
Sesampainya di rumah, Arumi ikut bergabung dengan sang Mama yang ada di ruang keluarga. Dia menghela napas dan menyandarkan kepalanya pada pundak ternyamannya.
"Bagaimana penjualanmu, Mi?" Mama Reni membuka percakapan antara mereka.
Arumi memejamkan mata namun tak tidur. "Alhamdulillah, Ma."
Kata itu membuat mama Reni menyimpulkan bahwa sesungguhnya dagangan Arumi laris manis. Senyum simpul terbit dari bibirnya. "Baguslah."
Selama ini dia sangat bersyukur melihat peningkatan yang terjadi pada hidup anaknya setelah bercerai dari mantan suaminya. Ini sudah ribuan hari setelah duka itu.
"Arumi."
Sang pemilik nama pun dipanggil langsung mengiyakan.
"Apakah ... ada niatanmu untuk menikah lagi, Nak?"
Arumi yang mendengar itu spontan membuka matanya. Dia mengangkat kepala dari pundak ternyamannya.
"Ma ... bisakah kita tidak membahas masalah itu?" Arumi mengiba kepada wanita yang telah melahirkannya.
Mama Reni meraih jemari Arumi dan menggenggamnya. Bukan dia tidak mengerti perasaan putrinya, akan tetapi dia hanya tidak ingin Arumi terkungkung dalam trauma dengan rumah tangganya terdahulu. Sebagai seorang ibu dia tentu tahu apa yang terbaik untuk anak semata wayangnya.
"Nak, Mama Hanya yang terbaik untukmu. Lagi pula, apa salahnya jika kamu mulai membuka hati," jelas Mama Reni.
Arumi mendengus.
"Cobalah, Nak," bujuk mama Reni. Dia juga tahu banyak pria yang mendekati putrinya.
__ADS_1
Arumi melepas genggaman sang mama. Dia memijat pangkal hidungnya. "Arumi pusing." Saat wanita cantik itu menghentikan aktifitasnya, dia segera bangkit dari duduk. "Arumi mandi dulu."
Mama Reni menatap punggung Arumi hingga hilang dibalik pintu. Dia menggeleng pelan dan menipiskan bibir.
*****
Keesokan harinya, Arumi mengunjungi salah satu supermarket. Dia membeli bahan-bahan untuk penjualannya. Cukup banyak namun dia hanya sendiri.
Saat telah menyelesaikan pembayarannya, Arumi sungguh kewalahan membawa barang-barang tersebut. Dia mengangkat Namun menurunkannya kembali. Melakukan itu berulang kali.
"Butuh bantuan?" tanya seorang pria.
Arumi yang mendengar itu berbalik menuju sumber suara. Dia menegakkan posisi yang sebelumnya membungkuk hendak meraih kantongan tersebut.
"Kamu." Arumi masih ingat siapa pria tersebut. Yah, dia pria sama yang datang ke tokonya kemarin.
Arumi menggeleng. "Tidak perlu. Aku bisa sendiri." Arumi segera membungkuk dan mengangkat dua kantongan tersebut, baru beberapa langkah dia menurunkannya kembali. Arumi menggigit bibir.
Harun yang melihat hal tersebut menerbitkan senyum kecil. Wanita itu terlalu memaksakan diri. Harun menghampiri Arumi. Dia segera mengangkat barang-barang tersebut dengan begitu ringannya. "Tunjukkan dimana kendaraanmu." Yah, dia melakukan tanpa meminta izin.
Arumi bersusah payah menelan ludah. Dia menunjuk salah satu taksi online yang sudah dipesannya. Mereka pun segera berjalan berdampingan menuju mobil tersebut.
Jika ada yang melihat, mungkin mengira bahwa mereka suami-istri. Namun tidak, keduanya hanyalah orang asing.
Harun membuka pintu dan menyimpan kantongan tersebut di dalam. "Selesai."
"Terima kasih," ucap Arumi tanpa melihat pria tersebut. Dia segera menyusul masuk dan menutup pintu.
__ADS_1
"Sama-sama." Harun membalasnya dengan pelan yang takkan mungkin didengar oleh wanita cantik itu.
Arumi hanya melirik sosok yang masih setia berada di posisinya hingga mobil bergerak meninggalkan lokasi.
*****
Harun kembali ke mobilnya. Karena weekend jadi dia tak ke kantor. Pria itu menyempatkan diri ke supermarket untuk membeli beberapa kebutuhan dan kebetulan bertemu dengan owner dessert Arumi.
Harun menggeleng dan tersenyum jika mengingat sikap wanita itu. Yah, dia cuek namun menggemaskan.
.
.
.
.
.
JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK LIKE COMMENT RATE DAN VOTE 😉
Follow Igeku : asriainunhasyim
Salam
AAH♥️
__ADS_1