
"Mas, kenapa lama?"
Akmal menyimpan nampan di atas meja kemudian duduk. "Maaf, yah. Tadi ada sedikit masalah."
Arumi mengerutkan kening. "Masalah apa, Mas?"
"Itu tidak penting, Sayang. Lebih baik makanannya cepat dimakan. Kan, kamu lapar," ucapnya dengan lembut. Bukan Akmal menyembunyikan, tapi memang itu tidaklah penting menurutnya.
Arumi mengangguk. "Iya, Mas."
Kedua pasangan itu makan dengan lahapnya. Saling menyuap satu sama lain. Namun tak jauh dari tempat mereka berada, sepasang mata mengawasi.
*****
Debby melangkahkan kaki keluar dari mall. Kepalanya masih memikirkan kejadian tadi. Dia merutuki kecerobohan sehingga melupakan dompet. Beruntung seorang pria membantunya sehingga tak sampai malu di tempat tersebut.
"Dasar bodoh!" Dia memukul pelan kepalanya dan menghela napas kasar.
Wanita itu menuju motornya di
area parkir dan menyimpan makanan tersebut di dalam bagasi. Dia memasang helm dan segera pulang.
"Aku harus mengembalikan uang itu. Tapi bagaimana caranya?"
Meskipun pria tersebut mengatakan sebagai bentuk terima kasih, tapi wanita cantik itu merasa harus membayar. Dia sungguh tak enak.
Semoga kita bertemu kembali.
Piiippp ....
Debby spontan membanting setir ke samping. Wanita itu mengerem motornya dengan cepat. Dia membuka kaca helm dan membuang napas panjang. Jantungnya hampir saja melompat keluar.
"Kalau berkendara, Mbak, jangan tidur! Hampir saja bikin masalah!"
Debby hanya mematung melihat pengendara motor lainnya yang marah akibat ulahnya. Dia tidak melawan karena tahu bahwa dirinyalah yang salah. Memikirkan pria tersebut, wanita itu melamun.
"Huufftt ...." Dia mengusap kasar wajahnya. "Ya Ampun, By!"
Dia mengambil air botol yang ada di dashboard dan meneguk. Pikirannya betul-betul perlu dinetralkan kembali. Sudah terlalu banyak masalah yang menimpanya hari ini.
Debby bersiap melajukan motor, namun sebuah mobil berhenti tepat di samping. Kacanya terbuka menampakkan penghuninya. "Debby!"
__ADS_1
"Eh! Dini!" senyum manisnya terbit hingga menampakkan deretan gigi yang ginsul.
"Ngapain di sini?"
Dua orang tersebut merupakan teman semasa kuliah. Mereka sama-sama mengambil jurusan manajemen disalah satu perguruan tinggi yang ada di kota tersebut.
"Aku hanya singgah sebentar." Wanita itu tidak menjelaskan panjang lebar mengenai insiden yang baru saja menimpa.
"Mending ikut aku," ajak Dini dengan semangat. Sudah agak lama juga tak bertemu dengan teman baiknya itu.
"Motorku?"
Dini terdiam sejenak. Otaknya berpikir mengenai kendaraan yang ditumpangi temannya. "Iya juga, sih!"
"Atau kamu ke rumahku?" Debby memberikan usulan lain.
Dini tersenyum dan mengangguk mantap. "Ya sudah! Aku ikut kamu dari belakang."
Benar saja apa yang diucapkan wanita itu. Dia mengikuti temannya dari belakang. Tak lama kemudian, mereka sampai di depan rumah berukuran sedang namun tampak asri. Bagaimana tidak, pekarangannya ditumbuhi beberapa tumbuhan sehingga memberikan hawa sejuk.
Di rumah itu, Debby hanya tinggal sendiri. Semenjak kuliah, dia sudah berpindah ke kota tersebut dan mencari pekerjaan di kota yang sama. Dini tahu kalau Debby mandiri hingga rela berpisah dengan kedua orangtuanya.
Debby membuka pintu. "Masuk, yuk!"
Yah, tempat itu telah direnovasi sedemikian rupa.
Bangunan yang didominasi dengan warna pink pastel tampak sangat bersih. Perabotannya pun tak banyak hingga tak membuat rumah terasa sempit. Beberapa pajangan foto penghuninya terpampang jelas di dinding.
Sangat cantik, mandiri, bersih dan pekerja keras adalah kesan yang ditampilkan oleh wanita itu.
Dini mendudukkan dirinya di atas sofa. "Rumahmu betul-betul nyaman, By."
Debby berjalan mendekati meja dan membawa minuman dingin beserta beberapa camilan. "Nginap, ajah! Lama juga baru ke sini."
"Mau, sih. Tapi nanti malam aku ada janji," ucapnya seraya meraih minuman di depannya.
"Janjian sama pacar?"
Dini menggantungkan minuman tersebut di depan bibirnya. Mendengar nama pacar, raut wajahnya berubah mendung. Dia menggeleng lemah dan melanjutkan minum.
"Aku kirain sama pacar." Debby hanya tertawa kecil. Tak menyadari perubahan wajah temannya.
__ADS_1
Dini juga tak menceritakan kisahnya dengan Johan karena memang temannya tak mengetahui. Sekuat tenaga dia menyembunyikan dan mencoba mengesampingkan masalahnya.
"Seandainya aku bisa ikut."
Mendengar itu, Dini spontan mengangguk. "Ikut ajah!"
Debby hanya menyengir. "Bercanda, Din."
"Tapi aku serius. Ikut ajah! Temanku datang dengan pasangannya sedangkan aku sendiri. Kalau ada kamu, setidaknya aku merasa tidak asing."
Debby menelan ludah. Tak menyangka ucapannya disambut serius oleh wanita di depan.
Termakan omongan sendiri.
******
"Mas, sebentar malam aku ada janji dengan Dini," ucap Arumi.
Akmal mengusap bibirnya menggunakan tisu. Dia mengangguk. "Mas ikut."
Arumi tersenyum. Memang rencananya dia akan mengajak Sang Suami untuk ikut. Tanpa memintanya, Akmal berinisiatif berkata lebih dulu.
Arumi mengangguk mantap. "Boleh!"
"Kita bertiga, kan?'
Seketika senyum Arumi menghilang. Dia teringat dengan kisah nahas yang menimpa sahabatnya. "I-iya, Mas."
"Oh iya." Akmal menatap jam yang melekat di pergelangan tangan. "Masih tersisa 4 jam. Lebih baik kita segera kembali untuk istrahat."
Mereka berdua meninggalkan mall. Akmal dan Arumi mengakhiri kencannya untuk hari ini dan akan melanjutkan sebentar malam.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Salam
AAH♥️