TERGODA

TERGODA
TERGODA


__ADS_3

Kehamilan Arumi memasuki usia delapan bulan. Pagelaran syukuran pun sudah mereka lakukan dengan mengundang anak yatim ke kediaman mereka. Cukup meriah mengingat itu adalah anak pertama sekaligus cucu pertama.


Perut Arumi semakin membuncit dan bobot tubuhnya tentu meningkat. Yah, Harun begitu memanjakan wanita cantik itu.


"Badanku tambah bengkak, yah, Bang?" Arumi menatap dirinya pada cermin dengan wajah yang memberenggut.


"Tapi Abang suka."


Arumi mendengus. Ia kemudian serong kanan dan serong kiri untuk lebih memastikan. "Abang lihat, nih ...," rengeknya.


Harun mencubit gemas pipi gembul wanita itu. Yah, istrinya memang semakin sensitif dan Harun mengerti. "Dek ... setiap hari Abang juga lihat."


"Huurfff ...." Arumi memutar bola mata jengah.


Seperti itulah perdebatan kecil yang mereka lalui. Masalah Arumi yang tak percaya diri dengan body. Pun sebaliknya, Harun yang tak menanggapi hal tersebut.


Harun lebih meluangkan waktu untuk Sang Istri. Melakukan setiap pemeriksaan bersama tanpa ada yang dilewatkan sesibuk apapun ia. Bahkan saat Si Jabang bayi mulai menendang perut wanita itu, dirinya lebih antusias dari Arumi. Mengajak bercengkrama dan membacakan do'a-do'a.


*****


Harun dan Arumi berencana membeli perlengkapan bayi hari ini. Mengingat kurang dari sebulan, mereka akan menyandang status sebagai orang tua.


Wanita hamil itu pun bersiap-siap dengan semangat prihal ini momen yang lama dinanti. Harun pun demikian, mengosongkan jadwal demi Sang Istri.


"Dek, kalau capek, bilang." Pria itu tak hentinya mewanti-wanti Arumi.


"Iya ... Suamiku Sayang ...."


Jika dihitung-hitung, mungkin sudah puluhan kali Harun mengucapkan kalimat yang sama. Pria itu lebih protektif.


"Yuk, berangkat!" ajak Arumi yang dibalas dengan anggukan pelan Harun.


Keduanya berjalan memasuki pusat perbelanjaan terbesar yang ada di kota tersebut. Tangan bergandengan erat yang enggan untuk melepaskan.


Mata Arumi berbinar kala melihat perlengkapan bayi yang terpampang di depan.


Arumi mengguncang lengan suaminya. "Bang, lihat tuh!" seraya menunjuk pakaian mungil yang terpajang. "Lucu banget ...," ucapnya dengan sumringah.


Harun hanya menggeleng dan tersenyum. "Sekarang pilih untuk baby ...."


Arumi pun segera melakukan aksinya diikuti Sang Suami dan seorang pramuniaga untuk menjelaskan. Mulai dari pakaian, peralatan mandi, peralatan tidur dan masih banyak lagi.


Harun ikut andil dalam pemilihan. Mereka begitu kompak. Tak ada yang terlewatkan oleh keduanya hingga kebutuhan tersebut pun telah siap.


Setelah selesai, mereka melakukan transaksi pembayaran dimana kesepakatan terjadi dengan pihak manajer bahwa barangnya akan dikirim langsung ke alamat rumah Harun dan Arumi.


Saat keduanya keluar dari tempat tersebut, tiba-tiba ...


"Hai ...."


Seorang pria berdiri tepat di depan pintu masuk. Dia memberikan senyum kaku kepada Harun maupun Arumi.


"Kalian juga di sini?" tanya Akmal.


"Iya. Kami berbelanja kebutuhan bayi kami." Harun merangkul dan memegangi perut Sang Istri.


Mata Akmal terpaku menatap perut buncit Arumi. Tiba-tiba kerongkongannya terasa kering bukan main. Begitu cepat keduanya diberi kepercayaan.


Dulu saja, selama pernikahan dengan wanita tersebut, mereka begitu menanti kehadiran makhluk namun tak kunjung juga. Hati Akmal seketika mencelos saat mengingatnya.


"Kamu? Untuk apa?" Harun membuyarkan pikiran.


Akmal menghela napas pelan, lalu mengalihkan kembali tatapannya. "A-aku ingin membeli sesuatu." Yah, kebutuhan putrinya.


Harun maupun Arumi mengangguk.


"S-selamat. Kalian beruntung." Kalimat itu keluar dari mulut Akmal.


"Semua orang beruntung. Tergantung bagaimana mensyukuri apa yang mereka dapatkan," imbuh Arumi.

__ADS_1


Apa yang diucapkan wanita itu menjadi cubitan keras untuk Akmal. Beberapa detik kemudian Akmal membalas dengan anggukan kecil. "Kamu sangat benar."


Harun menipiskan bibir. "Kalau begitu, kami pamit."


*****


Pasangan tersebut melanjutkan kegiatan mereka. Membeli perlengkapan melahirkan dan menyusui.


Namun perhatian Arumi terfokus pada sikap suaminya. Sedari tadi, Harun terdiam dan hanya menjawab, 'Iya, Dek' Atau 'Bagus, Dek'. Tak seantusias tadi.


Arumi tahu mengapa Harun demikian. Wanita itu mencoba menyinggung saat mereka selesai menyantap makan siang.


Arumi mengelus perutnya. "Baby-nya nendang. Mungkin tahu jika Ayahnya sedang cemburu."


