
Arumi melihat pergerakan suaminya. Wanita itu masih berada di atas tempat tidur dengan tubuh yang terbungkus selimut. Pagi ini, Arumi betul-betul dilanda rasa malas untuk melakukan sesuatu.
"Abang mau ke kantor?"
Harun yang semula ingin mengenakan pakaian menatap Arumi dengan tatapan keheranan. Dari kemarin, Sang Istri tak henti bertingkah aneh.
"Iya, Dek. 'Kan belum libur."
Arumi memberenggut. "Aku sendiri, dong ...."
Harun menghentikan aktivitas kala mendengar keluhan Arumi. Ini pertama kalinya wanita itu mengatakan demikian setelah berpuluh hari mereka menjalani rumah tangga dengannya.
"Aku gak mau ditinggal sendiri ...." Arumi berucap dengan suara serak tanpa melepas kain tebal yang membalutnya. "Abang ...."
Harun tak berkedip melihat itu. Wajahnya semakin menunjukkan kebingungan yang jelas. Dia menelan ludah lalu memajukan langkah mendekati istrinya. Harun duduk di tepi tempat tidur.
"Kenapa, Sayang?" Jemarinya sudah mendarat pada pipi mulus wanita itu.
"Jangan pergi ... please ...." Matanya sudah memupuk cairan bening.
"Kamu gak enak badan? Atau ada yang sakit?" tanyanya khawatir. Harun memeriksa suhu tubuh Arumi namun normal. "Mana, Sayang?" Matanya menatap lekat Arumi.
Seketika wanita itu menggeleng pelan. "Aku ... gak mau jauh dari Abang ...."
Harun terlongo mendengar jawaban istrinya. Meski begitu entah mengapa hatinya menghangat.
Harun mengecup pucuk hidung Arumi. "Maunya bagaimana, Sayang?" bisik Harun.
"Abang di sini. Dekat aku ...." Matanya memancarkan harapan yang mendalam.
Sebenarnya Arumi juga tidak mengerti dengan sikapnya sekarang. Akan tetapi, itulah yang diinginkan. Tak mau jauh-jauh dari Sang Suami.
Harun mengangguk. "Baik. Abang tak akan kemana-mana."
Arumi mengeluarkan senyum manis.
*****
"Suami kamu tidak ke kantor, Mi?"
Panggilan video berlangsung. Bunda Ira menatap wajah putranya di balik layar sedangkan jarum jam berada di angka sembilan.
"Tidak, Bunda."
"Kenapa? Kamu sakit atau Harun?"
Arumi menggeleng. Dia menceritakan keinginannya yang tak mau berjauhan dari Harun. Pun dengan hal-hal aneh yang dialaminya.
Bunda Ira mencerna baik penuturan menantunya.
Jangan-jangan ....
"Mual gak?" tanya wanita paruh baya itu dengan antusias. "Pusing gak? Kapan terakhir kali kamu kedatangan tamu bulanan?" Berondong pertanyaan dari Bunda Ira.
Arumi dan Harun hanya saling berpandangan.
Namun seketika memfokuskan kembali matanya menuju ponsel.
"Aku tidak mual, Bunda. Tapi kadang pusing dan cepat lelah," jelas wanita itu. "Kalau kedatangan tamu, sih ...." Arumi mencoba mengingat jadwalnya. "Bulan ini belum dapat. Padahal tanggalnya sudah sangat lew-"
"Ya Allah!" pekik Bunda Ira. Spontan ia menutup mulutnya.
__ADS_1
"Kenapa Bunda?" Harun betul-betul tak paham arah pembicaraan mereka.
Jantung Arumi berdetak lebih cepat. Dia menelan ludah. "A-apakah?"
Apakah aku sedang ....
Bunda Ira mengatur perasaannya. "Oke, Nak. Ini baru dugaan. Kita harus buktikan secara langsung."
Arumi mengangguk pelan tanpa mengeluarkan suara sedikitpun. Sambungan telpon terputus. Dia meletakkan ponsel.
"Dek?" Harun memanggil Arumi.
Wanita itu berbalik menatap suaminya.
"Kenapa?" Harun mengalunkan lengannya pada pinggang Arumi.
