
Satu persatu Akmal telah melayani pelanggan. Bengkel kecil miliknya cukup ramai dan diminati. Meskipun terbilang baru, akan tetapi orang-orang puas dengan hasilnya. Oleh sebab itu, Akmal mempekerjakan satu orang untuk membantu.
"Ganti oli, Pak Akmal." Seorang wanita paruh baya memarkir kendaraan.
"Oh iya, Bu. Setelah ini, yah." Akmal menunjuk motor menggunakan jempol yang tengah dikerjanya.
"Oke, Pak."
Pria itu mencoba bangkit dari keterpurukan demi anak semata wayangnya. Berusaha bekerja keras untuk memberikan penghidupan yang layak kepada Sang Putri.
Aline
Satu nama yang menjadi motivasi. Akmal tak bisa bersikap egois dengan hanya memikirkan dirin sendiri. Menata hidupnya menjadi lebih baik demi nama tersebut.
"Selesai!" Akmal menepuk tangannya bermaksud menghempas kotoran yang menempel.
"Berapa, Pak Akmal?" tanya pelanggannya.
"80 ribu Pak dengan ongkos kerjanya."
Akmal menerima uang dengan wajah yang berseri. Setelah selesai transaksi, barulah ia mengerjakan kendaraan selanjutnya.
*****
Pagi ini, Arumi disibukkan dengan rasa mual yang tiba-tiba melanda. Badannya lemas tak bertenaga. Kepalanya pusing.
Beruntung ada Mama Reni dan Bunda Ira yang setia mendampingi selama kepergian Harun. Yah, memasuki hari keempat tanpa suaminya.
"Minum."
Bunda Ira dengan sigap memberikan air kepada menantunya dan membantu memasukkan cairan bening tersebut. "Hati-hati, Nak."
Mama Reni memperbaiki posisi bantal dengan menumpukkan dua benda tersebut di belakang Arumi.
"Huufff ...." Wanita itu menghela napas seraya membaringkan tubuh.
Ponsel Arumi tiba-tiba berdering. Panggilan video dari Sang Suami.
"Assalamualaikum ...," sapa Bunda Ira kepada anaknya.
"Waalaikumussalam ...," jawab pria berparas tampan nan teduh itu. "Istriku mana, Bunda?"
Bunda Ira mengarahkan kamera kepada Arumi. Namun yang dicari hanya mampu memejamkan mata. Tak bersuara. Terlihat dia sedang dioleskan minyak angin oleh Mama Reni pada bagian pelipis. Wajahnya pucat.
"Kenapa?" Harun mulai khawatir melihat penampakan tersebut.
__ADS_1
"Dari tadi mual. Sarapan yang ia makan semua dimuntahkan," jelas Bunda Ira. "Biasa, Nak. Ngidam."
Harun merasa gelisah. Bersalah pun sudah melingkupi hatinya karena berada jauh disaat seperti ini. "Bunda tidak bawa ke rumah sakit? Atau biar aku yang telpon dokter."
Mendengar itu Arumi menggeleng lemah. Bunda Ira semakin mendekatkan ponsel pada Arumi. Setengah matanya terbuka.
"Bang ...," panggilnya dengan suara yang hampir tak terdengar. Matanya mulai menciptakan genangan air
"Iya, Sayang ... Abang di sini. Apanya yang sakit?"
Sekali kedipan buliran bening meluncur sempurna membasahi pelipis. "Rindu ...." suaranya bergetar dan melemah.
Bunda Ira dan Mama Reni melihat itu ikut terharu. Yah, betapa besar rasa yang mengikat keduanya.
Harun mengangguk. "Iya, Sayang. Abang segera pulang. Sabar ...." Pria itu menenangkan.
Berpisah dari istrinya membuat Harun melakukan pergerakan dengan cepat. Menyelesaikan masalah-masalah yang terjadi pada cabang perusahaan yang berdiri di negeri seberang.
Meski begitu, ia menepati ucapannya. Menghubungi Arumi walau hanya sekadar bertanya tentang aktivitas wanita itu. Terlebih ketika malam hari. Video call terus tersambung sampai Arumi hilang kesadaran.
"Baby-nya kuat. Bundanya juga kuat," yakin Harun.
Arumi kembali memejamkan mata. Mencoba mencari kenyamanan dari hal yang dilakukan. Melihat itu, Bunda Ira menjauhkan ponsel tersebut.
"Bagaimana urusanmu, Nak?"
"Iya, Nak. Jaga kesehatanmu. Jangan terlampau memaksakan diri." Nasihat Bunda Ira. "Masalah istrimu, tenanglah ... ada kami di sini."
Harun menghela napas. "Titip istriku, Bunda. Maaf karena banyak merepotkan Mama dan Bunda," sesal pria itu.
"Iya, Nak. Tidak apa-apa."
Harun mengakhiri panggilan.
*****
Dini berinisiatif mengunjungi sahabatnya sepulang kerja. Wanita cantik itupun telah mendapatkan kabar mengenai kehamilan Arumi.
Maka Dini pun juga akan menyampaikan informasi bahagia darinya bahwa Rama, pria yang dipacari beberapa bulan terakhir mengajukan lamaran dan diterima.
Rencana pernikahan pun telah diputuskan. Dini akan mengatakan langsung kepada Arumi dan meminta saran kepada sahabatnya yang lebih berpengalaman.
Saat berada di teras rumah Arumi, Dini memencet bel. Ketiga kalinya, seorang wanita paruh baya yang tampak asing membuka pintu. Yang jelas bukan mama atau pun mertua Arumi.
"Arumi ada?"
__ADS_1
"Bu Arumi ada di kamarnya," tuturnya dengan sopan.
"Saya sahabat Bu Arumi ingin bertemu dengannya. Boleh saya masuk?" izin Dini.
"Silahkan, Bu."
Wanita paruh baya itu membuka pintu dengan lebar dan mempersilahkan Dini masuk. Tak menunggu lama, Dini berterima kasih dan melangkahkan kaki.
Ada rasa sungkan. Mengingat Dini jarang menginjakkan kaki di rumah ini. Terhitung baru dua kali dia datang berkunjung.
Beruntung Dini bertemu dengan Mama Reni sehingga mengurangi rasa tidak enaknya. Wanita paruh baya itu menjelaskan prihal kondisi Arumi sehingga Dini memilih menunggu sampai sahabatnya bangun.
*****
"Bagaimana kondisimu?" Dini mendekat dan duduk di tepi tempat tidur.
"Alhamdulillah sudah baikan." Arumi bersandar pada sandaran sofa.
"Emang ngidam segitu banget, yah?" Dini bertanya dengan ekspresi khawatir.
"Kamu akan rasakan sendiri nanti." Arumi terkekeh. "Makanya jangan lama pacarannya."
"Iya ... iya ... bulan depan aku nyusul."
"Serius?"
"Emang ekspresiku tidak meyakinkan?"
Mata Arumi membulat seketika. "Alhamdulillah ... akhirnya sold out juga ...." Arumi memeluk Dini mengucapkan selamat.
Kedua sahabat itu melanjutkan obrolan.
.
.
.
.
.
Ig : asriainunhasyim
Salam
__ADS_1
AAH♥️