TERGODA

TERGODA
S2. Tergoda 85


__ADS_3

Tinggal menghitung jam Arumi resmi dipersunting oleh Sang Kekasih. Rasanya bagaikan mimpi. Mimpi yang sama sekali tak dibayangkan sebelumnya.


Prosesi demi prosesi dilalui kedua calon mempelai menuju janji suci esok hari. Acara siraman. Dilakukan guna meluruhkan segala hal negatif serta membersihkan fisik dan mental calon pengantin sehingga memasuki gerbang pernikahan dalam keadaan suci.



Setelah selesai, dilanjut dengan acara pengajian. Yang dimulai dengan pembacaan ayat suci hingga acara sungkeman yang lagi-lagi dihiasi air mata (haru).



Bersimpuh dengan ikhlas di depan orang tua. Memohon maaf dengan sepenuh hati atas segala kekhilafan. Merangkai kata demi kata sebagai ungkapannya kepada Sang Mama.


Diharapakan agar perjalanan pernikahan yakni Harun dan Arumi senantiasa diridhai oleh Tuhan Yang Maha Esa. Karena sejatinya, restu orang tua adalah do'a terbaik agar kehidupan rumah tangga selalu dilimpahkan kebahagiaan.


*****


"Akhirnya ... Do'aku terkabul," seloroh Tika dengan memandang Arumi dengan pancaran syukur.


Arumi hanya tersipu malu mendengar.


Tika mendekati Arumi yang duduk di atas spring bed. "Kak, kita selfie, yuk!"


Kamera gadis hitam manis itu telah berada tepat di depan wajah mereka berdua. Puluhan foto telah terekam dalam ponsel tersebut dengan gaya yang sama. dan dalam hitungan menit telah muncul di feed instagram .


Setelah itu, satu persatu telah berdatangan meminta hal yang serupa. Tak terkecuali Nadini Andrea yang tak mau ketinggalan.


Antara Tika dan Dini mereka tak meninggalkan Arumi. Mereka bercerita tentang acara akad. Dengan topik yang berulang kali dibahas. Tak lain adalah busana.


"Setelah mendengar Kak Rumi mau tunangan apa lagi sama pak ganteng itu, Tika langsung gercep jahit baju," celoteh gadis manis itu yang disambut gelak tawa yang lain.


"Besok aku couple dengan Rama," imbuh Dini dengan wajah yang berseri.


"Wah! Keren, Kak Din!" Tika menaikkan jempolnya. "Andai Tika punya pasangan, pasti tuh, dibawa."


"Ya udah. Cari, gih!" ucap Arumi.


"Jomblo terlalu lama itu tak baik untuk kesehatan," goda Dini.


"Mau ... tapi kayak Pak Harun!"


Dini menoel hidung gadis manis itu. "Stok langka, Tika ...."


*****


"Bagaimana, Run. Qobulnya sudah dihafal?" pertanyaan yang tak pernah absen dari mulut keluarganya.


Harun tersenyum simpul mendengar. Ada perasaan membuncah mendengar kata itu, namun sulit untuk didefinisikan.

__ADS_1


"Harus! Kalau perlu, hanya satu tarikan napas," jawab Bunda Ira dengan semangat. "Sama seperti ayah-nya dulu." Bunda Ira mengingat pada saat dia berada di posisi Harun.


Jangan ditanya, semenjak lamaran, pria itu tak hentinya melafalkan janji suci tersebut. Tak mengenal waktu dan tempat. Terkadang setelah shalat malam, di kantor, saat mengemudi dan yang paling sering ketika Harun berada di depan cermin.


Kalimat yang terlihat mudah namun tak bisa disepelekan. Banyak orang ketika acara berlangsung saking gerogi tiba-tiba nge-blank. Akhirnya diulang kembali.


Membiasakan diri dengan berlatih akan lebih baik.


"Rileks, Nak!" saran Paman Harun. "Tenang dan jangan tergesa-gesa."


"Jawab dengan penuh keyakinan," imbuh yang lain.


"Fokus dan berdo'a yang paling penting." Ayah Kamil bersuara.


Harun mendengar dengan seksama tips-tips yang diberikan dari orang yang lebih berpengalaman. Dia hanya berharap bisa mengaplikasikan esok hari tanpa ada kendala.


Pukul sebelas malam, Harun kembali ke kamar beristirahat. Calon mempelai memang harus menjaga stamina agar tetap bugar ketika akad dan resepsi. Tentu akan menguras tenaga bukan main.


Namun matanya tak kunjung terpejam. Pria itu terus memandangi layar ponsel hendak menghubungi nomor seseorang. 'Sudah tidur, Dek?' Pesan terkirim.


Tak lama kemudian, terdengar notifikasi pesan masuk. 'Belum.'


Harun menekan ikon berwarna hijau. Akhirnya panggilan pun tersambung.


"Assalamualaikum."


Harun tersenyum simpul mendengar suara lembut Arumi yang sebentar lagi akan menghiasi gendang telinganya langsung saat dia membuka mata. Juga sebelum terlelap.


Tentu akan menjadi kebiasaan membahagiakan.


"Kok, belum tidur, Dek?"


"Abang juga belum tidur," balas Arumi.


"Heheh ... kepikiran besok."


"Sama, Abang ...."


Keduanya terdiam. Membiarkan waktu panggilan terus berjalan. Hingga salah satunya memecahkan.


"Abang."


"Ya, Dek."


"Mmm ... masih kayak mimpi," ucap wanita itu dengan menatap langit-langit kamarnya.


Harun tersenyum. "Insya Allah, besok jadi nyata."

__ADS_1


Arumi menyembunyikan wajahnya di bawah selimut yang memanas. Astaga! Mengapa setiap kata yang diucapkan Harun selalu memancing debaran jantung dan menciptakan semburat merah di kulitnya.


"Do'akan Abang, yah, Dek. Besok qobul-nya lancar," imbuh Harun dengan sungguh.


Arumi mengangguk meski Harun tak melihatnya. "Aamiin ... dilancarkan," yakin wanita cantik itu.


Kedua calon itu kembali terdiam, tenggelam dalam pikiran masing-masing. Namun sesaat kemudian, kembali bersuara.


"Jangan lupa minum vitamin." Harun mengingatkan Arumi dengan lembut.


"Abang juga."


Harun mengiyakan. "Sekarang tidurlah."


Arumi tak menjawab.


"Dek."


"Gak bisa ...." jawab wanita cantik itu dengan suara manja. Bibirnya memberenggut.


Harun terkekeh pelan. Pria tampan nan teduh itu menatap jam yang bertengger sempurna pada dinding kamar. "Tidurlah ... agar pagi cepat datang dan kita pun segera bertemu."


Arumi menipiskan bibir mendengar penuturan pria itu. Hatinya berbunga-bunga.


"Baiklah."


Ponsel masih dalam mode panggilan. Tak ada yang memutuskan.


"S-sampai bertemu besok Ahmad Harun Kamil." Arumi memejamkan matanya.


"Yah." Harun mengangguk. "Sampai bertemu dalam ikatan halal Arumi Anggun-ku."


"


.


.


.


.


.


Salam


AAH♥️

__ADS_1


__ADS_2