.
.
.
.
Siap gak nih ke kondangan?😂
Salam
AAH♥️
__ADS_1