
JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK LIKE COMMENT RATE DAN VOTE 😉 AYO DUKUNG TERGODA DENGAN CARA TERSEBUT.
Ig : asriainunhasyim.
Selamat membaca 😘
.
.
.
.
"Menikahlah, Nak. Kamu butuh pendamping dan anakmu butuh sosok seorang ibu." Nenek Mira memberikan nasihat kepada Akmal. Dia menyambangi kediaman pria itu melihat keadaan bayi yang telah dianggapnya sebagai cucu.
Tangan Akmal bertautan dengan sang Putri. Dia mengehela napas berat. Pria itu mencerna kalimat orang di depannya. "Aku hanya menginginkan seseorang."
Seseorang yang dimaksud adalah mantan istrinya 'Arumi'. Sampai saat ini, dia masih berharap bisa dipersatukan kembali. Apakah dia egois? Tapi itulah yang diinginkan hatinya.
"Kita tidak tahu kapan istrimu akan sembuh. Bahkan bisa saja dia seperti itu sel-" Nenek Mira tidak melanjutkan kalimatnya. Rasanya terlalu pedih.
Akmal menggeleng. "Bukan." Pria itu mengingat segalanya tentang sosok tersebut. "Dia sangat cantik, Nek. Dia tulus, sabar dan penyayang. Aku belum pernah menemukan wanita seperti dia," ucap Akmal bernostalgia mengingat kenangan indahnya.
Nenek Mira mendengar dengan khusyuk ucapan pria tersebut. Yang ditangkap pikirannya adalah orang lain.
"Tapi sayang ... dulu aku menyia-nyiakannya, membandingkan dengan wanita lain hingga Menyakitinya. Itulah kebodohan yang sangat ku sesali." Suara Akmal mulai serak. Sorot matanya begitu rapuh.
"Jika memang begitu, cari dia. Minta maaf kepadanya. Katakan, jika dirimu menyesali segalanya dan mengharap dia kembali karena masih mencintainya."
"Apa dia akan memaafkanku?" Mengingat luka yang dia berikan cukup mendalam.
Nenek Mira menepuk pundak pria itu. "Tidak ada yang tidak mungkin. Niat kamu baik. Tapi ingat! Jangan menunda-nunda," tekan wanita tua itu.
Benar adanya apa yang ia ucapkan.
"Cobalah, Nak. Do'a Nenek menyertaimu."
Serasa mendapat angin segar. Tanpa menunggu lama, Akmal mengangguk. "Terima kasih, Nek. Aku akan segera menemuinya."
Arumi ....
*****
"Menikahlah denganku Arumi Anggun. Hapus dan lupakan masa lalumu. Terima aku dalam hidupmu. Jadikan aku satu-satunya pria yang kau kasihi."
DEG!
Wanita itu terpejam. Air lolos diantara pelupuk mata. Bibirnya bergetar. Hatinya melemah. Tangannya meremas pakaian yang ia kenakan.
Mendadak lidahnya keluh. Apakah dia hanya bermimpi? Apakah yang dia dengarkan hanya mimpi?
__ADS_1
Harun merasakan hal yang sama. Dia menahan napas mengucapkan. Hasrat suci yang ia lontarkan untuk wanita di depannya adalah keputusan yang bulat.
Mata indah itu terbuka. Wajah Harun adalah objek pengelihatannya yang terhalang oleh kabut. Ini adalah nyata. Pria itu nyata. Ungkapannya nyata.
Hening diantara mereka. Pandangan terkunci. Jantung keduanya berpacu dengan hebat.
Harun adalah pria yang baik. Kejujuran yang menjadi landasannya dalam berucap. Apa yang ia rasakan dan apa yang hatinya katakan akan diungkapkan dengan begitu beraninya.
Arumi adalah satu-satunya wanita mampu menggetarkan segumpal daging istimewa yang bersemayam dalam tubuhnya.
Sorot mata pria itu penuh harap. "Kumohon ...."
Tuhan, kabulkanlah harapanku.
Engkau Maha Tahu akan rasaku.
Buka mata hatinya hingga dia melihat keseriusanku.
Persatukan kami dalam ikatan suci dan jadikanlah kami pasangan yang Engkau ridhai.
