TERGODA

TERGODA
Tergoda 19


__ADS_3

"Seandainya Arumi sepemikiran denganmu."


"Uhuk!" Debby tersendat mendengar ucapan Akmal. Dia segera menyimpan gelasnya dan bangkit dari duduk. Namun tiba-tiba kakinya tersandung di meja membuatnya jatuh terhuyung ke depan.


Buuuggh ....


Dengan sigap Akmal menimang dengan posisi wanita itu dalam dekapannya. Aroma parfum Akmal menyeruak keluar, begitu pun sebaliknya.


DEG!


Jantung Debby semakin berdetak hebat. Darahnya memanas hingga menciptakan semburat merah pada kulit wajahnya. Sejurus dari pada itu, telinganya juga menangkap dentuman jantung yang tak kala hebatnya.


Debby membuka mata yang semula terpejam. Spontan wanita itu menipiskan bibir dan menahan napas. Sedikit demi sedikit dia menengadah menatap paras tampan yang jaraknya hanya beberapa inci dari wajahnya. Bahkan wanita itu bisa merasakan hembusan napas Akmal.


Lama mereka menatap. Saling mengagumi paras satu sama lain. Tanpa sadar jemari Akmal merapikan rambut Debby dengan menyelipkan di belakang telinga wanita cantik itu.


"Hati-hati," bisik Akmal.


Akmal menegakkan posisi Debby. Bahkan membantu wanita itu duduk. Bagaimana tidak, Debby masih diam tidak percaya.


*****


Arumi kembali. Beruntung wanita itu tak melihat apa yang terjadi barusan sehingga salah paham pun tak tercipta. Sedangkan Debby mengatur perasaannya. Dia mengambil beberapa tissue dan mengelap keringat.


"AC kurang dingin yah, By?" tanya Arumi.


Mau tidak mau Debby hanya mengangguk. Dia tak mau kecurigaan Arumi bahwa keringat yang ditimbulkan bukanlah karena AC yang kurang dingin sehingga ruangan menjadi panas melainkan insiden menimpanya.


Arumi segera meraih remote AC dan menambah suhu dinginnya. Dia tak mau tamu merasa tak nyaman berada di rumahnya.


"Mi, bisa tunjukan toilet?" tanya Debby.


"Oh iya! Di samping dapur ada toilet," jelas Arumi.


Debby segera bangkit dari duduk dan berjalan menuju arah dapur. Kali ini dia sangat hati-hati. Tak mau kejadian itu terulang kembali, apalagi ada Arumi di tempat itu.


Sesampainya toilet, dia segera masuk dan menutup pintu. Dia menguncinya rapat dan menghembuskan napas kasar. Debby membasuh wajah dengan air dingin. Teringat kejadian tadi membuatnya salah tingkah. Dia tak tahu apakah harus bahagia atau malah sebaliknya.

__ADS_1


Bahkan aroma parfum Akmal masih melekat di tubuhnya. Dia memejamkan mata sesaat dan membukanya kembali.


Apakah harus milik orang lain?


Entahlah ....


Wanita itu menggeledah tasnya dan mengambil botol parfum. Dia menyemprotkan ke tubuhnya untuk menghilangkan bekas-bekas Akmal.


*****


Arumi bersandar di sofa. Dia menyandarkan kepalanya pada lengan Akmal. Namun tanpa sengaja, Arumi mengendus aroma parfum beda dari tubuh suaminya.


"Kok, ada aroma lain, yah?" tanya Arumi seraya menegakkan duduk.


Akmal menghentikan kunyahan. Dia tidak mau kesalah pahaman terjadi. Namun sejurus dengan itu, dia juga bingung mulai menceritakan dari mana.


Belum sempat dia berkata-kata suara kaki melangkah dengan jelas mendekat. Itu Debby. Bidadari penunggu kembali ke tempat semula.


Aroma parfum Debby


*****


Debby dan Arumi beripindah ke samping kolam berenang. Sedangkan Akmal memberikan ruang kepada 2 wanita yang seumuran itu untuk berbincang.


"Apa kamu sudah punya pacar, By?"


Masih banyak yang Arumi tidak tahu mengenai wanita di sampingnya. Termasuk kehidupan asmara.


Debby menggeleng. "Tidak ada. Aku malas pacaran. Aku ingin langsung menikah!" jawabnya diiringi tawa kecil.


Memang diusianya sekarang, dia tak mau lagi sekadar berpacaran. Dia ingin menikah dengan orang yang dicintai.


Sebenarnya banyak yang sudah mengajukan lamaran kepadanya. Tapi lagi-lagi, wanita itu tak ada rasa kepada mereka.


"Kamu cari yang bagaimana?"


"Yang penting aku mencintainya, Mi." Hanya satu kata namun punya makna yang dalam.

__ADS_1


Arumi mengangguk. "Aku dan Mas Akmal pacaran selama 3 tahun sebelum kami meresmikan hubungan," jelas Arumi. Dia mengenang kisah sebelum sampai ke titik ini.


Debby pernah mendengarnya dari Dini. Wanita itu sudah mengetahui. "Bukan waktu yang sebentar."


"Iya. Jalan kami tak mulus. Aku mendukungnya dan menemaninya dari nol," kata Arumi.


Bidadari penunggu itu menelan ludah. Mendengar perjuangan mereka berdua. Entah mengapa ada sepercik bersalah dalam hatinya. Yah, bersalah kalau diam-diam dia menyimpan rasa kepada Akmal. Namun lagi-lagi mengelak.


"Oh iya! Kamu belum ada tanda-tanda, Mi?" Wanita itu mencoba mengalihkan topik pembicaraan.


Arumi menggeleng. Raut wajahnya berubah sendu. "Belum." Meski usia pernikahannya terbilang masih muda, tapi dia sangat menginginkan.


"Beda-beda, yah! Ada yang baru sebulan tapi sudah berisi," ucap Debby.


Tanpa terasa matanya berkaca-kaca. Dirinya sangat sensitif membahas ini. Arumi mengingat keinginan mertuanya. Meski Akmal tak memaksakan, tapi ini perlu untuk lebih menguatkan hubungan mereka.


Secepat kilat Arumi menengadah untuk menahan agar tak sampai terjatuh. Dia tak mau memperlihatkan kepada Debby sisi kelemahan jika membahas prihal anak.


*****


Akmal duduk di ruang kerjanya. Dia mengingat kejadian tadi. Hampir Debby terjatuh jika ia tak cepat menimangnya.


Namun bukan itu yang membuatnya berpikir, tapi gerakan spontannya menyentuh rambut Debby dan merapikan.


Akmal juga mengendus aroma parfum wanita itu yang masih menempel padanya. Meninggalkan bayang akan rupa seorang Debby.


.


.


.


.


Salam


AAH♥️

__ADS_1


__ADS_2