
Akmal segera membuka pintu. Dia melihat Debby duduk dan memegangi perutnya dengan meringis menahan sakit. Bulir keringat dingin membasahi pelipisnya.
"Ada apa?" Akmal menghampiri istrinya.
"Tolong ... p-perutku kram dan nyeri ...." Wanita itu mencengkeram erat tangan Akmal.
Tak menunggu lama, Akmal segera membopong tubuh wanita itu. Tanpa diberitahu pun Asisten Rian mengetahui tujuan Akmal. Dia mendahului bosnya dan menyiapkan mobil.
Mereka melaju menuju rumah sakit terdekat. Diperjalanan Debby menggigit bibir menahan rasa sakitnya seiring air mata yang mengiringi. Dia takut jika terjadi sesuatu pada anaknya.
Kemungkinan-kemungkinan terburuk menari di kepalanya. Bagaimana jika dia kehilangan bayinya? Debby meremas kuat pakaian Akmal.
Tuhan selamatkan bayiku ....
******
Selang beberapa puluh menit, Dokter duduk berhadapan dengan Akmal. "Apa istri Anda sering mengalami stres?"
Akmal tak menjawab. Tak dapat dipungkiri bahwa belakangan ini tekanan demi tekanan datang pada mereka tak terkecuali Debby sendiri.
"Usahakan menghindari sesuatu yang dapat membuatnya stres. Karena hal itu berdampak pada janinnya. Beruntung, Anda segera membawanya kemari, sehingga kami bisa memberikan penanganan dengan cepat," jelas dokter tersebut.
Akmal hanya mengiyakan. "Terimakasih, Dok." Entah apakah bisa atau tidak. Terlebih Debby belum mengetahui kondisinya sekarang.
Wanita berjas putih itu meresepkan obat dan vitamin yang akan ditebus oleh Akmal. Namun sebelum itu dia menyambangi tempat Debby berbaring.
Tampak wanita itu mengalihkan pandangannya. "A-aku hampir kehilangan anakku," ucapnya dengan suara parau.
Akmal hanya menelan ludah menatap Debby dan mendengar apa yang wanita itu ucapkan.
"Huufff ... aku ingin pulang istrahat." Tampak wanita itu begitu lesu. Dia sangat lelah dengan apa yang terjadi.
Akmal kembali membantunya berdiri dan keluar dari ruangan tersebut. Asisten Rian yang melihat itu segera beranjak dari duduknya menghampiri mereka berdua.
"Bagaimana, Pak, Bu?" tanya Rian.
"Baik-baik saja," jawab Akmal. Tak ada sahutan dari Debby wanita itu hanya terdiam.
Asisten Rian menghela napas lega. "Syukurlah ...."
Akmal menebus obat dan segera kembali ke rumah.
*****
3 minggu berlalu setelah kejadian itu, Debby lebih betah berada di kamar. Wanita itu tampak kurus, hanya perutnya yang tampak membuncit.
__ADS_1
Kulit wajah yang kusam karna sudah tak memprioritaskan lagi masalah perawatan. Waktunya banyak dihabiskan dengan melamun.
Sudah selama itu Debby tak memperdulikan Akmal dan hanya berbicara jika pria itu yang memulainya.
Akmal juga belum memberitahu prihal masalah di kantor dan mobil-mobil tersebut melihat keadaan Debby.
Namun hari ini, dia akan memberitahu segalanya kepada wanita itu. Dia tak mau menyembunyikan terlalu lama. Setelah kejujurannya, semua keputusan ada di tangan Debby.
Akmal menghampiri Debby yang berada di balkon kamar.
"Debby ... aku ingin mengatakan sesuatu." Akmal duduk di depan wanita itu.
Debby hanya diam menunggu kelanjutan ucapan suaminya.
Akmal mengusap wajah dan memejamkan mata. "Aku sudah tak seperti dulu lagi."
Satu kalimat yang terucap dari mulut Akmal membuat Debby menajamkan pandangan. "Apa maksudmu?"
"Yah, aku sudah tak mampu mengelola tempat usahaku ...." ucap pria itu. Tersirat kegetiran dibalik nada suaranya.
Debby menelan ludah. Jantungnya memompa dengan hebat. Ada apa lagi ini?
"Aku bahkan sudah tak mampu membayar gaji karyawanku." Pria itu lagi-lagi menghela napas panjang. "Aku hanya menjual mobil untuk menutupi. Sebagian digunakan untuk membayar hutangku di bank. Dan ...." Akmal menggantung kalimatnya.
"Dan apa?" tanya Debby dengan suara berat.
Kalimat Akmal membuat Debby menggigit bibir. Rumah tangga tak pernah akur, dicemooh masyarakat, hampir kehilangan bayinya, usaha Akmal anjlok, betul-betul tak pernah Debby bayangkan sebelumnya.
Air mulai menggenang di pelupuk matanya. Hidup keduanya benar-benar terpuruk. "Lantas apa yang akan kamu lakukan?" tanyanya dengan suara serak nan parau.
*****
Arumi duduk di depan cermin. Dia menatap dirinya lamat-lamat. Besok adalah sidang terakhir perceraiannya.
Hubungan dengan Akmal Anggara Dinata putus. Benar-benar putus baik segi agama maupun negara.
Arumi sekuat tenaga mengkihlaskan dan mencoba melangkahkan kaki. Maninggalkan segala kenangan pahit yang membelenggunya.
Nama yang pernah bertakhta di lubuk hatinya mencoba dia hilangkan. Tidak ada lagi Akmal dan Arumi. Kedua pasangan yang membuat yang lain iri.
Banyak orang-orang terdekat mereka yang menyayangkan hubungan Akmal dan Arumi. Karena memang, keduanya tampak sangat serasi. Tapi apa hendak dikata, takdirnya tidak untuk dipersatukan.
Arumi menipiskan bibir.
Tok Tok Tok.
__ADS_1
"Arumi ...."
Suara membuyarkan lamunan Arumi. Wanita itu menatap pintu. "Iya." beranjak dari duduknya dan membuka benda tersebut.
"Ibu-ibu yang pesan sudah menunggu di luar. Cepat, gih, lihat. Mama bingung."
Arumi hanya tertawa melihat ekspresi Mama Reni. Wanita itu segera keluar sesuai dengan perintah mamanya.
Semakin hari penjualan Arumi semakin meningkat. Rupiah yang didapatkan dari hasil keringatnya ditabung sedikit demi sedikit. Bukan tanpa alasan, dia bercita-cita membuka toko dessert.
Mama Reni sudah menawarkan modal, namun wanita cantik itu menolak. Dia ingin membangun murni dengan uangnya sendiri. Tak mau merepotkan orang lain.
Entah setahun atau dua tahun kemudian, kalau dirinya sudah mampu maka tempat itu akan ada.
.
.
.
.
.
Selesai!
.
.
.
Akmal dan Arumi cukup sampai disini yah😂
Tunggu info selanjutnya yang jelas bukan hari ini😁🙏
Season kedua nanti kita sama-sama ngehalu dah tuh buat perjalanan cintanya Kakak Arumi.
Author mau ngucapin terima kasih banyak buat Readers yang masih setia baca novel ini, semoga teman-teman sekalian selalu dalam keadaan sehat dan bahagia. Aamiin🙏
Jangan lupa LIKE COMMENT RATE DAN VOTE 😉 Sekali-kali Arumi juga mau naik pangkat bund 😂🤣 (canda pangkat).
Pantengin terus IG : asriainunhasyim.
Salam sayang, Salam hormat dan Salam Rindu
__ADS_1
AAH♥️