Izinkan kami saling menyempurnakan satu sama lain.
Arumi masih bungkam. Dia melihat betapa tulus niat seorang Harun yang ingin mempersuntingnya sehingga dia menyebut nama Tuhan agar dia percaya.
Arumi menelan ludah.
1 detik
3 detik
4 detik
5 detik
"Harun ... a-ku tidak punya alasan ...."
Giliran pria itu memejamkan mata dan mengepalkan tangan. Harun mempersiapkan hati untuk mendengar ucapan Arumi. Entah akan dipatahkan atau ....
"Untuk menolak kesungguhanmu ...."
Dada pria itu bergemuruh hebat. Seakan waktu berhenti mendengar lanjutan kalimat wanita di depannya. Mata pria itu terbuka dengan perlahan.
Apakah itu artinya Arumi dambaannya menerima? Apakah dia rela menghabiskan sisa waktu untuk bersama? Menghapus jejak masa lalu dan menggantinya dengan masa depan dimana hanya ada nama mereka berdua?
Membangun lentera rumah tangga menuju jannah-Nya.
"Arumi ...." pria itu kembali melafadzkan lembut
nama wanita itu.
"Iya ...." Sang pemilik nama membalasnya dengan penuh perasaan.
__ADS_1
Mata pria itu memanas. Terharu, dia benar-benar terharu. "Benarkah? Engkau siap mendampingiku s-selama sisa napasku? Merawat anak-anak kita suatu saat nanti? Melewati suka duka bersama?"
Air mata Arumi semakin mengalir mendengar penuturan pria itu. Kata-kata yang tak manis namun memiliki makna yang mendalam. Seharusnya dia yang mengucapkan hal tersebut atas apa yang pernah dia alami.
Namun tidak! Semua berbalik.
Arumi menatap lamat pria itu sebelum akhirnya mengangguk sebagai jawaban 'Iya. Aku akan melakukan itu'
"Katakan iya, Arumi ...." Sekali lagi Harun ingin mendengarnya.
Tanpa mengalihkan tatapan. "I-iya."
Harun menengadah. Ingin rasanya dia sujud syukur saat ini juga jika saja bukan di tempat umum. Pria itu mengusap wajahnya dan mengucap syukur berkali-kali.
"Alhamdulillah ...."
Harun menyandarkan punggungnya yang mulanya tegang bukan main.
"Terima kasih atas jawaban indahmu. Bahkan sangat indah. Terima kasih untuk kata berhargamu. Terima kasih banyak." Harun tak tahu harus berkata apa lagi untuk menggambarkan betapa saat ini, dia sangat bahagia.
Arumi mengangguk dengan senyum tersungging di bibirnya. Wajah wanita itu merona merah. Dia menunduk.
Inilah jawaban dari pertanyaan Harun 'Mantapkan hatimu dalam do'a'.
"Maaf, aku bukan pria romantis yang menyiapkan cincin atau hadiah apapun itu sebelum melamarmu." Nada suaranya seakan menggambarkan penyesalan.
Seperti yang dilakukan pasangan lainnya. Melamar di tempat yang amat romantis dan menyematkan sebuah benda melingkar bertakhtakan berlian di jari manisnya.
Arumi dengan cepat menggeleng. "Aku tak butuh itu ...."
Memang. Dia tidak butuh hal itu, seperti lamaran sebelumnya. Kata-kata manis dan janji-janji yang membuat orang terlena. Arumi hanya ingin pria tersebut bertanggung jawab atas ucapannya.
"Calon suamimu ini sangat kaku. Maaf ...." Bukan karena tidak mampu, tapi memang Harun amatiran dalam hal tersebut.
Wajah wanita itu semakin menampakkan semburat merahnya. Calon suami? Bahkan membayangkan saja sudah membuatnya malu bukan main.
"A-aku tidak b-butuh, kok." Arumi meremas jemarinya satu sama lain.
Harun tertawa pelan hingga menampakkan wajahnya semakin teduh. Binar jelas terpancar. Namun sejurus dengan itu, dia mengusap sudut matanya yang berair. "Calon istriku."
.
.
.
.
.
Mohon maaf berapa hari ini tidak update. Otor lagi ***** 😂.
__ADS_1
Salam AAH♥️