TERGODA

TERGODA
S2. Tergoda 83


__ADS_3

Arumi


Aku menengadah, menahan deraian yang tak terkira. Menarik napas dan mengeluarkannya perlahan. Memantapkan hatiku lalu perlahan berbalik melihat pria yang masih berlutut di depan.


Akmal Anggara Dinata.


Dulu, kami saling mencintai. Aku memuja, menyerahkan seluruh jiwa ragaku untuknya. Memusatkan duniaku hanya padanya. Berharap kami menghabiskan waktu bersama. Saling mendukung satu sama lain.


Tapi takdir berkehendak lain. Semua berbalik.


Pengkhianatan yang diberikan dengan kejamnya kepadaku hingga menghadirkan seorang makhluk. Menodai janji yang diucapkan oleh lidah tak bertulang.


Mengucapkan pantang pernikahan dan memilih wanita itu. Wanita yang baru saja hadir di kehidupannya. Sedangkan aku, dia membuangku tanpa ampun. Menggulirkanku begitu saja.


Aku terluka.


Rasa yang kubangun, melibatkan kepercayaan seketika luntur tak bersisa. Hilang begitu saja dan terganti dengan kebencian.


Aku menanggung sakit yang tak terperi. Bongkahan batu menghimpit hingga bernapas pun begitu sulit.


Jika ada pilihan pada saat itu, aku akan memilih untuk beristirahat selamanya. Terkubur bersama dengan lukaku.


Namun orang-orang menyadarkan, jika dalam kehidupanku bukan hanya tentang dia. Dia bukan jodohku. Dia tak ditakdirkan untuk bersamaku. Pun dia tak tercipta untukku.


Aku menerima.


Dengan susah payah aku bangkit. Meski harus tertatih-tatih. Meninggalkan kenangan pahit yang masih terus membayangiku. Mengikuti setiap langkahku.


Bukan prihal mudah. Tapi aku terus mencoba. Menguatkan hatiku dan tidak ingin menerima cinta yang baru. Trauma membuatku enggan.


Lagi-lagi Yang Maha Kuasa membalikkan keadaan. Dalam perjalananku, seseorang datang. Mencoba menembus tembok kokoh yang kubangun. Aku mencoba menahannya dengan sekuat tenaga, tapi aku kalah.


Ahmad Harun Kamil.


Pria dengan kelembutan, kesabaran, keyakinan dan kegigihan serta do'anya berhasil membangun tempat dalam hatiku.


Mantapkan hatimu dalam do'a.


Ucapannya yang menuntun kami berdua menuju janji suci pernikahan. Sedikit lagi.


Hari ini, detik ini, masa laluku kembali datang. Membawa setumpuk penyesalan. Namun lambat. Tak ada yang bisa diperbaiki dari kepingan kaca yang telah hancur tak bersisa.


"Huuufff ...."


Aku menatapnya. Tapi air mataku tak bisa kuajak berkompromi barang sejenak saja. Rasa kasihan menggerogoti.


Kasihan melihat kondisinya yang kian terpuruk. Inilah balasan atas lukaku.


Dia kurus. Tubuhnya yang dulu gagah dengan balutan pakaian ber merk kini tak nampak lagi. Wajahnya bahkan tirus. Penampilannya kusut dan kuyu. Bahkan aku sulit percaya jika dia Akmal.


Tapi memang itulah kenyataan.


Aku mencoba menatap kedua bola mata yang penuh dengan penyesalan luar biasa. Mencari kebohongan atas kata-kata yang diucapkannya. Tapi tidak.


Tapi untuk apa? Semua sudah berlalu dan tak berguna sama sekali.


Kisahku dengan Akmal memang sudah lama berakhir.


*****


Akmal


Arumi adalah wanita yang menemaniku dari titik terendah hingga aku mencapai puncak kesuksesan dalam hidup.


Dia wanita hebat setelah ibuku. Dia wanita penyabar dan penuh kasih. Tutur katanya begitu lembut. Raut wajahnya yang bersinar, senyumannya yang indah membuatku selalu mabuk.


Aku sangat mencintainya.


Mempersunting dia sebagai istri. Itu hal yang paling bersejarah dalam hidupku.

__ADS_1


Hingga suatu saat, seorang wanita hadir diantara hubungan kami berdua. Hawa nafsuku menggiring ke dalam kenikmatan sesaat yang disuguhkan olehnya.


Aku TERGODA. Tanpa aku sadar mendorongku ke dalam kubang penyesalan terbesar yang tak berkesudahan.


Aku menodai janjiku. Melakukan hubungan terlarang. Mendatangkan badai dalam kehidupan kami berdua. Tak pernah kudapat kedamaian lagi. Bahkan ibuku ikut terseret dalam kebodohanku.


Arumi meninggalkanku, membuatku gila dan semakin terpuruk hingga kehilangan segalanya.


Aku tak bisa memaafkan diriku sendiri. Setiap saat aku berharap ada keajaiban untuk kami berdua. Aku ingin dia kembali padaku dan mendampingiku. Menjadi penopangku. Membersamaiku tak kenal lelah.


Apa aku punya kesempatan?


Apakah keadaan bisa kembali seperti semula?


Hanya Arumi yang kuinginkan.


