
Akmal menghentikan kendaraannya di depan kediaman Debby. Dia ingin menjemput wanita itu. Setelah pergi dari rumahnya, Akmal terus saja menelpon Debby namun tak mendapat respon.
Akmal melangkah mendekati pintu dan memencet bel berulang kali namun lagi-lagi tak mendapat jawaban. "Apa dia sudah berangkat?" gumam Akmal seraya melihat jam tangannya.
Pria itu kembali merogoh ponsel yang berada di kantongnya dan menelpon Debby namun tak mendapat jawaban. Akmal mendengus kasar dan hendak memutar badannya untuk segera pergi. Namun tiba-tiba handel bergerak membuka benda tersebut.
Akmal melihat Debby dengan penampilan yang berantakan. Wajah yang cemberut. Sisa-sisa air matanya masih tampak pada wajah wanita itu memberikan bukti bahwa Debby baru saja menangis.
"Hei! Kenapa ini?" ucap Akmal dengan raut kaget bukan main. Pria itu juga mencium aroma minyak angin dari wanita di depannya.
"Ngapain ke sini?" Debby mulai menunjukkan bahwa dirinya sedang marah. Suaranya serak.
"Kamu sakit, By?" Akmal memajukan langkahnya hendak mengecek suhu tubuh Debby namun segera wanita itu menangkis tangannya.
"Pergi sana! Aku benci kamu!" Debby mendorong pria itu. Air sudah memupuk di matanya.
"Kok, benci, sih." Akmal dibuat semakin heran dengan tingkah wanita itu yang tak seperti biasanya. Yah, mungkin Debby marah karena telponnya tak diangkat. Tapi sumpah demi apapun, Akmal tak sengaja melakukannya.
"By, tadi aku mandi waktu kamu telpon. Ponselku Arumi yang pegang." Akmal memberikan penjelasan kepada Debby. Setidaknya wanita itu mengerti dengan situasi.
Mendengar nama Arumi disebut, Debby spontan berbalik menuju ke dalam dan duduk di sofa. Wanita itu menyembunyikan wajahnya dan menangis. "Hiks ... hiks ...."
Akmal mematung. Dia menelan ludah. Apakah ada kata-katanya yang salah? Kenapa wanita itu sangat emosional. Akmal menggaruk kepalanya yang tidak gatal sama sekali. Pria itu berjalan menyusul Debby. Dia duduk di depan wanita itu.
"By, jangan nangis, dong. Oke! Mas, minta maaf karena tak mengangkat telponmu. Tapi, kan, Mas punya alasan, Sayang." Akmal mencoba membujuk wanita itu dengan suara yang amat lembutnya. Dia mengusap punggung Debby menenangkan.
Tak mempan wanita itu masih terus saja menangis. Dia tak mau mendengarkan alasan apapun dari Akmal.
Akmal mencoba cara lain. Dia berpindah ke samping Debby. Dia mendekap wanita itu dan menepuk-nepuk kepalanya dengan pelan. Berulang kali melafadzkan permintaan maaf. Namun ajaib. Hal itu membuat isakan Debby berhenti.
Akmal segera memeriksa suhu tubuh wanita itu. "Kepala kamu tidak panas, By." Yah, memang panasnya normal. "Sakit apa?" tanya Akmal seraya menyelipkan rambut Debby. Aroma minyak angin semakin menyeruak.
"Pusing ...." Hampir saja suaranya tak terdengar. Debby memejamkan matanya. Dia tenang diperlakukan seperti ini.
"Jadi tak masuk kerja hari ini?"
Debby mengangguk lemah. Dia betul-betul ingin istrahat keadaannya sama sekali tidak memungkinkan untuk beraktivitas. "Jangan tinggalin aku."
__ADS_1
Hari ini, Debby sangat manja. Bahkan dia melarang Akmal untuk ke kantornya. Entah kenapa dia tak mau jauh dari pria itu.
Mau tak mau Akmal menurut. Dia tak ke kantornya dan memilih untuk menemani wanita itu. "Baik, Mas tidak ke kantor. Tapi ada syaratnya?"
"Apa?" Debby membuka matanya. Dia menengadah melihat pria itu. Debby ingin tahu persyaratan yang akan diajukan oleh Akmal. Demi untuk tetap tinggal bersamanya.
