
Akmal memandangi istrinya yang belum sadarkan diri. Dia menggenggam jemari wanita itu. Terbayang dengan jelas bagaimana tawanya kala Akmal menggoda. Namun dia telah berkhianat di belakangnya. Melakukan hubungan terlarang dengan teman baik Arumi.
Satu hal yang perlu dipahami, tak ada yang bisa menjamin ucapan seseorang. Hari ini mungkin dia mengatakan A, tapi besoknya bisa saja berubah. Waktu, situasi dan kondisi yang membuatnya demikian. Yah, tak terkecuali Akmal sendiri.
******
Arumi telah dipindahkan ke ruang perawatan. Tiga jam sudah pria itu menunggu. Pandangannya tak pernah lepas dari Arumi.
Namun tiba-tiba jemarinya mulai bergerak pertanda kesadaran sedikit demi sedikit menghampiri wanita itu.
Akmal tersenyum. "Arumi Sayang, kamu sudah bangun."
Arumi membuka mata. Pupil menyesuaikan cahaya yang masuk. Pandangannya langsung tertuju pada Sang Suami. "M-mas Akmal ...." Wanita itu memanggil suaminya dengan suara yang amat parau.
"I-iya, Sayang." Akmal mengecup jemari wanita itu. Dia semakin mendekatkan kepala dengan Arumi. "Mas, di sini, Sayang."
Arumi mengingat kejadian semalam. Matanya mulai berkaca-kaca. "M-mas semalam k-kemana?" Dia begitu ketakutan dengan mimpi yang dialaminya.
Akmal terdiam. Dia tak tahu harus menjawab apa. Akmal tak mungkin mengakui perlakuan bejatnya di depan Arumi yang terbaring lemah. Pria itu hanya mampu memejamkan mata.
"Mas, a-aku mimpi b-buruk ...." Air yang ditahannya kini mengalir membasahi pelipisnya.
Akmal yang melihat langsung memeluk wanita itu. Pria tersebut pun ikut menangisi rasa bersalahnya yang amat sangat. "A-aku ... takut, Mas ...."
Akmal menggeleng pelan. "Arumi, Sayang ... Mas, di sini. Jangan takut." Akmal kembali mengecupi seluruh bagian wajah istrinya, lama.
*****
__ADS_1
Kedua paru bayah memasuki ruangan. Yah, itu adalah ibu Akmal dan mama dari Arumi. Keduanya dipenuhi kekhawatiran.
"Akmal, kamu apakan menantuku?" Ibu Susan berjalan mendekati menantunya. "Ya ampun, Nak!"
"Kenapa bisa seperti ini, Nak?" Mama Reni melihat keadaan putrinya, meneteskan air mata.
Akmal semakin bersalah. Melihat kedua paruh baya itu rasanya ia tak sanggup. Dia mundur ke belakang memberikan ruang kepada mereka bertiga. Dia menghela napas berkali-kali.
"Ibu dan Mama, tidak perlu khawatir. Arumi baik-baik saja ...." Dengan suara lemah Arumi menenangkan dua paruh baya tersebut. Dia tak mau mereka khawatir dengan keadaannya.
Keduanya melihat kaki wanita itu diperban. "Bagaimana bisa begini, Nak?" Mama Reni meminta penjelasan kepada anaknya.
"I-ini kesalahan Arumi s-sendiri. Ma-ma tahu kan, Anak Mama ini ... ceroboh." Arumi menelan ludah setelah menjelaskan. Wanita itu tidak mau menceritakan segalanya. Dia tak mau membuat orang lain merasa resah.
Ibu Susan mengusap kepala menantunya dengan sayang. "Lain kali berhati-hati, Nak." Nasihat ibu Susan.
Akmal yang melihat, matanya kembali berkaca-kaca. Betapa istrinya menyembunyikan semua dari orang tuanya. Tak sekalipun Arumi memberi tahu kalau Akmal tak ada di rumah.
*****
"Lebih baik kamu pulang, Mal. Lihatlah penampilanmu berantakan. Setelah bersih kamu bisa kembali lagi." Ibu Susan melihat penampilan anaknya dan memberikan saran. Noda Darah, baju yang robek serta rambut yang acak-acakan.
"Biar kami yang menjaga istrimu, Nak," imbuh Mama Reni.
Akmal mengangguk pasrah. Namun sebelum pulang, ia mendekati Arumi dan mengecup keningnya. Kedua orang tua itu tersenyum. Dia melihat betapa sayangnya Akmal terhadap istrinya.
"Aku titip Arumi," ucap pria itu yang disambut anggukan oleh yang lain. Akmal melangkah keluar. Dia kembali ke rumahnya. Pikiran dan hatinya betul-betul tidak tenang.
__ADS_1
******
Sesampainya di rumah, Akmal melihat kekacauan. Darah yang sudah mengering berserakan. Itu adalah jejak atau bukti bahwa betapa istrinya mencari. Dadanya sesak. Pria itu hanya mampu menghela napas.
Akmal memasuki kamar. Dia melihat bingkai fotonya bersama Arumi pecah. Dia mengambil foto tersebut, memisahkan dengan beling.
Dia menatap dengan nanar. Mengusap benda tersebut dan menyimpannya di tempat yang paling aman. Sebelum mandi, pria itu membersihkan rumahnya. Tak mau orang-orang melihat kekacauan tersebut.
Hampir 2 jam dia membersihkan penuh kesabaran hingga selesai. Kemudian Akmal mengambil air dalam wadah dan keluar teras. Dia menyiram bunga kesayangan Arumi serta membersihkan pinggiran potnya.
Akmal kembali menatap mawar itu. Bunga yang menjadi saksi cinta dengan wanitanya. "Arumi sakit. Kasihan ... kakinya terluka karena aku."
Akmal berbicara sendiri. Seakan menunggu balasan dari bunga tersebut namun tak kunjung jua.
Akmal memegang mawar tersebut yang mengeluarkan aroma menenangkan. Sesaat kemudian, dia beranjak masuk. Pria itu mandi. Akmal membersihkan seluruh tubuhnya dengan air dingin. Cukup lama tak ada satupun yang dilewatkan.
.
.
.
.
.
Walau kadang hati bertanya, mungkinkah kau dan aku. Namun bunga cinta di dada telah bersemi dan tumbuh. Kasih jangan buat hatiku ... patah jadi dua ~ PATAH JADI DUA
__ADS_1
salam
AAH ♥️