
Debby pulang ke rumah dengan wajah yang berseri-seri. Jantungnya semakin berdetak tak karuan. Padahal, pria itu sudah tak ada di dekatnya. Dia mencoba menahan sebisa mungkin rasanya.
Ingatan-ingatan tentang Akmal kembali menyerbu pikirannya. Debby bahkan mendapat lampu hijau untuk sering berkunjung. Baik di rumah Akmal maupun di kantornya.
Hari ini, dia sudah membeli perlengkapan masak untuk makan siang Akmal berikutnya. Yah, beberapa hari belakangan, Debby selalu mengirimkan paket makan siang untuk pria itu. Bangun sesubuh mungkin untuk memasak.
Hal dilakukan semata-mata bentuk terima kasihnya. Sengaja ia menyuruh kurir untuk tidak menyebutkan siapa pengirimnya. Di secarik kertas tersebut dia juga tak menuliskan nama. Takut jika Akmal tak menerima.
Debby memarkir kendaraan dan masuk ke rumah. Dia membersihkan badan dan segera beristirahat. Debby mulai mengotak-atik ponselnya mencari nama 'Dini'.
"Hallo, Din?"
"Yah," jawab wanita itu.
Debby ingin menanyakan prihal weekend besok. Yah, Debby mendengar janji antara Dini dan Akmal.
"Besok, kamu jadi ke rumah Arumi?" Debby cemas-cemas harap menunggu jawaban Dini.
"Astaga! Aku lupa ngabarin kamu kalau besok, aku tidak sempat," ucap Dini dengan nada penyesalan.
Debby memejamkan mata. Besar harapannya jika dia dan Dini akan menghabiskan weekend di kediaman Arumi. Tapi mau bagaimana, jika wanita di seberang tak punya waktu.
"Kenapa, Din?" Debby mulai loyo.
"Sepupu aku nikah."
Debby mengangguk meski temannya tak melihat. Itu lebih penting. Debby mengiyakan alasan Dini.
"Kamu bisa pergi sendiri jika mau," usul Dini. "Kan, kami sudah tahu rumah mereka. Gak apa-apa pergi tanpa aku."
Sejenak Debby terdiam mendengar ucapan temannya. Dia tampak menimbang-nimbang. Yah, dia memang sudah hapal lokasi rumah Arumi dan sudah kenal baik dengan wanita tersebut. Tapi apakah dia sepercaya diri itu untuk datang sendiri?
"Udah, pergi ajah! Nanti aku hubungi, Rumi. Atau alangkah baiknya kalau kamu sendiri yang bilang. Kan, kalian juga sudah kenal."
Dini terus saja memprovokasi. Debby bisa pergi sendiri tanpa dirinya. Karena memang situasi tidak memungkinkan untuk bisa datang.
Debby menghela napas kemudian mengangguk mantap. Yah, dia akan pergi sendiri. Mengunjungi Arumi atau bahkan memenuhi keinginannya untuk melihat Akmal. Lagi dan lagi pria itu.
"Oke! Aku akan pergi sendiri."
__ADS_1
******
"Arumi." Akmal mendekati istrinya yang sedang memasak.
"Iya, Mas," jawab wanita tanpa menolehkan pandangan.
Akmal mengambil beberapa lembar tissue dan mengelap keringat wanita itu yang tampak mencucur di pelipis. Hal yang lumrah bagi pejuang dapur.
"Capek, yah?" tanya Akmal. Timbul kasihan dalam hati melihat istrinya.
Arumi tertawa dan menoleh. Dia menggeleng. "Tidak." Memang dia tidak capek dengan pekerjaan tersebut. Bahkan, dia senang melakukannya. Bukankah itu bagian dari kewajiban sebagai seorang istri?
"Apa tak sebaiknya sewa pembantu ajah, Sayang?"
"Tidak, Mas." Secepat kilat Arumi menjawab. "Selama aku mampu ngurus kamu, aku tak akan melibatkan orang lain."
Akmal hanya tersenyum. Dia bisa melihat betapa cintanya Arumi terhadapnya. Walaupun melelahkan, tapi wanita itu tak pernah mengeluh sedikitpun untuk mengurusnya.
Tiba-tiba dia teringat kotak makan siang di kantor. Kotak tersebut sudah menumpuk. Berarti istrinya membeli stok yang banyak karena setiap hari selalu ada. Akmal mengedarkan pandangan, mencari benda yang serupa. Tapi nihil, dia tak menemukan.
"Arumi," panggil Akmal kembali.
"Kamu punya banyak stok kotak makan?" tanya Akmal. Dia begitu penasaran dimana istrinya menyimpan benda tersebut.
Arumi mengerutkan kening. Dia bingung dengan pertanyaan suaminya. "Kotak makan?"
Akmal menggeleng dengan cepat. Mungkin saja Arumi menyembunyikan. Toh, untuk apa dia harus mempertanyakan hal tersebut. Sedangkan Arumi dengan rajinnya mengirimi paket makan siang untuknya.
"Oke, selesai!" Arumi telah menatap piring dengan rapi di atas meja. "Makan, yuk!" ajak Arumi yang disambut anggukan oleh Akmal.
******
Tepat pukul sembilan malam. Debby ingin menghubungi Arumi prihal keinginannya besok. Dia mengotak atik ponselnya mencari nama wanita tersebut.
"Hallo, Arumi?"
"Iya."
Debby menelan ludah. Yang terdengar bukan suara wanita melainkan pria. Dia melihat kembali ponsel, barangkali dia salah pencat. Tapi tidak. Di layar jelas terpampang nama 'Arumi Anggun'.
__ADS_1
Itu berarti ....
Seketika senyumnya mengembang. Dia tak menyangka jika Akmal yang mengangkat telponnya. Apakah memang lelaki itu sengaja?
"Rumi mana?" tanya Debby.
"Oh, Aru-"
Mas, tolong ambilkan pakaianku.
DEG!
Tiba-tiba suara yang dicarinya muncul. Tubuh Debby lemas seketika mendengar permintaan Arumi. Apa maksud pakaian? Apa jangan-jangan mereka sedang ....
Debby memejamkan mata. Kenapa hatinya sakit membayangkan. Wanita itu menggigit bibir hingga berbekas dan spontan memutuskan panggilan.
Dengan cepat dia bangkit dari pembaringan. Debby memukul-mukul dada yang terasa sesak. Namun sejurus dengan itu dia tertawa.
"Hei, By! Mereka memang pasangan!" Debby bermonolog.
Apakah ini rasa cemburu?
Debby menggeleng dengan cepat. Dia menuju toilet dan membasuh wajahnya dengan air dingin. Setelah itu, dia menatap pantulannya di cermin.
Sebenarnya ada apa denganku? Kenapa seperti ini? Aku sudah mencoba untuk menahan rasaku, tapi kenapa bisa begini?
"Akmal ...."
.
.
.
.
.
Salam
__ADS_1
AAH♥️