TERGODA

TERGODA
S2. Tergoda 61


__ADS_3

Arumi menaiki taxi online yang telah dipesannya. Sesuai dengan niatannya semalam, wanita cantik itu akan mengunjungi mantan ibu mertua.


Mama Reni bertanya, namun Arumi hanya mengatakan bahwa dia akan mengunjungi temannya yang sedang sakit. Beruntung Mama Reni tak memperpanjang, jadi Arumi juga tak berlama-lama.


Jantungnya berdegup kencang. Perasannya sungguh tak enak memikirkan paruh baya itu. Buliran keringat dingin mulai membasahi pelipisnya akibat tegang yang menyerangnya.


Jemarinya saling bertautan satu sama lain.


Berulang kali dia menarik napas dan membuangnya untuk menenangkan diri, namun nihil, dia tak bisa.


*****


Sebagian tetangga yang dekat dengan ibu Susan menangis. Mereka tahu betapa malangnya nasib Ibu Susan.


"Apakah ada yang sudah menghubungi anak beliau?" tanya pria paruh baya.


"Ya. Sudah dihubungi sejak tadi," ucap salah satu wanita yang seumuran dengan Ibu Susan.


Lantunan ayat suci mendominasi ruangan itu. Sesepuh yang ada di kawasan tersebut membisikan kalimat tauhid di telinga Ibu Susan. Berulang kali membimbing wanita yang sudah tergeletak tak berdaya itu.


Napasnya semakin tersengal. Pandangannya mulai sayu.


"Ibu!" Seorang wanita yang tampak tak asing di mata orang-orang ada di ruang tersebut. Dia begitu histeris kala melihat keadaan Ibu Susan.


Yah, dia Arumi. Mantan menantu ibu Susan.


Arumi menutup mulutnya. Tubuhnya mulai gemetar menyaksikan wanita yang dulunya bugar dan ceria kini tampak sekarat di depannya.

__ADS_1


Ibu rindu, Nak.


Apa Arumi masih menjadi anak Ibu?


Berbahagialah selalu, Nak.


Kata demi kata tergiang-ngiang. Arumi masih ingat dengan begitu jelasnya saat wanita itu mengucap rindu kepadanya. Mengharapkan kebahagiaan lebih dari anak kandungnya sendiri.


Arumi berjalan pelan menuju tempat pembaringan Ibu Susan. "Ibu ...." Arumi memanggil wanita lemah itu dengan parau. Tangisnya pecah.


Dia bersimpuh di samping Ibu Susan. Memegang erat jemari wanita paruh baya itu. "I-ibu maafkan Arumi .... Hiks!"


Arumi berbicara berharap wanita paruh baya itu bangun dan membalas ucapannya. Namun semua tak sesuai dengan khayalan. Ibu Susan diambang kematian.


Arumi kembali memandang Ibu Susan dengan terpukul. "T-tolong ... bawa Ibuku ke rumah sakit ...." Arumi menatap disekelilingnya. Memohon dan mengiba.


Salah satu wanita yang seumuran dengan ibu Susan mendekati Arumi. "Bantu Ibumu pergi, Nak. Biarkan dia jalan dengan tenang." Dia mengusap lengan Arumi.


Satu kalimat itu semakin membuat Arumi terisak. Genggamannya semakin erat pada tangan hanya menyisakan tulang yang terbungkus dengan kulit rapuh.


Berulang kali wanita itu melafadzkan maaf dan maaf. Mencium tangan Ibu Susan dengan hati yang hancur. "Bu ...."


Suasana begitu mencekam.


1 detik


2 detik

__ADS_1


3 detik


4 detik


pada detik berikutnya Ibu Susan menghembuskan napas panjang. Sejurus dengan itu, jantungnya berhenti berdetak. Matanya tertutup. Seluruh tubuhnya telah terbujur kaku dan dingin. Wanita itu benar-benar pergi meninggalkan kehidupannya.


Semua kepunyaan Allah dan kepada Allah lah akan dikembalikan.


Arumi memeluk tubuh kurus yang telah menjadi mayat. "Ibu ... jangan tinggalkan Arumi ...."


Penyesalan terdalamnya adalah dia jarang mengunjungi wanita paruh baya itu. Benar, semua akan terasa jika telah tiada. Berandai-andai pun sudah tak ada gunanya.


Arumi berpikir jika ibu Susan akan baik-baik saja. Namun siapa sangka, jika Ibu Susan selama ini bertarung melawan penyakit.


.


.


.


.


.


Salam


AAH♥️

__ADS_1


__ADS_2