TERGODA

TERGODA
Tergoda 4


__ADS_3

Dalam perjalanan menuju rumah orang tuanya, dia terdiam. Kata-kata ibu mertua masih terngiang jelas dalam ingatan. Tentu hal ini menjadi beban tersendiri bagi Arumi. Dia harus memikirkan bagaimana cara membahagiakan bu Susan melalui kehadiran seorang cucu.


Dia memarkir kendaraannya depan rumah yang berukuran sedang, tersambung dengan sebuah toko sembako. Yah, itu rumah mamanya. Tempat dia dilahirkan dan dibesarkan.


Arumi turun dari kendaraan dan memasuki rumah tersebut. Dia mencari sosok yang dirindukannya selama ini.


"Ma ...."


Langkahnya terhenti ketika melewati ruang keluarga. Dia melihat sosok wanita paruh bayah yang tertidur dengan pulas. Seketika senyumnya pun mengembang.


Arumi mendekat dan berbaring di samping sang mama. Tangannya terulur untuk memeluk paruh baya tersebut. Matanya terpejam hingga akhirnya ikut tertidur.


*****


Akmal bersandar pada kursi dan meneguk air putihnya. Baru saja dia menyelesaikan makan siang bersama asisten.


Tok tok tok.


Terdengar suara pintu diketuk. Akmal mengalihkan fokusnya dan menyimpan gelas yang sudah tandas.


"Masuk!" instruksi Akmal.


Ceklek.


"Apa aku menganggu?"


Akmal tersenyum melihat siapa yang berkunjung. Seorang pemuda tampan nan tinggi, yang mungkin seumuran dengan Akmal. Memakai kemeja abu-abu dengan lengan yang tergulung sampai siku.


Akmal berdiri dan mengulurkan tangan yang disambut antusias oleh orang tersebut.


"Dari mana saja?" tanya Akmal seraya duduk di kursi, bersamaan dengan pemuda itu.


"Baru balik dari Malaysia. Lagi ngurusin bisnis di sana," jawab Harun.


Yah, mereka berdua adalah teman semasa SMA. Namun karena kesibukan masing-masing, sehingga mereka jarang bertemu. Keduanya adalah pengusaha. Walau Harun berasal dari keluarga yang berada.


"Dengar-dengar, kamu baru menikah?" Harun bertanya dengan nada mengintimidasi.


Akmal tersenyum dan membalasnya dengan anggukan.


"Undangannya, kok, gak ada?" Harun mencoba melayangkan protes kepada temannya.


"Kan, kamu baru balik kemarin."


Harun hanya menyengir mendengarnya. Memang benar, dia baru tiba di tanah air setelah 6 tahun tinggal di negeri orang.


"Terus, acara kamu kapan?" Akmal bertanya balik.


Harun mengangkat kedua bahunya. "Belum ada yang cocok."


Akmal tahu, sejak SMA temannya sangat sulit mencari pasangan. Bukan karena tidak ada yang mau, akan tetapi Harun tidak suka terburu-buru dalam urusan cinta. Ketika orang bertanya, pasti jawabannya selalu sama.


"Jangan kelamaan. Nanti kadaluwarsa ...."


Seketika tawa keduanya pecah. Membicarakan prihal cinta dan pasangan adalah hal yang lucu.


"Kapan-kapan ... kenalin aku dengan istrimu."

__ADS_1


Akmal mengangguk mantap. Memang sepanjang ini, semua teman dekat Akmal tahu mengenai hubungannya dengan Arumi. Kecuali Harun sendiri.


"Pasti! Aku bakal kenalin. Agar kamu termotivasi untuk segera mencari."


"Hahah ... do'akan sajalah."


Pada siang itu, kedua teman lama yang baru bertemu, menghabiskan waktu untuk berbincang mengenai dunia otomotif. Yah, wajar saja. Karena Akmal dan Harun mempunyai hobi yang sama.


*****


Mama Reni perlahan membuka matanya. Antara mimpi dan nyata Arumi sedang memeluknya dan tertidur. Dia berusaha mengembalikan kesadaran sepenuhnya agar dia mampu membuktikan bahwa hal itu benar adanya.


"Arumi ...." panggilnya dengan suara serak khas bangun tidur.


Suara itu menembus alam mimpi dan menyentuh kesadaran Arumi. Seketika wanita cantik itu menggeliat pelan dan semakin mengeratkan pelukan.


Mama Reni tersenyum. Dia tidak ingin mengganggu puteri yang telah nyenyak dalam peristirahatannya.


Dia membelai dengan sayang rambut Arumi. Yah, dia tak menyangka jika putri yang dulu di nina bobokkan dalam dekapan, kini telah menjadi tanggung jawab orang lain, yakni suaminya.


