TERGODA

TERGODA
S2. Tergoda 65


__ADS_3

TERUS DUKUNG TERGODA DENGAN MENINGGALKAN JEJAK LIKE COMMENT RATE DAN VOTE 😉


Follow IG : asriainunhasyim


Selamat membaca 😘


.


.


.


.


"Untuk s-siapa?"


Harun tersenyum lembut penuh arti. Mata pria itu memandangi bunga yang ada di depan matanya. "Untuk seseorang." Tidak ada hubungan jelas antara dia dengan wanita itu. Itulah sebabnya jawaban yang diberikan tidak signifikan.


Akmal yang mendengar hanya mampu menipiskan bibir. Seandainya dia masih bersama dengan Arumi, mungkin dia juga merasakan sama dengan apa yang Harun rasakan.


Jujur, Akmal sangat merindukan masa-masa dahulu dengan Arumi. Masa yang takkan pernah mungkin terulang kembali.


"Aku juga ingin melihat wanita beruntung itu," ucap Akmal. Dia juga berharap bisa melihat wanita yang bertakhta di hati sahabatnya.


"Do'akan. Aku masih berusaha."


Akmal mengangguk. "Pasti."


Kedua pria seumuran tersebut mengakhiri pertemuan, mengingat waktu. Mereka berpisah di pelataran parkir. Harun dengan mobil sedangkan Akmal dengan motornya.


Harun menuju tempat Arumi. Namun sebelumnya, pria itu melakukan ibadah maghrib di salah satu masjid yang ia lewati.


*****


Harun memarkir kendaraannya di depan toko dessert milik Arumi. Hari sudah gelap, namun tak menyurutkan keinginan Harun untuk menemui wanita itu.


Dia berjalan menuju bangunan yang didominasi warna pink tersebut dengan membawa sebuket bunga mawar.

__ADS_1


Semoga saja dia suka.


"Assalamualaikum ...."


Sebuah salam dari luar menarik perhatian dua orang yang ada di dalamnya yang semula membersihkan peralatan tempurnya.


Mata Tika membulat ketika melihat siapa yang datang. Gadis hitam manis itu menutup mulutnya yang menganga spontan. Sedangkan Arumi hanya memasang ekspresi datar.


"Waalaikumussalam, Pak." Tika menjawab salam menghampiri pria tampan itu.


Mata Harun memandangi Arumi dengan ciri khas senyum lembutnya. Pria itu menyembunyikan buket dibalik punggung.


"Mm ... bolehkah berbicara dengan Arumi?" Harun cemas-cemas harap menanti jawabannya.


Senyum semangat Tika mengembang di bibirnya kala mendengar permintaan pria tampan tersebut.


Tika hanya bisa mengangguk. Dia berbalik memberitahu Arumi. "Pria itu mau bertemu dengan Kak Rumi."


"Ada urusan apa?" tanya Arumi dengan cuek.


Dasar nakal!


Jadilah Harun dan Arumi berdua di tempat tersebut.


*****


Keduanya saling berhadapan dan tersekat oleh etalase. Mereka saling memandang. Harun juga kikuk. Tak tahu harus memulai dari mana.


"Ada apa?" Arumi memulai pembicaraan tanpa menunggu lama.


Harun menipiskan bibir dan tersenyum. Kenapa jantungnya hampir melompat?


"Apa kabarmu?"


Arumi mengerutkan kening. Malam-malam datang hanya untuk menanyakan hal yang menurutnya sangat tidak penting.


"Maaf, jika hanya ingin membahas hal yang tidak penting, aku tidak punya waktu," ucap Arumi dengan nada datar.

__ADS_1


Harun mengusap dahinya yang mulai di bubuhi keringat. Kenapa menghadapi seorang owner dessert terasa seperti orang bodoh?


Tiba-tiba Harun mengeluarkan buket bunga mawar yang sedari tadi dia sembunyikan di balik punggung. "Ini untukmu!"


Arumi menggigit bibir dalamnya kala melihat sebuket bunga mawar yang menggantung di depan matanya. Bunga yang cantik namun menyimpan banyak duri.


Dadanya kembang kempis. Perasaannya bergejolak. "Aku tidak suka bunga itu!"


Satu kalimat yang Harun dengar membuatnya memegang erat buket tersebut. Dia menarik pelan-pelan mundur. Ternyata pilihan membawa bunga mawar adalah hal yang salah.


"Ma-af. Aku kira kamu suka." Harun kembali menipiskan bibir.


Arumi mencoba memejamkan mata dan menghela napas untuk menghindarkan kenangan buruk yang berhubungan dengan mawar berduri itu. Sekuat tenaga Arumi menenangkan pikirannya.


Dulu dia sangat suka mawar. Itu adalah bunga kesayangannya. Tapi entah kenapa, dia tidak menyukai hal-hal yang berhubungan dengan masa lalu.


*****


"Sejujurnya, aku hanya ingin bertemu denganmu. Aku begitu ingin tahu tentangmu," jujur pria itu. Begitulah kenyataan yang sesungguhnya.


Arumi membuka mata. Dia menatap pria di depannya dengan tatapan sulit diartikan. "Pergilah! Aku tak sebaik yang kamu kira."


Harun tersenyum lembut. "Entah mengapa ada keyakinan dalam hatiku, jika dirimu jawaban dari sepertiga malamku. Tuhan yang mengirimku padamu."


.


.


.


.


.


Salam


AAH♥️

__ADS_1


__ADS_2