
Pukul empat subuh, Harun perlahan membuka mata. Fokus utamanya adalah seorang wanita yang berada dalam dekapan. Wajah Arumi tenggelam dalam dada bidang pria itu.
Seulas senyum tersungging di bibirnya.
Harun semakin mengeratkan pelukan seolah enggan melepas. Mengingat memori indah beberapa jam yang lalu, membuat hatinya menghangat.
Harun membelai lembut kepala Arumi lalu mendaratkan sebuah kecupan di pucuk kepala Sang Istri.
Arumi menggeliat namun bukan untuk bangun, tapi semakin menempel dan mengeratkan tangannya.
"Dek ...," bisik pria itu dengan halus.
"Hmm ...." Arumi merespon dengan gumaman.
Sebenarnya dia tak ingin mengganggu. Tapi ada hal yang wajib diselesaikan terlebih dahulu.
"Kita jama'ah ...," ajaknya dengan jemari tak hentinya menari dengan lembut di atas kepala maupun wajah Arumi.
"Capek ...," ucap wanitanya dengan suara serak nan manja. Bahkan hampir tak terdengar.
Harun tertawa pelan mendengar. Dengan gemas kembali mendaratkan bibir pada kening Arumi berkali-kali.
Wanita cantik itu terkekeh dan mengangkat wajah. Kelopak matanya terbuka sempurna. Spontan dia berucap, "Lagi ...," manjanya.
Hal tersebut memancing dan mendorong Harun untuk melakukan yang lebih. Tanpa menunggu lama, Harun menyatukan wajahnya dengan Arumi. Mengeksplor rasa cinta yang meletup-letup di dalam dada keduanya.
Menyusuri dan mengabsen apa yang ada pada Arumi. Saling memberikan dan menerima dengan sepenuh hati. Menghempaskan sejauh-jauhnya rasa yang mungkin saja menghalangi.
Saat terlepas, mereka menarik napas dan menghembuskan perlahan.
"Sayang ...," ungkap Arumi dengan volume suara teramat kecil membuat Harun tersenyum bahagia.
Mereka masih ingin berleha-leha. Akan tetapi, waktu tak dapat ditahan.
"Sekarang mandi, yah," ucap Harun.
"Abang duluan .... badanku masih sakit."
"Abang gendong ... nanti Abang bantu."
Pipi Arumi merona.
Harun terkekeh dan bangkit. "Sini ..."
*****
Keduanya mengerjakan ibadah bersama dipimpin oleh Harun sebagai kepala rumah tangga. Mendengungkan ayat-ayat suci dengan suara yang begitu menenangkan dan menyentuh.
Ada rasa bangga dan syukur mendengar itu. Sesuatu yang tidak ia dapatkan pada pernikahannya terdahulu.
Salam penutup, dzikir dan do'a.
Keduanya menadahkan tangan. Meminta keselamatan, ketentraman dan kebahagiaan dunia akhirat untuk rumah tangganya.
"Alhamdulillah ...."
Harun berbalik dan Arumi maju menggapai tangan pria itu. Menciuminya dengan penuh bakti dan kasih.
Harun memegang kedua sisi wajah Arumi dan memandangnya lekat dan dalam. Wanita yang telah menjadi bagian dari napasnya.
Wanita yang membuatnya TERGODA pada sikap dan tingkah lakunya. Sungguh perjuangan dan kesabaran kedua insan tersebut berbuah manis.
__ADS_1
"Abang sampai kapan lihatin terus?" seloroh wanita itu dengan tersipu.
Harun tersenyum. "Suka."
"Ih, gombal!"
Harun tertawa. "Abang jujur, yah."
"Iya ... iya ... percaya."
Mereka sama-sama terdiam lalu memecahkan. "Sepulang dari sini, kita langsung ke rumah." Tempat tinggal yang memang sudah disiapkan oleh Harun.
Arumi menengadah. "Barang aku gimana? Barang Abang juga?"
"Sudah ada di sana, Sayang."
Arumi mengerutkan kening. "Siapa yang mindahin?"
"Abang sudah siapin."
Arumi paham maksud suaminya. Dia hanya mengangguk. Lagi pula, busana muslimnya juga masih sangat kurang. "Syukurlah."
Keduanya bangkit dan merapikan barang-barang. Termasuk pakaian semalam yang masih tercecer. Ah! Membuat keduanya menggeleng.
