
JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK LIKE COMMENT RATE DAN VOTE 😉.
follow ig : asriainunhasyim
Selamat membaca😘
.
.
.
.
.
Prosesi pemakaman ibu Susan berlanjut setelah drama yang disebabkan oleh anak semata wayangnya. Jenazah dimakamkan di salah satu perkuburan tak jauh dari rumahnya.
Batu nisan ditancapkan Akmal sebagai tanda pengenal kuburan ibunya. Pembacaan do'a, penyiraman dan penaburan bunga pun telah selesai. Satu persatu telah meninggalkan pemakaman tersebut.
Namun salah satu warga yang seumuran dengan Ibu Susan mendekati pria itu. "Kamu harus berterima kasih kepada mantan istrimu. Dialah yang mengurus segalanya hingga selesai."
DEG!
Satu kalimat membuat Akmal seakan berhenti bernapas. Dia menengadah menatap orang tersebut.
Arumi ....
Wanita yang telah dia sia-siakan, yang telah dia hancurkan hidupnya, bahkan dia khianati tanpa ampun, ternyata dialah dengan ikhlas mengurus jenazah ibunya.
Bagai tamparan keras untuk Akmal. Pria itu merasa malu dengan dirinya sendiri. Sesuatu yang harus menjadi tanggung jawabnya kini digantikan oleh Arumi.
"Hatinya sangat mulia," tambah wanita paruh baya itu.
Mata Akmal panas dan kembali berkaca-kaca. Pria itu mengepalkan tangannya berusaha menahan gejolak dalam dadanya. "D-dimana d-dia?"
Bersusah paya dia mengeluarkan dua kata tersebut. Dia ingin melihat wanita itu. Wanita yang selama ini sangat dirindukannya.
Bu Dani menghela napas berat. "Dia selalu bersembunyi dibalik kerumunan. Aku tahu, Arumi enggan bertemu denganmu setelah kemelut yang terjadi antara kalian."
Akmal memejamkan mata. Hatinya sakit mendengar itu. Dia memang bersalah atas apa yang terjadi. Sangat salah. Keterpurukan yang membuatnya jatuh dalam kubang penyesalan yang teramat sangat.
__ADS_1
"Carilah dia. Minta maaf kepadanya. Saya hanya berharap, setelah apa yang terjadi, kamu bisa belajar untuk lebih bersyukur dengan apa yang kamu miliki." Bu Dani menipiskan bibir. Orang terdekat Ibu Susan memberikan nasihat kepada putra sahabatnya.
Wanita paruh baya itu berbalik dan meninggalkan Akmal sendiri. Sedangkan pria itu terdiam seakan menelaah ucapan Bu Dani.
Akmal segera berdiri. Dia menatap sekeliling mencari keberadaan Arumi. Namun nihil, Akmal tak menemukannya.
Pria itu berlari keluar dari pemakaman. Mungkin saja wanita itu masih ada. Tapi sayang, lagi-lagi ia tak menemukannya.
Aku ingin bertemu dengannya.
*****
"Oweekk! Owekkk!"
Gema tangis bayi yang berusia 9 bulan terdengar. Suaranya mengundang reaksi orang disekitarnya. Seorang wanita tua meraup bayi yang berjenis kelamin perempuan itu ke dalam gendongan.
"Cup! Cup! Cucu Nenek."
Wanita tua itu memberikan susu yang berada dalam dot berwarna pink. Tanpa menunggu lama, bayi tersebut menghisapnya dengan kuat.
"Ternyata, Cucu Nenek, lapar ...."
"Tunggu, ayahmu, Nak. Sebentar lagi datang," ucap Nenek Mira dengan lembut. Dia bersenandung kecil dan menggoyangkan bayi itu ke kiri dan ke kanan dengan penuh sayang.
Yah, dia adalah bayi Akmal dan Debby. Wajahnya sangat cantik. Kulitnya putih dan Matanya coklat seperti ibunya. Hidungnya mancung seperti ayahnya. Pipi juga gembul.
Namun nahas, diusianya yang masih bayi, dia tak mendapat kasih sayang utuh dari kedua orang tuanya.
Kerena masalah beruntun yang datang dan tekanan demi tekanan dari masyarakat akibat ulahnya, membuat sang ibu mengalami depresi berat. Beruntung janinnya pada saat itu kuat, meski harus lahir secara prematur dan melalui operasi caesar.
Sekarang, Debby berada di rumah orang tuanya. Keduanya memutuskan untuk membawa pulang putri mereka setelah apa yang terjadi. Mereka akan merawat wanita itu.
Sekarang, Akmal memegang peranan ganda. Dia harus mencari nafkah dan juga merawat anaknya. Beruntung juga ada Nenek Mira yang membantu. Jika pria itu bekerja, Akmal akan menitipkan putri semata wayangnya di rumah wanita tua itu.
******
Menjelang magrib, Arumi telah sampai di rumahnya. Tanpa kata, wanita cantik itu langsung masuk ke dalam kamarnya. Dia segera membersihkan diri. Sungguh, Arumi betul-betul sangat penat.
"Huufff ...." Hanya helaan napas berat yang terdengar.
Arumi tak ikut ke pemakaman. Setelah jenazah ibu Susan meninggalkan kediaman, dia segera memesan taxi untuk pulang. Tetangga yang melihatnya mencoba menahan, namun wanita cantik itu menolak secara halus.
__ADS_1
Setelah selesai mandi Arumi pun mengenakan pakaiannya, namun ponselnya tiba-tiba bergetar. Wanita cantik itu meraihnya dan melihat nama Tika terpampang di layar.
"Hallo."
"Kakak Rumi tidak ke toko, yah?" tanya Tika to the poin.
Arumi memijat pangkal hidungnya. "Tidak, Tik. Hari ini, Kakak benar-benar lelah. Kuncinya kamu pegang saja dulu."
Tika mengangguk meski Arumi tak melihatnya. "Kak, tadi anak ibu Ira datang. Dia nitip salam sama Kakak." Gadis hitam manis itu berucap dengan antusias.
Mendengar hal tersebut Arumi menghentikan aktifitasnya. Dia mengerutkan kening. Arumi tahu sosok tersebut.
Salam?
"Jangan ngaco deh, Tik!" Arumi memang tidak percaya. Kenapa juga pria itu minta salam?
Gadis hitam manis itu tertawa. "Tika serius, Kakak. Masa Kak Rumi tidak percaya, sih!"
Arumi menelan ludah. Dia betul-betul tak paham dengan maksud pria itu. Arumi dengannya tidak terlalu kenal.
"Dia itu orangnya, ganteng, baik, sopan, dermawan pula! Cocok banget sama Kak Rumi, sumpah!" Tika semakin memprovokasi wanita cantik itu.
Arumi yang mendengar hanya mampu menggeleng. "Masih ada?" tanya Arumi. "Kalau tidak ada, mending tutup toko sekarang dan pulang istrahat."
"Tapi ini kan belum jam sem-"
Arumi mematikan ponselnya. Dia mengedikkan bahu dan menyimpan benda tersebut di atas *springbed.
.
.
.
.
.
Salam
AAH♥️*
__ADS_1