"T-tidak." Arumi tak ingin mengatakan apapun dulu sebelum terbukti. Takut jika ujungnya adalah kekecewaan. Mengingat pernikahannya terdahulu.
"Tapi ta-"
"Bang ...," iba Arumi. Dia sama sekali belum mau membahas hal tersebut.
*****
"Ayah." Bunda Ira mendekati suaminya yang berada di teras rumah.
"Ada apa? Bahagia banget!" Ayah Kamil melihat ekspresi wajah istrinya yang berbinar.
Bunda Ira terkekeh. "Sudah siap jadi Kakek?"
Ayah Kamil menyipitkan mata. Dia mencerna baik-baik ucapan wanita di depannya. "Apakah istri Harun?"
Pria paruh bayah itu menerbitkan senyum. "Buktikan segera! InsyaAllah mereka diberi kepercayaan."
Bunda Ira mengangguk. "Aamiin. Nanti kita ke sana. Bunda ingin memastikan langsung."
Kedua paruh baya itu melanjutkan obrolan. Harapan demi harapan mereka lanturkan. Semoga Apa yang dipikirkan benar adanya.
*****
Pukul dua siang hari. Kedua paruh baya itu menyambangi rumah anaknya. Tak lupa Bunda Ira membeli alat yang akan dia gunakan.
3 bungkus dengan berbagai merk untuk lebih jelas.
"A**ssalamualaikum ...."
"Waalaikumussalam, Bunda ...." Arumi menghampiri dan langsung menyalami mertuanya.
"Suamimu mana, Nak?" tanya Bunda Ira dengan mengedarkan pandangan.
"Di dapur, Bunda. Dia lagi masak," cicit Arumi. Ada perasaan tidak enak setelah mengatakan.
"Masak apa?"
Ketiganya mendudukkan diri di ruang keluarga.
"Masak nasi goreng, Ayah. Aku ingin makan buatan Abang ...."
Ayah Kamil dan Bunda Ira hanya berpandangan dan saling melempar senyum.
"Dek." Harun keluar dari dapur dengan membawa nampan. Matanya tertuju pada paruh baya. "Ayah, Bunda."
__ADS_1
Harun meletakkan benda yang dipegang dan segera menyalami orang tuanya. Tak lupa pula menanyakan kabar keduanya.
Setelah itu, dia kembali mengalihkan fokus pada Sang Istri.
"Abang suapin."
Arumi menggeleng dengan cepat. Apa kata orang tua Harun melihatnya seperti itu?
"B-biar aku s-saja," jawabnya dengan gugup.
"Kan, maunya disuapin."
"Udah. Disuapin ajah! Ayah dan Bunda gak papa," seloroh Bunda Ira.
"Tapi, Bun-"
"Buruan! Nanti kita lanjut ngobrol lagi. Ayah sama Bunda mau ke belakang dulu. Mau lihat-lihat keadaan rumah kalian." Bunda Ira mencari alasan dan segera beranjak dari duduk bersama Ayah Kamil.
"Abang ...."
"Kenapa, Sayang?" Harun mengambil piring nasi goreng tersebut.
Arumi beringsut mendekat. "Emang gak apa-apa?"
"Ayah sama Bunda?" tebak Harun yang dibalas anggukan oleh Arumi.
Harun terkekeh. "Seribu persen, gak masalah." Pria itu mulai menyendok makanan lalu menodongkan ke depan istrinya.
Arumi tersipu. Dia menerima suapan dari Harun dengan hati gembira. "Mm ...."
"Enak?"
Arumi mengangguk antusias. "Lagi ...."
Dari jarak beberapa meter Bunda Ira dan Ayah Kamil melihat aktivitas anak dan menantunya.
*****
"A-aku takut, Bunda."
Bunda Ira dan Arumi berada di kamar. Sedangkan Ayah Kamil dan Harun sedang duduk bersantai di luar membahas masalah pekerjaan.
Wanita paruh baya itu telah mengeluarkan bungkusan tespek yang dibelinya di apotik. "Tidak apa-apa. Bagaimana pun hasilnya kita terima." Bunda Ira memegang pundak menantunya meyakinkan.
Arumi menghela napas.
.
.
.
.
.
Masih semangat?😁
Salam
AAH♥️
__ADS_1