Akmal menatap balik wanita itu. "Jangan nangis dan cemberut lagi. Ok!"
Satu kalimat yang meluncur mulut pria itu membuatnya mengangguk mantap. Dia memaksakan senyum dan mengusap air matanya.
*****
Arumi memasukkan kotak makan tersebut ke dalam kantong. Karena pertengkarannya tadi pagi, Akmal tak sarapan ataupun membawa benda tersebut.
Dia akan menyambangi kantor suaminya. Membawa makanan itu langsung. Arumi bersiap-siap dan segera mengeluarkan mobil dari garasi.
Wanita itu memasuki kendaraannya. Setelah sekian lama, akhirnya dia kembali menyetir. Meski kakinya sakit tapi tak mengapa dia akan menahan demi pria nomor 2 setelah ayahnya.
Dia melajukan mobil tersebut menuju tempat Akmal bekerja. Diperjalanan dia memikirkan semua sikap Akmal belakangan ini. Perubahan jelas Arumi rasakan semenjak pertengkarannya beberapa puluh hari yang lalu.
Terkadang jika di rumah, pria itu sangat sibuk dengan ponselnya. Arumi bicara terkadang dia lambat merespon. Kehangatan sudah jarang dia rasakan. Kali ini bukan perasaannya lagi tapi kenyataan.
Tapi mereka juga melihat seorang wanita yang sering datang mengunjungi kantornya dan menuju ruangan bosnya?
"Lalu siapa wanita cantik yang sering datang kemari? Itu, tuh, yang rambutnya keriting, tinggi dan seksi?"
"Aku juga tidak tahu .... Mungkin temannya bos kali."
Para karyawan mulai berbisik-bisik. Saling memunculkan dugaan-dugaan tentang Akmal.
*****
Arumi melihat meja Asisten Rian di luar. Dia mengerutkan kening. Karena memang sepengatahuan dia, pria itu berada satu ruangan dengan suaminya.
"Rian, kok, pindah?" tanya Arumi kepada sang asisten.
Rian terperanjat setelah melihat siapa yang datang. Beberapa hari yang lalu memang dia dipindahkan dengan alasan meja asisten memang cocok di luar.
__ADS_1
Asisten Rian bukanlah orang bodoh. Dia tahu bahwa bukan itu alasan utamanya. Karena kehadiran seorang wanita belakangan ini yang membuat bosnya terpaksa memindahkan.
"Maaf, Bu, ini keputusan, Pak Akmal."
Asisten Rian sebenarnya mengetahui kelakuan bosnya. Tapi dia enggan untuk bercerita. Dia tak punya hak sama sekali mencampuri urusan rumah tangga atasannya.
Tanpa banyak bertanya Arumi memasuki ruangan suaminya. Dia mencari keberadaan namun tak menemukan.
Arumi keluar kembali ingin memastikan. "Bapak kemana?"
"Pak Akmal belum datang, Bu."
Arumi mengerutkan kening. Bukankah suaminya tadi berangkat ke kantor sangat pagi. Lalu hampir jam makan siang dia belum tiba. "Apa kamu tahu dia kemana?"
"Maaf, Bu, Pak Akmal belum memberikan konfirmasi."
Kepala Arumi mulai dipenuhi kecurigaan. Dia memasuki kembali ruangan suaminya. Arumi memeriksa. Wanita itu bahkan menemukan kotak makan berwarna merah tersusun dengan rapi. Yah, kotak makan awal mula pertengkarannya.
Bukan hanya itu, Arumi juga menemukan secarik kertas yang berisikan kata-kata sial di atasnya.
Air mulai meggenang dipelupuk matanya. Dia meremas semua kertas tersebut dengan penuh emosi. "Dasar wanita gila!" Arumi bangkit dan mencari sesuatu dengan harapan tak menemukan.
"Wanita itu yang gila! Suamiku setia!" Ucapan Arumi tak sejalan dengan air matanya yang terus mengalir deras di pipi wanita cantik itu. Dia terus mengulang-ulang kalimatnya dengan tangan tak hentinya bergerak menggeledah.
Asisten Rian yang mendengar dari luar hanya mampu menghela napas berat. Dia tak punya kuasa dan hak untuk ikut campur.
.
.
.
.
.
Salam
__ADS_1
AAH♥️