
Akmal memasuki kendaraan, pria itu memainkan ponsel. Dia kembali melihat panggilan tal terjawab dari 'Putri'. Akmal menghubunginya.
"Hallo."
Terdengar suara lembut dari seberang sana yang membuat senyum Akmal terbit. Dia betul-betul tersihir.
"Sudah siap?" tanya Akmal.
Wanita itu mengangguk meski Akmal tak melihat langsung. "Dari tadi aku menunggu, Mas," ucap Debby dengan cemberut.
Seketika tawa Akmal pecah. "Iya maaf." Akmal menetralkan suaranya. "Sepuluh menit, Aku sudah tiba di sana."
Wanita itu mengiyakan. Sesaat kemudian sambungan telpon terputus. Debby menunggu jemputan untuk ke kantor. Hari ini dia tak menggunakan motor karena Akmal akan mengantarnya sesuai dengan kesepakatan di rumah sakit.
*****
"Apa masih sakit?"
Debby mengangguk. Pipinya merona merah. Yah, dia tak menyangka jika aktifitas itu membuatnya susah berjalan. Tapi apa mau bagaimana, dia tetap harus memaksakan agar orang tak curiga.
"Maaf, yah," Akmal berucap dengan nada penyesalan.
Debby dengan cepat menggeleng. "Tidak apa, Mas. Tak usah dipikirkan."
Akmal hanya mengangguk meski rasa bersalahnya tak hilang. Dia dalang dibalik sakit yang dirasakan Debby. "Sepulang dari rumah sakit, kalau kamu ngantor, biar aku yang antar jemput," ucap Akmal dengan serius.
Mata Debby membulat. Dia tak menyangka mendapat penawaran dari pria itu. Lagi pula ini bukan sepenuhnya salah Akmal. "Benarkah? Tapi aku merepotkan."
Akmal tersenyum. "Tidak, By. Sama sekali tidak merepotkan."
Jangan ditanya, hati Debby seketika berbunga-bunga. Mendapat perhatian kecil dari seorang Akmal Anggara Dinata membuatnya bahagia bak menemukan berlian dalam air.
******
Tak lama kemudian sebuah mobil terparkir di depan rumahnya. Debby segera keluar dan mengunci pintunya. Dia berjalan menuju kendaraan mewah tersebut.
__ADS_1
Debby membuka pintu mobil dan menyapa, "selamat pagi, Bos Akmal."
Akmal mengangguk sekali. "Selamat pagi juga, Putri Debby."
Mereka saling melempar tatapan, saling melempar senyum kekaguman satu sama lain. Namun seketika Debby memalingkan wajah. Pipinya merona merah.
Mobil melaju. Diperjalanan, mereka saling diam. Hanya ada suara mesin kendaraan yang berkuasa di tempat itu hingga Debby memecahkan.
"Mm ... Mas, sudah sarapan?" Wanita itu mengingat jika Arumi sakit. Tentu dia tak memasak.
Akmal menggeleng. Sejak pagi dia hanya mengurus istrinya. Membuat bubur, memandikan dan menyuapinya. Hingga dia sendiri tak sempat untuk itu.
"Mending sarapan dulu. Kan, kasihan kerja kalau gak makan." Debby memberikan usulan kepada pria itu. Dia kasihan melihat Akmal.
"Tidak usah. Nanti kamu terlambat. Kalau aku tidak masalah karna aku bosnya." Akmal sungguh tak enak dengan wanita di sampingnya.
Spontan Debby memegang pundak pria itu. "Aku terlambat tak apa. Yang penting Mas sarapan dulu." Dia membujuk Akmal dengan mengeluarkan jurus mengiba.
Akmal diam sesat kemudian mengangguk
Debby menunjuk salah satu warung makan langganannya. Mereka memilih tempat tersebut. Akmal pun juga tak mempermasalahkan tempatnya.
"Mas mau makan apa?" tanya Debby.
"Yang biasa kamu makan sajalah."
Debby mengangguk. Wanita itu memesan 2 porsi bubur ayam dengan lauk telur, kacang dan ampela. Tak lupa krupuk sebagai pelengkap. Sederhana tapi enak.
Mereka makan dengan tenang. Namun sepercik noda berwarna putih yang tak lain adalah bubur yang mengotori kemeja pria itu. Debby yang melihat spontan mengambil tissue dan mengelap kotoran tersebut. "Kali ini, Mas, yang harus hati-hati." Debby tersenyum dan mengedipkan satu mata.
Akmal mematung melihat tingkah wanita itu. Biasanya Akmal yang sering memberikan peringatan untuk berhati-hati. Sekarang malah sebaliknya. Dalam hati Akmal, Debby pun adalah sosok wanita perhatian. Makan siang dan hal-hal kecil seperti ini dia peka.
Selesai makan Akmal melanjutkan mengantar Debby. Kali ini mereka bercerita tentang keseharian keduanya. Yah, sama seperti biasa mereka selalu nyambung.
******
__ADS_1
Sesampainya di depan kantor, Debby tak langsung turun. Wanita itu memperbaiki posisi duduk menghadap Akmal. Dia tersenyum hingga menampakkan gigi gingsul.
"Semangat kerjanya, Pak Bos!" Debby berucap dengan mengepalkan tangannya di depan.
Akmal yang melihat itu hanya menggeleng
dan tertawa. "Semangat juga, Putri Debby."
Berangkat kantor bersama, sarapan bersama dan saling memberikan semangat satu sama lain semakin mendekatkan hubungan mereka. Keduanya sering berkomunikasi. Tentu tanpa sepengetahuan Arumi.
*****
'Sayang, maaf yah. Mas hari ini lambat pulang. Mas ada sedikit kendala di kantor.'
Arumi memegang ponselnya. Dia melihat pesan WhatsApp dari sang suami. Yah, dari tadi wanita itu menunggu kepulangan Akmal seperti biasa. Barangkali sudah 3 jam ia duduk atas kursi rodanya.
"Kasihan." Hanya kata tersebut yang keluar dari bibir wanita itu. Dia tak marah atau pun menuntut suaminya untuk cepat kembali mengingat kondisinya.
'Ya sudah, Mas. Kerjanya jangan dipaksakan.'
Namun WhatsApp Akmal sudah tak aktif lagi. Arumi mengira suaminya betul-betul sibuk. Untuk menghilangkan rasa bosan, Arumi melihat story. Nama Debby muncul. Foto jemari yang saling bertautan. Yah, itu jemari Debby dengan seorang pria.
.
.
.
.
.
Perlahan yah. Semua bakal kebagian bubur ayam kok😉
Salam
__ADS_1
AAH♥️