TERGODA

TERGODA
S2. Tergoda 80


__ADS_3

Keesokan harinya, Arumi kembali ke rutinitas sebelumnya. Berangkat pagi menuju toko untuk mencari nafkah. Penampilannya benar-benar berubah.


Wanita cantik itu sudah memutuskan mengenakan hijab. Tentu, orang disekelilingnya mendukung penuh niatnya yang telah terealisasi.



"Oalah! Ini benar Kakak Rumi?!" pekik Tika.


Gadis hitam manis itu benar-benar tak menyangka melihat pakaian Arumi yang berubah drastis. Dia menatap penuh kekaguman dengan mata membulat sempurna.


Arumi hanya tertawa pelan. "Alhamdulillah, Dek."


Tika berjalan mendekati wanita yang telah dianggapnya sebagai kakak sendiri. Dia memegang tangannya. "Kakak tahu, kalau Kakak lebih cantik dengan hijab," puji Tika dengan sungguh.


"Terima kasih, Dek." Arumi tersenyum simpul.


Tika mengangguk. "Tika juga mau ngucapin selamat untuk acara lamaran, Kakak! Gak nyangka, cinta berawal dari dessert." Gadis hitam manis itu cekikikan membayangkan awal mula kisah percintaan Arumi.


"Berkat kamu juga," ucap Arumi seraya menyentil hidung Tika. Memang, gadis hitam manis itu pun ikut andil dalam hubungannya dengan Harun.


"Intinya Kakak cocok pakai banget dengan Pak Harun! Sama-sama cantik dan ganteng." Antusiasnya. "Mau dong cowok kayak Pak Harun .... Sudah tampan, berwibawa, mapan, dermawan lagi! Pokoknya idaman."


Tak henti-hentinya gadis hitam manis itu memuji calon suami Arumi. Jika diingat memang benar. Sebagian besar yang didamba wanita ada pada Harun.


Arumi hanya tertawa.


*****


Keduanya seperti biasa membagi tugas. Arumi yang membuat adonan sedangkan Tika yang melayani pembeli. Cukup ramai hingga membuat keduanya bersyukur tanpa henti.


Setelah semuanya aman, Tika mendekati Arumi. Membantu memasukkan adonan pada wadah plastik. Namun di tengah aktivitasnya, gadis hitam manis itu teringat sesuatu.


"Oh iya! Kemarin, ada pria yang nyariin Kak Rumi."


Arumi mengerutkan kening. Dia menoleh. "Siapa?"


Tika mengedikkan bahu. "Tika tidak tahu. Dia juga tidak bilang. Pria itu hanya memastikan nama lengkap owner Dessert Arumi," jelas Tika.


Sejenak Arumi menghentikan kegiatannya. Siapakah gerangan yang mencarinya?


Namun tak lama kemudian, wanita cantik itu menggeleng. Mungkin saja hanya pelanggan. Pikirnya.


*****

__ADS_1


Persiapan demi persiapan telah dilakukan menuju puncak pernikahan Harun dan Arumi. WO (wedding organizer) beserta hotel yang akan mereka tempati telah tersedia.


Keluarga calon mempelai pria betul-betul detail mempersiapkan. Tak ingin ada kesalahan yang terjadi pada saat perayaan nanti. Mengingat ini adalah pernikahaan putra semata wayang mereka.


Jika dihitung, dua minggu lagi keduanya resmi menjadi sepasang suami istri.


"Jam berapa berangkat, Nak," tanya Bunda Ira kepada putranya. Yah, hari ini Harun dan Arumi akan melakukan fitting baju pengantin.


Harun menatap jam pada pergelangan tangan. "Jam sepuluh aku akan menjemput Arumi."


Bunda Ira mengangguk. "Bunda sudah memberi tahu pihak desainer prihal tema warna yang akan kalian gunakan."


"Apa Bunda tidak ingin ikut? Setidaknya membantu kami memilih," harap Harun.


"Bunda tidak perlu ikut, Nak. Cukup kalian berdua. Dan yah! Bunda juga ingin mengurus undangan untuk teman Bunda dan ayah." Bukan tanpa alasan, wanita paruh baya itu ingin memberikan ruang agar saling mengakrabkan diri.


Harun mengangguk. "Ya sudah kalau bunda sibuk." Pada akhirnya pria itu pun mengerti. "Aku juga sudah mencatat nama-nama rekanku. Kemungkinan tersebar setelah masalah kostum selesai."


"Oke! Bagus, Nak!"


*****


Tepat pukul sepuluh, Harun menjemput calon istrinya. Bahkan wanita cantik itu telah menunggu di teras rumah dengan stelan yang lengkap.


Sesampainya di lokasi, Harun dan Arumi segera mencoba kebaya serta jas berwarna putih. Bunda Ira sengaja memilih putih saat akad, ia berharap ikatan yang mereka jalin suci hingga akhir.


Arumi menatap pantulannya pada cermin.


"Cantik, Mbak!" puji pramuniaga yang melayani mereka.


Arumi membalasnya dengan senyum. Dia menyambangi Harun guna memperlihatkan sekaligus meminta pendapat.


"Abang ...." panggil Arumi dengan malu-malu.


Harun yang semula memainkan ponsel saat mendengar namanya disebut segera menengadah.


"B-bagaimana?" tanya Arumi dengan gagap.


Harun terdiam beberapa saat hingga dia pun tersenyum. "Pilih yang itu, Dek."



Kebaya panjang dengan taburan permata di seluruh permukaannya, melekat pas di tubuh ramping Arumi. Tanpa banyak komentar, Harun menyetujuinya.

__ADS_1


Arumi mengangguk. "Yang penting, Abang suka."


"Tentu! Abang sangat suka ... terlebih, jika kamu yang memakainya."


Arumi terkekeh pelan. "Gombal, Ih! Aku serius."


"Abang juga serius, Dek," ucapnya dengan yakin.


Tak lama kemudian pramuniaga pun mendekat guna memperlihatkan jas untuk Harun.


"Mohon maaf, Pak. Silahkan jasnya dicoba dulu."


Harun bangkit dari sofa. Pria itu meraih satu stel jas berwarna senada dengan Arumi. Dia segera memasuki ruang ganti untuk melaksanakan instruksi.


Setelah selesai, Harun pun melakukan hal yang sama. "Dek, bagaimana?"


Arumi tersenyum. "Tampan!"


Harun yang mendengarkan pun tertawa. "Calon istriku balas dendam."


"Jujur!"


"Iya ... Iya .... Abang pilih ini."


Setelah aksi saling menggoda satu sama lain akhirnya pilihan mereka pun jatuh. Begitu juga selanjutnya, ketika keduanya memilih gaun. Hal yang sama terjadi.


Tanpa Harun dan Arumi sadari, itu adalah cara agar mereka semakin dekat.


.


.


.


.


.


Updatenya jadi tidak menentu yah 😁. Maaf, untuk informasi selanjutnya, silahkan follow IG asriainunhasyim.


Salam


AAH♥️

__ADS_1


__ADS_2