
Dengan semangat yang menggebu, Akmal siap melajukan kendaraannya. Dia tidak sabar menginjak pedal gas di atas jalan yang beraspal. Rem mendadak dan menyalip satu persatu kendaraan yang menghalangi jalan adalah bagian dari seninya.
"Pak Akmal!"
Tiba-tiba suara yang tidak asing terdengar. Akmal menoleh menuju sumber suara tersebut.
"Kamu?!"
Debby berjalan dengan cepat mendekati pria tersebut. Dia ingin mengucapkan terima kasih karena telah memilih si hitam. Tentu membuat pundi-pundinya semakin bertambah.
Bidadari itu tersenyum dengan manisnya. "Pak Akmal sudah mau pulang?" tanyanya.
Akmal mengangguk. "Ada apa?"
"Saya hanya ingin mengucapkan terima kasih, Pak, karena Bapak telah memilih si hitam."
Akmal tersenyum. "Yah, saya begitu tertarik. Beruntung belum ada yang mendahuluiku."
Lama keduanya berbincang panjang lebar tentang mobil yang Akmal pilih. Mereka sangat nyambung dalam hal ini karena bergelut dalam bidang yang sama.
Seketika keduanya lupa dengan kejadian yang menjerat. Pembicaraan itu seakan menghapus semua memori memalukan yang pernah dilalui.
"Ya sudah. Kalau begitu saya pamit pulang." Akmal mengakhiri percakapan dengan Debby mengingat waktu.
Debby mengangguk mengiyakan. "Iya, Pak. Saya juga akan segera pulang."
Akmal menimbang sesaat. Dia kembali melihat wanita itu. "Kamu bisa ikut saya kalau kamu mau," tawar Akmal.
"Tidak, Pak. Terima kasih."
Akmal tak memaksa. Dia mengangguk dan segera masuk ke dalam kendaraan meninggal Sang Bidadari yang menolak tawarannya.
******
Sepeninggal Akmal, Debby masih mematung di tempatnya. Dia tak menyangka jika keberaniannya membawa dia dan Akmal berbincang seakan tak pernah terjadi apa-apa.
"Beb!"
Suara cempreng mengagetkan dan membuyarkan lamunan. Dia berbalik menuju sumber suara tersebut.
"Ya ampun!" Dia menghela napas kasar.
"Ciee ... gebetan baru," goda teman sejawat Debby.
"Bukan," elak Debby. Karena memang Akmal bukanlah siapa-siapanya. Terlebih pria tersebut sudah memiliki istri.
__ADS_1
"Sikat, Beb! Jangan dibiarkan lewat!"
Debby hanya menggeleng pelan lalu berlalu. Dia begitu malas mendengar ocehan teman-temannya.
******
Akmal memarkir kendaraannya di depan rumah. Dia membunyikan klakson untuk memberi tanda kepada Arumi bahwa dirinya telah pulang.
Tak lama kemudian, muncul 2 wanita berbeda usia. Akmal menghampiri kedua orang tersebut yang ternyata adalah ibu dan istrinya.
Arumi mengambil alih tas yang dipegang suaminya. Dia mencium tangan dan dibalas kecupan oleh Akmal pada keningnya.
Akmal kemudian beralih menyalim tangan ibunya. "Mobil baru lagi, Mal?" tanya Ibu Susan pada anaknya.
"Iya, Bu. Bagus, kan, Bu?" jawab Akmal bangga.
"Mobilnya mau diapakan terlalu banyak. Mending uangnya ditabung." Ibu Susan hanya menggeleng melihat Akmal.
"Ibu tahu 'kan, Mas Akmal kalau soalan mobil," imbuh Arumi.
"Kalau gak dipake bisa dijual kembali, Bu." Akmal berdalih, menghindari omelan ibunya.
"Anak ini." Bu Susan mengakhiri pembicaraan dan beranjak masuk rumah diikuti Akmal dan Arumi di belakang.
Akmal menyenggol pelan lengan istrinya dan memberi bahasa isyarat 'Kenapa tidak telpon kalau Ibu mau datang'. Arumi tak membalas selain hanya menahan tawa melihat tingkah suaminya.
******
Kendaraannya memasuki gerbang kediaman Arumi. Debby melihat si hitam terparkir di depan rumah.
Berarti Mas Akmal ada di dalam.
Keduanya melangkahkan kaki menuju teras dan memencet bel. Tak lama kemudian, Arumi muncul dibalik pintu.
"Hai!" Arumi menyapa dengan antusias dan langsung memeluk satu persatu temannya.
"Apa kami mengganggu?" tanya Dini.
Arumi menggeleng. "Tidak sama sekali. Malahan aku senang kalian datang."
Debby dan Dini sudah menduga bahwa mereka akan disambut dengan sangat ramah oleh tuan rumah.
"Masuk, yuk!"
Mereka bertiga pun masuk. Debby memandangi isi rumah. Namun tiba-tiba, matanya menangkap bingkai foto berukuran besar terpajang di dinding. Yah, itu adalah foto pernikahan Akmal dan Arumi. Dalam foto tersebut, mereka berdua tampak sangat bahagia.
__ADS_1
******
"Siapa, Mi?" tanya bu Susan yang muncul dari dapur.
"Kenalin, Bu, mereka adalah sahabat Aku."
Debby dan Dini mendekati wanita paruh baya tersebut dan menciumi tangannya. Tak lupa mereka memperkenalkan diri.
Bu Susan memandangi pakaian mereka. "Kalian habis dari kerja?"
Spontan mereka mengangguk mantap. "Maaf, Bu, kami tidak berkabar kalau kami akan datang," ucap Dini dengan nada bersalah.
Bu Susan tersenyum. "Tidak apa-apa, Nak. Ibu, maklumi. Duduklah! Ibu dan Arumi ke dapur dulu."
"Tidak usah repot, Bu. Kami sudah makan tadi." Debby merasa tidak enak dengan orang-orang di rumah tersebut.
"Tidak apa-apa. Santai saja! Anggap rumah sendiri," imbuh Arumi.
Mau tidak mau Debby dan Dini hanya mengangguk pasrah. Mereka duduk di sofa. Sedangkan Ibu Susan dan Arumi segera berlalu menuju dapur menyiapkan minuman dan beberapa camilan.
*****
Selesai mandi dan berganti pakaian, Akmal keluar dari kamar. Dia mengibas-ngibaskan rambutnya yang masih basah. Pria itu bernyanyi kecil seraya menuruni anak tangga.
Ketika pandangannya beredar mencari Ibu dan Arumi, tiba-tiba ekor matanya menangkap dua sosok yang tidak asing berada di ruang tamu. Dia menajamkan matanya untuk memastikan.
Dua sosok tersebut tersenyum. Akmal mendekat dan menyapa mereka. "Hai! Kalian sudah lama?"
Dini menggeleng. "Baru saja kami tiba."
Akmal hanya mengangguk pelan. Pandangannya beralih menatap wanita di samping Dini yang terdiam. Namun sesaat senyum terbit dari wajah tampannya.
"Kenapa tawaranku tadi ditolak?"
.
.
.
.
.
Salam
__ADS_1
AAH♥️