TERGODA

TERGODA
Tergoda 15


__ADS_3

Keesokan harinya, Akmal telah berangkat ke kantor. Ibu Susan juga sudah bersiap-siap untuk pulang. Memang, wanita paruh baya itu hanya menginap semalam di rumah anaknya. Cukup untuk mengobati rindu.


"Ibu tinggal di sini saja," rengek Arumi. Dia bergelayut pada lengan mertuanya.


"Kalau Ibu tinggal, terus rumah di sana bagaimana, Nak." Ibu Susan memberikan pengertian kepada menantu satu-satunya. "Ibu akan sering nengokin kalian."


Arumi hanya mengangguk pasrah. Sebenarnya dia sudah tahu jawaban mertuanya, tapi dia mencoba membujuk kembali jika Ibu Susan datang ke rumahnya.


"Kamu sama Akmal, baik-baik, yah! Hubungi Ibu kalau dia macam-macam!" Ibu Susan memberikan wejangan.


Arumi melepaskan gelayutnya. Dia beralih mencium tangan mertuanya dan memeluk sebelum wanita paru bayah itu memasuki mobil.


"Ingat pesan, Ibu," ucap Ibu Susan disambut anggukan oleh Arumi.


Akmal menugaskan Asisten Rian untuk mengantar ibunya. Dia sudah menunggu sejak 30 menit yang lalu dan melihat drama perpisahan yang terjadi antara mertua dan menantu.


*****


Tok ... Tok ....


"Masuk!" titah Akmal.


Seorang karyawan pria membuka pintu. Dia terlihat menenteng sebuah paper bag. Karyawan tersebut melangkah mendekati meja pemimpinnya dengan sungkan.


"Maaf, Pak, mengganggu. Ada kurir yang mengantarkan kiriman, Bapak," ucap karyawan tersebut.


Akmal mengerutkan kening. Mendengar kata kiriman membuatnya bertanya-tanya. Semenjak tadi pagi, dia tidak pernah dihubungi orang yang mengirimkan barang tersebut. Karena selama ini, setiap ia dikirimkan sesuatu ada konfirmasi langsung dari pengirimnya.


"Dari siapa?" tanya Akmal. Dia memperhatikan paper bag yang tersimpan di atas meja kerja.


"Saya kurang tahu, Pak. Kata Kurir tadi, dari teman, Pak Akmal. Tapi dia tak menyebut namanya." Karyawan menjelaskan kepada Akmal kronologi paper bag tersebut.

__ADS_1


Akmal mengangguk paham. Setelahnya, karyawan pria itu segera meninggalkannya sendiri yang masih termangu.


Dia mengecek ponsel. Mungkin saja ada notifikasi pesan masuk dari pengirimnya. Namun nihil. Tak ada sama sekali.


Dia mengambil paper bag dan melihat isinya. Sebuah kotak makan berwarna merah terpampang di dalam. Dia mengeluarkan benda tersebut dan melihat secarik kertas tertempel di atasnya.


Semoga, Mas, suka dengan makanannya. Selamat makan, Mas.


Melihat itu, Ingatannya tertuju pada wanita yang telah dia halalkan. Yah, mungkin saja Arumi ingin memberikan kejutan dengan mengirimkan makan siang untuknya.


Wajah tampan Akmal berhias senyuman. Dia tak menyangka jika wanitanya begitu romantis. Akmal segera membuka kotak makan dan menyantap dengan lahap.


*****


Akmal menuruti pesanan Arumi kemarin. Alih-alih membeli bijinya, pria itu membeli bunga mawar utuh beserta dengan potnya. Dengan begitu, Arumi takkan menunggu terlalu lama. Bahkan tidak perlu takut jika proses pembibitan gagal.


Pria tampan itu pulang dengan wajah yang berseri-seri. Dia ingin segera sampai di rumahnya mengucap terima kasih kepada sang istri untuk kejutan makan siangnya. Memang semenjak menikah, ini pertama kali Arumi mengirimkan makanan ke kantor.


Akmal suka jika Arumi setiap hari seperti itu. Dia tidak meminta karena memang tak mau merepotkan istrinya. Tapi jika inisiatif sendiri, maka Akmal dengan senang hati menerima. Itu berarti, Arumi melakukan dengan sepenuh hati tanpa ada paksaan.


Sesuai dengan namanya, cantik, elok dan baik. Begitulah sekiranya dia. Semua ada padanya.


*****


Akmal memasukkan kendaraan ke dalam garasi. Dia keluar dari mobil dan memakai tas ransel. Tak lupa pula mengeluarkan bunga beserta potnya dari bagasi. Pria itu mengangkat dan menyimpannya di teras.


Akmal melanjutkan langkah memasuki rumah. Tanpa mencari, wanita itu sudah lebih dulu menyambut kedatangan dan mengambil alih tas yang ada di punggungnya.


"Capek, yah?" pertanyaan itu merupakan pembuka ketika Akmal kembali dari bekerja.


Dengan cepat Akmal menggeleng. Tanpa basa-basi, pria itu langsung memeluk wanitanya dengan erat dan mengecup pucuk kepalanya berkali-kali.

__ADS_1


"Mandi dulu," protes Arumi.


Akmal melepasnya dan menangkup wajah ayu Sang Istri. "Terima kasih," ucap pria itu dengan tulus.


Arumi begitu terheran melihat sikap Akmal. Datang dan langsung memeluk dirinya dengan mengucap terima kasih. "Mas ken-"


"Husst!" Akmal menempelkan telunjuk pada bibir Arumi. Dia tahu kalau wanita itu pura-pura heran dan lupa. Tapi Akmal tak mau memperpanjang, dia segera mengalihkan topik. "Mas, juga punya kejutan," seraya melepas jemarinya.


"Kejutan apa, Mas?" tanya Arumi semakin penasaran.


Akmal mengambil kembali tas dan menyimpannya di sofa. Dia menggenggam tangan Arumi dan keluar menuju teras. Akmal ingin memperlihatkan bunga mawar merah yang telah dia beli tadi.


Mata wanita cantik itu membelalak kala melihat setangkai kejutan yang dimaksud Akmal. Dia mendekati tumbuhan tersebut dan menyentuh kelopaknya.


"Khm! Mawarnya cantik, yah?" Akmal berdehem mencoba mengalihkan fokus Sang Istri.


Arumi mengangguk mantap tanpa mengalihkan tatapannya dari bunga tersebut. "Sangat Cantik."


Akmal ikut tersenyum mendengar. Dia senang dengan makan siang dari istrinya dan begitu pun sebaliknya, Arumi bahagia dengan mawar tersebut.


Bunga ini akan jadi saksi hubunganku dengan pemberinya, batin Arumi.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Salam


AAH♥️


__ADS_2