
Readersnya AAH♥️ TIAP BACA EPISODE, TINGGALKAN JEJAK LIKE, COMMENT, RATE DAN VOTE. GAK MINTA BAYARAN KOK. CUKUP MAINKAN SAJA JEMPOLNYA. OK!
Selamat Membaca😘
.
.
.
Debby dan Dini memasuki ruangan yang di dalamnya hanya ada Akmal dan Arumi. Kedua paruh baya yakni Ibu Susan dan Mama Reni telah pulang ke rumah masing-masing mengingat hari menjelang magrib.
Debby menelan ludah ketika melihat pria yang dipujanya ada di ruangan itu. Yah, hal tersebut sudah pasti mengingat yang sakit adalah istrinya. Mereka segera menyimpan parsel di atas nakas.
Sedangkan Arumi tersenyum bukan main melihat siapa yang datang menjenguknya. Tapi beda dengan sang suami, dia hanya terdiam melihat bidadari penunggu itu.
"A-apa kabarmu Arumi?" Sialnya Debby gugup.
"Kenapa bisa begini, sih, Mi?" Dini memegang tangan sahabatnya. Terdengar jelas kekhawatiran dari nada suaranya.
"Aku baik-baik saja. Cuman kakiku saja yang terluka, sedikit." Yah, Arumi tak ingin membuat orang lain merasa sedih.
"L-lain kali, hati-hati," ucap Debby. Matanya tak henti melirik Akmal yang masih betah dengan kediamannya.
*****
"Mas ... aku ingin ke toilet." Panggilan alam untuk Arumi. Wanita itu mengadu kepada suaminya.
Tanpa banyak bicara Akmal segera membopong tubuh istrinya. Karena memang Arumi belum bisa berjalan. Sementara yang lain hanya memperhatikan. Tak terkecuali Debby.
"Bersyukur banget, yah! Arumi dapat pria sesabar itu." Dini tersenyum melihat keduanya.
Debby tak menjawab. Entah mengapa ada rasa cemburu menjalar dalam dadanya. Dia ingin segera keluar dari ruangan itu.
"Ya, kan, By?" Dini berbalik meminta jawaban Debby.
"I-iya." Mau tak mau dia mengiyakan. Seandainya keberuntungan itu juga berpihak kepadanya. Yah, pastilah dia akan merasa sangat bahagia.
__ADS_1
Setelah Arumi dan Akmal kembali. Mereka menyambung pembicaraan. Dengan sesekali sang pria menyuapi Arumi dan menciuminya tanpa memperdulikan orang disekeliling.
Debby betul-betul tidak tahan lagi. Dia meminta izin keluar. Wanita itu duduk di ruang tunggu dengan membuang napas berkali-kali. Dadanya terasa sangat sesak.
*****
"Kamu akan tetap di sini?"
Suara bariton membuatnya berbalik. Dia melihat pria pujaannya berdiri memperhatikannya. Entah sudah berapa lama, Debby pun tak tahu.
"Kenapa keluar?" tanya Akmal seraya bersedekap menunggu jawaban dari wanita di depannya.
"Aku tidak bisa di dalam." Dengan ketusnya Debby berucap.
Akmal tahu arah pembicaraan Debby. Dia tahu bahwa wanita di depannya merasa cemburu. Akmal pun ikut duduk di samping wanita itu. "Apa kau cemburu?" Akmal memperjelas.
Debby tak menjawab. Dia gengsi untuk mengatakan itu. Lagi pula apa haknya? Dia sadar dia hanyalah orang ketiga dalam hubungan mereka. "Aku harap kamu tak melupakan semalam." Debby lagi-lagi memperingati Akmal.
"Yah. Aku sama sekali tak melupakan itu," jawab Akmal.
Debby berbalik menatap pria di sampingnya. Dia tak tahu bagaimana perasaan Akmal sebenarnya. Apakah dia juga memiliki rasa yang sama dengan dirinya?
Akmal pun berbalik juga tatapan mereka bertemu. "Ada apa?"
"Apa kamu menyesal melakukannya?" Debby ingin tahu itu. Dia ingin tahu rasa pria itu.
Akmal hanya mengedikkan bahu. Dia tak tahu harus menjawab apa. Menyesal atau malah sebaliknya. Entahlah. Debby yang melihat itu hanya mampu membuang napas.
"Apa masih sakit?"
******
Akmal dan Debby mengakhiri pembicaraan. Mereka masuk kembali ke dalam ruangan. Keduanya hanya sama-sama terdiam di tengah Dini dan Arumi.
"Sudah datang," ucap Dini. Wanita itu melihat jam tangannya. Waktu sudah semakin malam. "Ya sudah, kita pamit pulang."
Arumi dan Akmal mengangguk. "Maaf, yah, merepotkan," ucap Arumi.
__ADS_1
"Lebay." Dini memang merasa tak direpotkan sama sekali. Apalagi Arumi sudah dianggapnya seperti saudara sendiri.
"Tidak, kok," imbuh Debby.
Keduanya mengakhiri pertemuan mereka dan kembali ke rumah masing-masing.
*****
Tiga hari sudah Arumi dirawat di rumah sakit dan waktunya pulang ke rumah. Wanita itu menggunakan kursi roda sebagai alat untuk memudahkan aktivitasnya mengingat dia masih belum bisa berjalan.
Yah, terkadang dia kasihan melihat suaminya. Akmal harus melakukan peranan ganda. Yakni mengurus rumah dan bekerja. Namun jawaban Akmal, memang ini sudah tanggung jawabnya.
Sengaja juga tak memanggil orang tua mereka dengan alasan tak mau merepotkan, meski kedua paruh baya tersebut sering menawarkan diri. Biarlah Akmal dan Arumi yang merasakan asam manisnya.
*****
Pagi itu sebelum berangkat kantor Akmal memandikan Arumi. dia menyuapi istrinya dengan penuh sabar. Namun di tengah aktivitasnya, tiba-tiba ponsel Akmal yang berada di atas nakas berbunyi. Keduanya berbalik menatap benda tersebut.
Arumi mengerutkan kening kala melihat nama yang terpampang di layar benda canggih tersebut 'Putri'. Namun dengan cepat Akmal mematikan.
"Kok, dimatikan, Mas?" Arumi merasa heran.
"Tidak penting, Sayang. Ayo makannya dilanjut. Setelah itu obatnya diminum." Akmal kembali menyuapi istrinya.
Arumi yang mendengar itu hanya mengangguk pasrah. Sesuai dengan perintah, setelah makan dia pun meminum obatnya.
"Selesai!" Akmal membereskan tempat makan tersebut segera berpakaian untuk ke kantor.
.
.
.
.
Salam
__ADS_1
AAH♥️