Pria berparas tampan nan teduh itu hanya membalas dengan senyuman.


"Bang Harun."


Suara lembut menyapa membuat keduanya spontan berbalik. Seorang wanita cantik dan tinggi sedang berada di antara mereka.


"Titha ...."


Wanita yang disapa Thita mengangguk dan tersenyum manis. "Ternyata Abang juga di sini ...."


Tanpa disadari Arumi menatap tajam Harun. Tak ada keramahan yang terpancar.


Saat Titha hendak menyalami Harun, "Dia istriku," seraya mengarah ke Arumi.


Jemari wanita cantik itu terpaksa berbelok arah menuju depan Arumi. "Hai ... aku Titha."


Arumi berdiri diikuti oleh Harun yang merangkulnya. "Arumi," jawabnya singkat.


"Aku gak hadir di pernikahan Abang. Ada hal penting yang tidak bisa aku tinggalkan," jelas wanita itu.


"Insya Allah ... setelah istriku melahirkan nanti, kamu bisa datang," ucap Harun dengan semakin merapatkan rangkulan pada Arumi. "Ajak om dan Tante."


"Nanti disampaikan."


Wanita itu berpamitan meninggalkan mereka berdua.


*****


Perjalanan pulang, keduanya sama-sama terdiam. Hanya suara deru mesin yang terdengar menguasai. Namun seketika Harun mencoba memecahkan.


"Dek."


Arumi yang semula menatap ke luar jendela, mengalihkan pandangannya. "kenapa?" jawabnya tak bersemangat.


Harun menggeleng dan tersenyum.


Arumi menghela napas berat. "Iya. Dia ... cantik."


Satu kalimat membuat pria itu terhenyak. Dia tahu arah pembicaraan istrinya. Namun Harun memilih tak menjawab.


Arumi yang merasa diabaikan mulai memupuk cairan bening pada bola matanya. Dengan cepat ia berbalik dan mengusap.


Sekitar 15 menit mereka pun sampai. Tanpa aba-aba, Arumi langsung membuka pintu mobil dan keluar dari benda tersebut. Dia berjalan lebih dulu menuju kamar.


Harun menghembuskan napas lalu menyusul.


"Dek ...," panggilnya dengan lembut kala melihat wanita itu duduk di sofa kamar.


Harun ikut duduk di samping Arumi. Tangannya mengusap lembut perut buncit itu lalu berkata, "Sepertinya baby tahu kalau Bundanya lagi cemburu."


"Ayah mengabaikan kita ...," jawabnya dengan suara yang hampir tidak terdengar. Matanya kembali berair.


Harun menangkup kedua pipi istrinya. Dia mengecup kedua mata Arumi. "Abang minta maaf. Abang hanya ingin menjelaskan semua dengan tenang dan di tempat yang semestinya."


"Dia siapa? Aku tahu kalau Abang dekat dengannya."

__ADS_1


"Dia Titha. Anak sahabatnya ayah."


"Terus?"


"Terus Arumi istriku," seloroh Harun seraya mencuri kecupan di pipi.


"Abang, Ih ...." Arumi tampak kesal.


Harun tertawa. "Iya ... iya ... Abang lanjutin." Pria itu kembali ke mode serius. "Dulunya dia sering ke rumah ayah dan bunda sebelum melanjutkan studi ke luar."


"Dia suka sama Abang?"


Harun mengedikkan bahu. "Abang tidak tahu masalah itu."


"Dia cantik."


"Istriku lebih cantik."


"Atau mungkin dulunya Abang yang suka?" Arumi merongrong suaminya dengan pertanyaan.


"Abang tidak pernah memiliki perasaan lebih padanya."


"Tapi kalau dia suka Abang gimana?"


"Dek ... itu urusan dia. Abang hanya suka Arumi, Abang hanya ingin Arumi dan selamanya Arumi. Abang tak akan menyia-nyiakan hal yang sudah Abang perjuangkan."


Wanita itu menahan senyum. "Gombal!"


"Abang serius ...." Harun menarik wanita itu ke dalam dekapannya. "Jangan pernah berpikir macam-macam."


Arumi menelan saliva.


"Fokus dengan keluarga kita. Abang, kamu dan anak kita. Tidak ada yang lain."


Wanita cantik itu mengangguk dan menengadah. "Abang juga jangan berpikir macam-macam. Aku tahu, Abang tadi cemburu dengan Akmal."


"Seperti sebelumnya, Abang cemburu karena dia lebih dulu kau cinta dan kasihi. Selain itu, Abang yakin dengan istri Abang."


Arumi menghela napas lega dan menegakkan duduknya. "Baiklah Abang Harun-ku, Suamiku yang paling tampan dan tersayang ...."


Harun menaikkan alisnya dan tersenyum.


Arumi menyodorkan tangannya. "Mari saling menjaga kepercayaan."


Pria itu menyambut uluran tangan dan menggenggam dengan erat. "Mari saling menjaga kepercayaan."


.


.


.


.


.


Harun♥️Arumi


Halo readers tersayang. Semoga semua dalam kedaaan sehat wal afiat.


Terima kasih telah mendukung novel ini. Terima kasih telah setia membacanya sampai sekarang dan merelakan poinnya🙏🤗


Besok adalah episode TERAKHIR perjalanan cinta ARUMI, AKMAL DAN HARUN. Sehari lagi menuju finish😁


IG : asriainunhasyim


Salam


AAH♥️

__ADS_1


__ADS_2