*****
Saat mereka memasuki gerbang, seluruh keluarga lebih dulu tiba. Rumah dua tingkat didominasi warna abu-abu. Cukup besar dengan pekarangan luas dan asri.
Harun tak pernah melepas genggamannya saat turun dari mobil dan memasuki kediamannya.
"Assalamualaikum ...." salam mereka bersamaan.
"Selamat datang pengantin baru ...." Bunda Ira menyambutnya dengan antusias.
Harun dan Arumi hanya mampu tersenyum malu saat Bunda Ira memeluk menantu kesayangannya.
"Waduh! Bersinar bener wajahnya," goda Ayah Kamil.
"Maklumlah ...," imbuh Mama Reni.
"Harun ... Arumi tak akan kemana-mana ... lepasin dulu dong!" seloroh Bibi Arumi.
Harun terkekeh dan menggeleng pelan. Pria itu melepas genggaman dan membiarkan Arumi berbaur dengan yang lain. Sementara ia, mendekat kepada Ayahnya.
"Fanny tidak ikut, Yah?" tanya Harun yang tak melihat batang hidung adiknya.
"Sibuk skripsi."
Harun hanya manggut-manggut mendengarnya.
"Bagaimana, Nak? Sukses?" Ayah Kamil mengedipkan satu matanya.
"Alhamdulillah, Ayah," jawabnya dengan tersipu.
"Hebat putraku!" Pria paruh baya itu menepuk pundak Harun.
*****
"Nak Arumi ... suamimu itu orang yang tak pernah mau menyusahkan. Simpel dan jujur apa adanya." Bunda Ira memberikan informasi terkait putra semata wayangnya. "Harun adalah pria yang bertanggung jawab, Nak. Bunda yakin padanya."
Arumi tersenyum penuh syukur. Sesekali bola matanya melirik pria yang sedang asyik bercengkrama dengan Ayah Kamil. "Arumi juga merasa begitu, Bunda ...."
__ADS_1
"Semoga pernikahan kalian selalu dilimpahkan kebahagiaan," harap Mama Reni.
"Aamiin ...."
"Oh iya! Sekarang kita makan dulu. Bunda dan Mamamu sudah masak banyak."
Semuanya berpindah ke meja makan untuk menyantap hidangan yang telah disediakan. Harun dan Arumi mengambil posisi berdekatan tentunya.
Dengan sigap, Arumi meraih piring Harun dan mengisinya makanan. Melayani pria itu dengan sebaik-baiknya.
Tanpa mereka sadari, semua mata tertuju pada aktivitas keduanya.
"Khm! Saingan Bunda," goda wanita paruh baya itu yang disambut gelak tawa yang lain.
*****
Lama keluarga tersebut berkumpul dan bercerita banyak hal hingga sore pun tiba. Mereka bersiap-siap untuk pulang.
Harun dan Arumi mencoba menahan untuk menginap, akan tetapi mereka menolak dengan dalih tak ingin mengganggu masa adaptasi pengantin baru.
Mau tak mau mereka melepasnya.
Tersisa mereka berdua.
"Ke kamar, yuk!" ajak Harun.
Arumi mengangguk dan menggandeng lengan pria itu.
Sesampainya di kamar, Harun segera merebahkan tubuhnya dan menarik Sang Istri untuk ikut berbaring di samping.
"Suka gak sama rumahnya?" tanya Harun seraya mendekap sang istri.
"Suka banget," jujur Arumi.
"Sayangnya sepi. Nanti kalau Abang ada perjalanan bisnis kamu gak ada teman. Padahal perginya kadang lama."
Arumi menggeleng. "Aku ikut!"
Harun mengusap pipi istrinya. "Emang gak masalah?"
Arumi memundurkan kepala. Bola matanya seketika berkaca-kaca. Entah mengapa hal tersebut membuatnya melow. "Yang masalah kalau Abang tinggalkan aku sendiri ...."
"Hei ... kok, nangis, Sayang." Harun segera mengusap kedua mata Arumi dan memeluknya. Arumi pun mengeratkan tangan.
"Maaf kalau Abang salah bicara," ucapnya dengan rasa bersalah. "Kalau memang mau ikut, Abang lebih senang. Lagi pula, Abang tidak yakin bisa jauh," tutur pria itu dengan lembut. "Kita sama-sama," yakinnya.
"Sayang ...," gumam Arumi namun masih terdengar oleh pria itu.
.
.
.
.
.
Salam
AAH♥️
__ADS_1