Namun semua tak sejalan dengan takdir. Saat pertemuanku dengannya, dia telah bersama dengan calon suaminya. Yang tak lain adalah teman baikku.


Aku harap hanya mimpi.


Tapi tidak. Semua jelas di depan mata. Duniaku runtuh saat itu juga. Sakit tapi tak berdarah. Aku sadar, ini buah yang kupetik dari masa lalu yang kutanam.


Beginikah rasanya? Rasa yang pernah dialami oleh mantan istriku?


Aku berlutut mengemis maaf darinya. Memohon ampun atas apa yang pernah aku perbuat kepadanya.


Aku hancur tanpa Arumi.


Akmal bukan siapa-siapa tanpa Arumi.


*****


Keduanya bersitatap dalam keheningan membentang. Mengabaikan waktu yang terus bergerak berputar.


"Bukankah kamu sudah bahagia dengan pilihanmu?"


Satu kalimat berhasil menampar Akmal. Membuatnya telak dan tak tahu harus berkata apa.


Kalimat selanjutnya bagai sengatan listrik yang menjalar ke tubuhnya.


"Maafkan aku ...." suaranya kembali menyayat.


Arumi terdiam mendengar. Nalurinya sebagai wanita berkata bahwa kehidupan Akmal sekarang sudah tak sehat lagi.


"Aku benar-benar memohon maaf ...."


"Semua sudah tak berguna," sergahnya.


"Hukum aku ...."


Arumi dengan cepat menggeleng. "Itu bukan kuasaku untuk menghukummu."


"Aku pantas menerima hukuman darimu setelah yang kulakukan di masa lalu. Aku meny-"


"Cukup!" Arumi memotong ucapan pria di depannya.


Akmal bersusah payah menelan ludah.


"Sudah cukup Akmal."


Tak ada lagi panggilan 'Mas' seperti dahulu.


Membuatnya semakin sadar diri. Dia benar-benar telah kehilangan Arumi.


"Apa aku harus bersujud untuk memohon ...."


Arumi menggigit bibirnya mendengar. Kembali memandangi wajah kusut dan kuyu itu dengan perasaan kasihan.


"Pergilah." Arumi menghentikan kalimatnya sejenak lalu meneruskannya kembali, "Aku sudah bahagia bersamanya."

__ADS_1


DEG!


Bagai sebilah pedang yang mengoyaknya. Akmal benar-benar sudah tak memiliki tempat. Jauh, dirinya benar-benar sudah sangat jauh. Matanya kembali memanas.


"Tentang kita sudah lama usai. Aku sudah mengikhlaskanmu."


Akmal tersenyum getir. Ingin menertawakan dirinya sendiri yang masih menyimpan percaya diri.


Akmal lebih lega jika Arumi mengata-ngatainya daripada harus seperti ini.


Dari ucapannya, mungkin Arumi memberikan sedikit maaf. Harusnya dia bahagia mendengar hal tersebut. Tapi kenapa ini berbanding terbalik.


"Aku bersyukur, masa laluku yang kelam menuntun dan mempertemukanku dengan pria yang tepat."


Akmal mengangguk dengan kepala berat. Dia merasa kerdil. "Syukurlah ...." hanya itu yang lancar keluar dari mulut.


Arumi menghapus seluruh sisa air mata yang bersemayam di wajah cantiknya.


"Aku turut bahagia mendengar. D-dia beruntung."


Arumi kembali menggeleng. "Justru aku yang sangat beruntung mendapatkan Harun. Aku jatuh cinta dengan kepribadiannya. Semua yang ada pada dirinya." Arumi tersenyum kecil kala membahas calon suami.


Akmal memalingkan wajahnya. Melihat senyum mantan istrinya untuk pria lain, membuat hatinya semakin berdenyut hebat.


*****


"Berdirilah!"


Akmal dengan susah payah menopang tubuhnya yang semakin tidak bertenaga. hingga keduanya saling berdiri berhadapan.


Akmal menghela napas berat. "Aku ingin mengucapkan terima kasih."


Arumi tak bergeming.


"Terima kasih telah menjadi masa laluku yang paling indah," ucap Akmal dengan suara berat. "Aku tak akan pernah melupakanmu ... seumur hidupku."


Arumi memberikan waktu untuk pria itu berbicara.


"Terima kasih pernah menemaniku. Menyisihkan waktu dan separuh hidupmu untuk membersamaiku."


Akmal menghela napas. "Terimakasih juga ... telah mengajariku arti sebuah kesetiaan dalam hubungan. Arti kata bersabar dan ikhlas."


Arumi menelan saliva.


"Aku mendo'akanmu semoga kau selalu bahagia bersama dengannya."


Air mata keduanya kembali lolos. Suasana yang mencekam berubah menjadi haru yang tak terbendung.


Arumi mengangguk lemah. "Aku juga mendo'akanmu. Semoga kau bahagia."


Setiap orang punya kesempatan untuk berubah. Baik Akmal atau pun Arumi pada dasarnya ikut andil dalam perpisahan mereka.


"Datanglah ke pernikahanku."


Akmal mengangguk. "Aku akan mengusahakan."


.


.


.


.


.


Ig : asriainunhasyim


Salam

__ADS_1


AAH♥️


__ADS_2