
"Arumi orangnya ramah banget, yah, Din. Aku senang berkenalan dengannya."
Diperjalanan pulang, Debby tak henti-hentinya memuji Arumi. Dia kagum dengan wanita yang baru dia kenalnya beberapa jam lalu. Dia melihat Arumi sosok yang sangat baik.
Dini tersenyum. "Aku dan dia telah bersahabat semenjak SMA."
"Oh ya?!"
Dini mengangguk. Dia menjelaskan persahabatannya dengan Arumi. Dia juga menceritakan bagaimana sifat seorang Arumi Anggun sehingga ia menganggapnya seperti saudara.
Disela-sela ingatan Debby tentang wanita anggun itu, terlintas sosok berparas tampan dengan tubuh yang tinggi. Orang tersebut tak lain adalah Akmal Anggara Dinata, suami dari Arumi.
Debby menggigit bibirnya. Wajahnya merona karena mengingat kejadian demi kejadian yang menimpanya namun melibatkan pria tersebut.
"Dini."
Dini yang mendengar namanya dipanggil menoleh. "Ada apa?"
Debby ingin mempertanyakan tentang pria tersebut. Dia penasaran dengan Akmal. Kesan yang ditinggalkan pria itu sungguh membekas dalam benaknya.
"Tadi ... suami Arumi siapa namanya?" Debby pura-pura lupa nama pria tersebut. Itu hanya pengantar untuk pertanyaan lebih lanjut.
"Oh, Mas Akmal," jawab Dini sekenanya.
"Hubungan mereka sudah lama, Din?" Debby sedikit deg-degan.
Dini tak langsung menjawab. Dia menoleh kembali melihat wanita di sampingnya. Yang dilihat pun hanya mampu menelan ludah.
"Mereka berpacaran selama 3 tahun dan 2 bulan lalu mereka telah meresmikan hubungan."
Debby yang mendengar itu hanya mengangguk. Dia menarik kesimpulan, kalau hubungan Akmal dan Arumi kuat. Dia juga melihat bagaimana Akmal memperlakukan Arumi dengan manis.
"Mereka terkadang membuat orang lain iri. Tak terkecuali diriku sendiri." Bagaimana tidak, Dini memikirkan hubungannya yang tandas. Hubungan yang dia harap akan berlanjut kejenjang lebih serius harus berakhir dengan cara menyakitkan.
Debby mengerutkan kening. "Maksudnya?"
__ADS_1
Tawa kecil menghiasi wajah Nadini Andrea. "Apa kau tak melihat betapa kuat hubungan mereka?"
Debby mengangguk. Pemikirannya dan Dini sama. Keduanya melihat Akmal dan Arumi sebagai pasangan yang penuh dengan ketulusan. "Tak memberikan cela kepada orang lain." Debby menatap kosong di depannya.
*****
Arumi berbaring. Hari ini benar-benar melelahkan. Namun terselip rasa puas dalam hatinya. Melakukan kencan dengan Akmal dan bertemu sahabat serta rekan baru.
"Mas, Debby orangnya manis, yah?"
Arumi berbicara seraya membayangkan orang yang baru dikenalnya beberapa jam yang lalu.
Akmal pun ikut merebahkan diri di samping istrinya. "Iya," jawabnya. Pria itu tak menceritakan kejadian yang dialami bersama dengan Debby. Lagi-lagi alasannya tidaklah penting.
"Aku senang jikalau mereka berdua sering-sering berkunjung ke rumah ini. Yah, itu juga sebagai hiburanku."
Akmal menoleh menatap wanita di sampingnya. "Apa selama ini, kamu merasa sangat kesepian?"
Arumi mengangguk. "Yah, tapi itu resikoku, Mas, sebagai ibu rumah tangga." Sejujurnya Arumi tak terlalu mempermasalahkan hal tersebut. Namun berbanding terbalik dengan Akmal. Pria itu merasa bersalah kepada istrinya.
"Ikutlah denganku, Arumi. Kemanapun, Mas pergi," ucapnya dengan serius.
Akmal mengangguk. Dia ingin istrinya selalu ikut bersamanya. Entah ke kantor terlebih ketika dia melakukan perjalanan bisnis.
Spontan mata Arumi membulat. Tiba-tiba dia tertawa. "Ih lebay! Masa aku ikut ke kantor, sih!" Dia tak menyangka ide yang diberikan suaminya. Meskipun dirinya kesepian di rumah, tapi tak harus ikut juga ke kantor.
"Ayolah, Sayang ...." Akmal mengiba.
"Tidak, yah, Mas. Apa kata karyawan nanti. Ini terkesan sangat berlebihan." Arumi hanya menggeleng.
"Terus?"
"Terus apa, Mas?" Arumi menarik hidung suaminya. Merasa gemas dengan pria di samping.
Tiba-tiba Akmal menahan tangan Arumi. Dia mengecup sayang jemari lentik istrinya. "Aku mencintaimu, Arumi Anggun." Akmal lagi-lagi mengungkapkan perasaannya. Betapa kasihnya sangat besar kepada wanita itu.
__ADS_1
"Aku juga sangat mencintaimu, priaku, imamku, Akmal Anggara Dinata," ungkapnya dengan sepenuh hati.
Keduanya merasa sangat beruntung dan bersyukur bisa memiliki satu sama lain. Mereka berharap kebahagiaannya akan bertahan lama.
*****
Keesokan paginya, Debby dan Dini bersiap-siap ke kantor. Mereka berdandan dan memakai pakaian kerjanya.
"Bagaimana kalau habis dari kantor ... kita ke rumah Arumi," usul Debby. Wanita itu merapikan rambutnya di depan cermin.
"Boleh! Lagian aku juga tak terlalu sibuk nanti."
Kedua wanita itu bersepakat akan mengunjungi temannya. Baru semalam mereka bertemu, tapi rasa ingin berjumpa selalu ada.
******
Akmal tiba di kantor. Dia langsung menuju meja kerjanya dan melanjutkan pekerjaan yang tertunda akibat cuti yang diambilnya kemarin.
Dia melihat peningkatan penjualannya bulan ini. Betapa besar minat masyarakat terhadap mobil dan motor seken. Yah, tak salah Akmal memilih bisnis tersebut. Perusahaan dagang yang ia bangun, kini berkembang pesat.
"Maaf, Pak, mengenai mobil hitam yang bapak inginkan, saya sudah mengurus administrasinya. Bapak ingin diantarkan atau menjemputnya sendiri?" Asisten Rian memberi tahu Akmal prihal kendaraan yang dipilihnya pada saat pameran. Meskipun dia sudah tahu jawabannya.
"Oke! Saya sendiri yang akan menjemputnya." Mengingat si hitam yang membuatnya jatuh hati, Akmal ingin mengendarai sendiri mobil tersebut.
"Baik, Pak!"
.
.
.
.
.
__ADS_1
Salam
AAH♥️