TERGODA

TERGODA
Tergoda 41


__ADS_3

Pukul tiga dini hari, wanita itu masih terjaga. Dia berada di sudut kamar menenggelamkan wajahnya diantara kedua lutut. Dalam kegelapan dengan Sedikit cahaya, dia mengingat memori demi memori selama lebih tiga tahun ini.


Wanita itu tak menangis. Emosi dan air mata telah terkuras untuk hari ini. Trauma, yah dia sangat trauma. Dia merasa apa yang terjadi padanya hanya mimpi.


Masalah itu membuatnya benar-benar terpuruk. Jatuh hingga lembah terdalam. Entah apakah dia bisa bangkit atau selamanya seperti itu.


Namun tiba-tiba kepalanya terangkat. Wanita itu berdiri dengan lemah. Dia melangkah menuju depan cermin dan meraba laci. Jemarinya mengambil sebuah gunting.


*****


Dini memandangi ponselnya. Dia melihat wajah dari penghancur rumah tangga sahabatnya. Matanya memerah kala mengingat apa yang terjadi.


Dia betul-betul tak menyangka dengan sebagian orang yang tega merebut milik teman sendiri tanpa sisa. Yah, mereka sama-sama wanita, tak sepantasnya dia berperilaku rendah seperti itu.


"Aku benar-benar tak menyangka ...."


Dini memejamkan mata dan menghela napas kasar. "Untuk kali ini aku tidak mengampunimu."


Dini mengotak atik benda canggih tersebut. Dia melakukan apa yang menjadi keputusannya. Walau bagaimanapun dia terlibat dalam situasi ini. Rasa bersalah selalu menghantui.


"Aku jahat tapi kamu lebih jahat."


*****


Paginya, Mama Reni mengetuk pintu kamar sang putri. Dia berulang kali memanggil nama kesayangannya. "Arumi ...."


Tak ada sahutan dari dalam. Pintu terkunci. "Apa dia masih tidur?" gumamnya.


Saat hendak melangkah, handel bergerak. Benda tersebut pun terbuka lebar menampakkan penghuni kamar.


Mata Mama Reni terkejut bukan main kala melihat rambut putrinya. Pendek dan tak beraturan. "Ya ampun, Mi ...."


Wanita paruh baya itu spontan memeluk putrinya. Dia menangis tersedu-sedu di pundak wanita yang telah dilahirkannya. Namun Arumi terdiam.


"Nak, jangan siksa dirimu ...."


Mama Reni menangkup wajah Arumi. Dia begitu terpukul dengan kejadian yang menimpa putri semata wayangnya. Dia menggigit bibir bawah hingga berbekas menahan isakan. "Hi ... Hiks!"


Tak ada yang lebih peduli dengan anak melebihi ibu. Tak ada yang menyayangi anak melebihi ibu. Tak ada yang lebih terpukul dengan kejadian yang menimpa anak melebihi ibu sendiri.

__ADS_1


Begitu pula lah Mama Reni. Wanita paruh baya itu tak pernah sekalipun menyakiti Arumi. Namun dengan mudah pria itu melukai putrinya.


Dia mengusap kepala Arumi. "Lupakan dia, Nak ... dia tak pantas untuk anak Mama yang berharga ini ...." suara Mama Reni begitu seraknya.


Arumi hanya terdiam. Tatapannya kosong. Pada kenyataannya melupakan tak semudah membalikkan telapak tangan. Apalagi luka yang digoreskan pria itu begitu besar.


"Mama mohon, Nak ... jangan menyiksa dirimu seperti ini, Nak ...." Mama Reni tak kuasa. Dia berbalik dan menyembunyikan tangisnya dibalik pakaiannya.


*****


Kantor tempat Debby heboh bukan main. Seluruh karyawan memandangi ponsel dan melihat berita yang bermunculan. Yah, caption-nya 'Putri Debby Sang Pelakor Merebut Suami Orang dan Tengah Berbadan Dua'.


Semua karyawan melihat fotonya. Mereka tak salah itu adalah Debby bidadari kantornya. Bidadari yang selalu mereka sanjung-sanjung.


"Parah! Berbadan duanya itu loh!"


"Nggak bener ini ... suami orang lagi! Emang stok pria sudah habis!"


"Debby kok, gitu?!"


"Cantik banget. Tapi disalah gunakan!"


Terlebih Zira teman dekat Debby. Ingatannya tertuju pada pria yang meminang si hitam. Debby selalu memandang foto pria itu dan dia pun selalu memberikan dorongan kepada temannya.


Apa jangan-jangan ....


"Jangan terpancing! Mungkin ini hanya hoax!"


Zira mencoba menetralkan suasana ribut yang terjadi. Namun sia-sia. Mereka sudah terbuai dengan berita itu.


"Aku juga harap begitu. Secara memang Debby cuek kepada teman prianya. Tapi beritanya sudah tersebar luas, loh!"


"Aku saja yang menyatakan perasaan berkali-kali tapi tak mendapat balasan. Ternyata oh ternyata ...."


"Tak mungkin ada asap kalau tak ada api!"


Berbagai ocehan telah keluar dari mulut teman-teman Debby. Zira segera keluar. Dia menghubungi nomor Debby tapi tak aktif.


"Mana, sih!" Zira begitu cemas.

__ADS_1


Dia mengirimkan WhatsApp 'Kamu dimana? Buka sosial mediamu lihat apa yang terjadi!'


Pesan itu hanya ceklis satu. Zira berharap nomor temannya bisa aktif secepatnya. "Kacau!"


*****


Kantor Akmal pun sama hebohnya. Bagaimana tidak, muncul berita tak mengenakkan tentang wanita yang selalu datang berkunjung dan bertemu bosnya.


"Inikan yang sering datang!"


"Iya! Temannya pak Akmal!"


"Apa jangan-jangan pria itu si bos ...." ucapnya dengan suara berbisik dan bergidik.


"Siapa yang tidak tertarik! cantik seksi gitu!"


"Caption-nya itu, loh! Nauzubillah!"


Asisten Rian yang melihat berita itu hanya mampu menghela napas. Yah, dia sudah menebak bahwa pria itu adalah seorang Akmal Anggara Dinata.


Drama semalam memberinya bukti yang kuat. Dia kasihan pada istri bosnya. Apa kabar wanita itu? Asisten Rian bisa membayangkan betapa hancurnya Arumi saat ini.


"Semoga badai cepat berlalu ...."


.


.


.


.


.


Entar dilanjut yah 😁🙏


Jangan lupa jejaknya yah, VOTE DAN LIKE 😁


Salam

__ADS_1


AAH♥️


__ADS_2