TERGODA

TERGODA
Tergoda 9


__ADS_3

Malam harinya. Akmal dan Arumi segera bersiap. Pakaian yang mereka gunakan disenadakan warnanya 'Navy'.


Arumi mengurai rambut panjangnya dengan hiasan jepitan pada sebelah kiri. Sedangkan Akmal menggunakan pomade hingga membuat rambutnya tampak mengkilat.


"Sudah siap?" tanya Akmal pada istrinya.


"Siap, dong!"


Mereka berdua tampak sangat serasi. Akmal menggenggam tangan istrinya dan beranjak keluar dari rumah menuju garasi. Sesekali tatapan mereka bertemu dan saling melemparkan senyuman. Kilatan kasih sayang terpancar dari mata dua insan tersebut.


"Terpesona," ucap akmal.


"Tergoda," Arumi membalas suaminya.


Seketika tawa keduanya pecah. Mereka bak pasangan yang kasmaran. Bagaimana tidak, tak henti-hentinya saling menggoda satu sama lain.


******


Debby memakai jumpsuit tanpa lengan berwarna mustard yellow hingga menampakkan kulitnya yang putih mulus. Rambut bergelombang berwarna kemerah-merahan dibiarkan tergerai dengan indah. Tak lupa Make up tipis terpoles di diwajahnya.


Debby memasang high heels berukuran 7 cm menampakkan kaki jenjangnya. Betul-betul cantik. Tak salah orang memanggilnya bidadari.


"Oke cukup!" monolognya sendiri seraya melihat penampilan di cermin.


Bidadari itu menunggu Dini di ruang tamu. Yah, wanita tersebut kembali ke rumahnya bersiap dan mengambil pakaian untuk menginap.


Sebenarnya Debby sudah melarang dan menyarankan untuk memakai bajunya saja, namun Dini tetap bersikukuh dengan dalih banyak keperluan yang ingin diambil.


Tin ... tin ...


Suara klakson memberinya pertanda bahwa yang ditunggu pun telah tiba di depan dan siap menjemput. Debby mengunci rumahnya dan berjalan menuju mobil.


"Hallo!" sapa Debby.


"Cantik banget!" Dini memuji temannya. Dari dulu seorang Debby memang selalu memesona.


Yang dipuji pun hanya tertawa hingga menampakkan gigi ginsulnya. "Kamu juga cantik, Din."


Debby tak berbohong. Dini memang cantik. Dress putih selutut membalut tubuh dengan bandana menghiasi rambutnya yang sebahu. Mereka berdua hanya memuji satu sama lain. Hingga Dini melajukan mobil menuju lokasi.


*****

__ADS_1


Akmal dan Arumi telah sampai di depan salah satu restoran yang terkenal di kota tersebut. Keduanya masih bersikap sama. Saling menautkan jemari dengan posesif seakan menunjukkan kepemilikan.


Melihat keadaan, sepertinya mereka berdualah yang lebih dulu tiba dibandingkan temannya Akmal dan Arumi memilih mencari tempat yang berada di pinggir.


"Coba hubungi, Dini."


Arumi mengangguk dan merogoh tasnya mencari benda canggih berbentuk persegi panjang. Dia mengotak atik ponselnya mencari nama sahabatnya.


"Assalamualaikum, Din."


"Waalaikumussalam."


Arumi mengerutkan kening. Yang didengar bukanlah suara Sang Sahabat. Dia menatap ponsel tersebut dan memastikan namanya. Tapi benar, itu Dini.


Apa hanya perasaanku saja?


"Ini siapa?" tanya Arumi dengan penasaran. Dia memberikan kode kepada suaminya.


"Oh, hay! Aku, Debby. Dini lagi nyetir."


Benar dugaannya. "Dini jadi kemari, nggak?" Lagi-lagi Arumi memastikan. Takut-takut jika sahabatnya membatalkan.


"Jadi, kok. Kami datang berdua."


Arumi berpikir positif. Mungkin Dini memang butuh teman untuk menemani bepergian. Mengingat keadaan hatinya tak baik-baik saja.


Seketika senyum cantik Arumi terbit dari bibir ranumnya. "Oke! Kalian hati-hati, yah!" Arumi tak mempermasalahkan itu. Selama hal tersebut membuat terhibur sahabatnya.


"Iya."


Sambungan telpon diputus oleh Arumi. Dia menyimpan ponsel dan mengalihkan pandangan kepada pria yang sedari tadi menatapnya.


"Dini datang bersama temannya, Mas." Wanita anggun itu menjelaskan.


"Terus?"


"Yah, baguslah, Mas. Setidaknya, dia merasa tak kesepian."


Akmal mengangguk. Pria itu sungguh tak mempermasalahkan hal tersebut.


*****

__ADS_1


Beberapa menit kemudian, Dini dan Debby telah tiba di restoran. Mereka berjalan beriringan memasuki tempat tersebut. Sesampainya di dalam, Dini mengedarkan pandangan mencari keberadaan sahabatnya.


"Nah! Itu mereka." Dini berucap dengan antusias kala melihat Akmal dan Arumi telah duduk di salah satu meja.


Debby memandang arah petunjuk temannya. Dia melihat seorang wanita dan pria yang duduk membelakangi. Mereka pun berjalan mendekat dengan wajah yang berseri-seri.


"Khm!" Dini berdehem untuk memberikan kode.


Spontan suami istri itu berbalik menuju sumber suara. Dini memeluk Arumi dengan erat menyalurkan rasa rindunya. Secara tak sadar, air mata pun ikut menetes di pipi mulusnya seakan bercerita tentang masalahnya saat ini. Arumi mengusap sayang punggung sang sahabat.


Berbeda dengan Debby. Bidadari penunggu itu mematung menatap pria yang balas menatapnya. Dia betul-betul terkejut melihat siapa orang tersebut.


Dia, batin Debby.


Akmal juga sama terkejutnya melihat wanita yang berdiri menjulang di depannya. Dia tak menyangka jika teman yang Dini bawa adalah wanita penjaga si hitam dan yang membuat drama tadi siang.


******


Mereka berempat pun duduk di meja yang sama. Atmosfir canggung mulai menyelimuti hati dan perasaan Debby. Baru tadi siang ia hendak mencari alamat pria yang menolongnya, akan tetapi takdir kembali mempertemukan mereka.


"Kenalin, By. Arumi sahabatku dan dia Akmal suaminya" ucap Dini dengan suara serak meskipun tak begitu kentara.


Debby hanya mengangguk. Dia betul-betul tak tahu harus berbuat apa. Sesekali matanya melirik Akmal yang balik memandangnya keheranan.


"Hy." Arumi mengulurkan tangan hendak menjabat. Tanpa menunggu lama, Debby segera menyambutnya. Sesi perkenalan diantara keduanya pun terjadi.


"Kalian sudah pesan makanan?" Dini kembali melemparkan pertanyaan.


"Kami menunggu kalian." Akmal segera menjawabnya. Kenyataan bahwa mereka menunggu sahabatnya.


Tak lama kemudian, seorang pelayan datang menyambangi tempat duduk mereka. Pelayan mencatat pesanan keempat orang tersebut di dalam sebuah tablet.


"Mohon kesabarannya, Mas, Mbak. Pesanannya akan segera diantarkan." Pelayan tersebut mengangguk sebagai tanda hormat dan meninggalkan mereka.


.


.


.


.

__ADS_1


Salam


AAH♥️


__ADS_2