Namun sentuhan itu kembali menyentuh kesadaran Arumi. Dia membuka perlahan kelopak matanya dan bersuara, "Ma ...."


"Apa Mama mengganggumu, Nak?" tanya mamanya dengan rasa bersalah.


Arumi menggeleng pelan. "Tidak."


Dengan lembut, Mama Reni mencium pucuk kepala putrinya. Yah, semenjak ditinggal oleh suami, mama Reni memang memanjakan Anaknya. Namun Arumi tahu dengan usia. Bahwa dia tidak harus selalu bergantung dengan orang tua.


Arumi melepas pelukan dan merenggangkan otot-ototnya.


"Suamimu tidak ikut, Mi?" Mama Reni bertanya seraya bangkit dari pembaringan. Dia mengikat rambutnya yang sebagian mulai berubah warna menjadi putih.


Mama Reni mengangguk paham. Dia tahu seberapa sibuk suami dari Anaknya itu. Paruh bayah tersebut kemudian masuk ke dalam dapur dan mengambil sepiring kue.


"Mau coba masakan Mama yang baru?" Mama Reni meletakkan benda tersebut di samping putrinya yang berbaring.


Arumi bangkit melihat itu. "Arumi juga bawa kue kesukaan, Mama."


Mama Reni tersenyum. Dia tahu jika Anaknya tidak pernah absen untuk memberikan apa yang dia sukai, ketika berada di luar.


Mereka saling bertukar makanan dan menikmati pemberian satu sama lain.


*****


Sore hari, setelah puas berbincang dan melepas rindu dengan sang mama, Arumi pun kembali ke rumahnya. Dia harus segera tiba sebelum suaminya kembali dari bekerja.


Dia mandi dan merapikan diri dan menyiapkan makanan untuk sang suami.


Piipp.


Bunyi klakson pertanda yang ditunggu telah datang. Arumi segera membuka pintu dan menghampiri suaminya dengan senyuman.


"Capek, Mas?" tanya Arumi seraya mengambil alih tas kerja dari tangan Akmal.


"Sudah tidak lagi setelah melihat istriku."


Arumi hanya menggeleng dan mengikuti langkah suaminya masuk ke dalam rumah. Beruntunglah dia segera tiba sebelum suaminya datang.

__ADS_1


"Mau makan dulu atau mandi?"


Arumi membantu membuka dasi dan kemeja Akmal.


"Mandi dulu," jawab Akmal sekenanya.


Arumi mengangguk mendengar itu.


*****


Setelah semua selesai, mereka duduk bersantai di ruang keluarga. Keduanya saling bertukar cerita mengenai keseharian mereka. Tak terkecuali Arumi. Namun sesaat, kata-kata ibu mertua terlintas dengan jelas dalam ingatan, membuatnya terdiam.


"Kenapa?" Akmal melihat sikap Arumi tak segan untuk bertanya.


Arumi menghela napas panjang. "Tadi aku ke rumah ibu." Ada segurat keraguan terukir di mata indahnya.


"Apa ada yang ibu katakan?" tanyanya dengan nada mengintimidasi.


Arumi menatap Akmal dalam. "Ibu ...." kalimatnya terhenti. Dia menelan ludah.


Kebingungan pria itu semakin bertambah. "Ada apa dengan ibu?"


Arumi memejamkan mata. "Ibu ingin segera menimang cucu."


Tiba-tiba tawa Akmal pecah. Seakan apa yang dikatakan istrinya sangatlah lucu.


"Kok, ketawa, sih!" Arumi memukul pelan lengan suaminya.


"Ayo!" Ajak Akmal dengan Antusias.


Arumi mengerutkan kening. "Ayo apa?"


Akmal memperbaiki posisi duduknya. Dia menghadap sang istri. Kepalanya mendekat dan membisikkan sesuatu di telinga wanita cantik itu. "Buatin ibu cucu."


Mata Arumi melebar. Seketika jantungnya berdebar-debar. Pipinya merona merah karena malu. "T-tapi ...."


"Tidak ada tapi-tapian." Akmal berdiri dan membungkuk. Spontan pria itu meraup tubuh Arumi ke dalam gendongannya.


Arumi yang melihat perlakuan suaminya tak mampu berkata-kata. Dia menenggelamkan wajahnya di dada bidang Akmal.


.


.


.


.


.


Semangat keduanya😂


Terus dukung Arumi dengan meninggalkan jejak LIKE COMMENT RATE DAN VOTE 😉


Agar Author lebih semangat juga dalam melanjutkan kisah mereka berdua.


Salam

__ADS_1


AAH♥️


__ADS_2