
Debby menelan ludah. "Ak-"
"Tawaran apa, Mas?" Arumi muncul dari dapur membawa nampan berisi minuman dan Camilan. Tanpa sengaja dia mendengar pertanyaan suaminya.
Ketiga orang tersebut menoleh melihat Arumi. Debby merasa gugup. Dia mulai deg-degan. Tangannya tanpa sadar saling meremas satu sama lain.
"Tadi, Mas ke kantornya menjemput si hitam. Mas hendak pulang dan dia pun demikian. Mas tawarkan untuk barengan tapi dia menolak. Ternyata tujuannya juga kesini," jawab Akmal dengan lugas.
Debby menatap Akmal. Dia tak menyangka Akmal menjawab dengan begitu santainya. Tak ada kebohongan yang terselip. Akmal begitu jujur kepada Istrinya.
Arumi tersenyum. Wanita cantik itu menatap Debby dan menggeleng pelan. "Harusnya barengan, Mas Akmal saja, By. Biar bagaimanapun kalian satu tujuan," ucap Arumi seraya menyimpan nampan di atas meja.
Bagai bongkahan batu besar yang lepas dari dada Debby. Tanpa sadar dia menghela napas pelan. Arumi sama sekali tidak salah paham kepadanya.
"Kami sudah janjian tadi. Jadi Debby menungguku," imbuh Dini.
Debby mengangguk. "Iya. Aku menunggu, Dini. Aku sudah janjian. Kan, tidak enak kalau ditinggal."
Spontan yang ada di ruangan itu ber 'Oh' riah. Mereka memaklumi Debby. Mereka membenarkan sikap bidadari penunggu itu. Mereka kemudian duduk bersama dan melanjutkan dengan bincang-bincang.
******
"Garasi sudah penuh dengan berbagai macam mobil, Nak." Lagi-lagi ibu Susan mengungkit sikap Akmal yang dianggapnya terlalu boros. Dia hanya tidak mau, anaknya takabur dalam membelanjakan uang, mengingat dulu kehidupannya yang susah.
Akmal yang disinggung pun hanya menggaruk tengkuk yang tidak gatal sama sekali. Dia menyengir dan disambut tawa oleh ketiga wanita cantik di depannya.
"Wih! Penasaran aku," imbuh Dini dengan antusias. "Boleh lihat, gak?"
"Lihat ajah!" Arumi mengiyakan permintaan sahabatnya.
"Yuk!" Dini lebih dulu berjalan bersama dengan Arumi. Diikuti oleh Debby dan Akmal dibelakangnya. Sedangkan ibu Susan hanya menatap kepergian mereka.
Anak jaman sekarang, batin wanita paruh baya itu.
__ADS_1
******
Garasi terbuka memperlihatkan isi di dalamnya. 2 wanita itu membulatkan mata melihat mobil dengan berbagai jenis dan warna berjejer dengan rapi.
Mata Debby terfokus pada sebuah mobil yang terbungkus dengan apik. Dia mendekat dan merabanya. "Em ... ini boleh dibuka?" ucapnya dengan malu-malu.
Tanpa banyak komentar Akmal membuka body cover tersebut. Spontan mulut Debby menganga. "Amazing!"
"Lamb-"
"Lamborghini Aventador Lp 700-4 Roadster dengan kecepatan maksimum 350 kmph!" Debby memotong ucapan Akmal yang hendak menjelaskan. Dia tak menyangka Akmal mengoleksi supercar tersebut.
Akmal hanya mematung mendengar wanita itu. Dia mendahuluinya. Yah, Akmal juga melihat bagaimana mata Debby berbinar-binar memandangi supercar miliknya.
"Kamu bisa nyetir?" tanya pria itu.
Debby mengangguk. Meskipun dia tak punya mobil, tapi pekerjaannya sebagai SPG memberikan peluang untuk belajar mengemudi kendaraan roda empat.
"Kamu mau coba?"
"Eh ...." Debby tak tahu harus berkata apa. Tiba-tiba lidahnya terasa keluh.
"Ada apa, By?" Arumi yang baru saja bergabung dengan mereka mempertanyakan ekspresi Debby.
"Aku tanya, apakah dia ingin coba mobil ini," Akmal menjelaskan kepada Arumi.
"Aku kirain apa. Kalau kamu mau, pakai ajah!" Arumi menambahkan izin untuk Debby menggunakan mobil tersebut. "Kamu bisa nyetir, kan?" tanya Arumi yang dibalas anggukan lemah oleh Debby.
"Ya udah! Pakai ajah!"
"T-tapi aku, takut." Peluang untuk memainkan kemudi supercar terbuka lebar, tapi kini nyalinya menciut. Arumi dan Akmal sungguh orang yang sangat baik. Dengan entengnya meminjamkan kendaraan yang harganya tidak main-main.
"Nanti, Mas Akmal yang dampingi kamu," kata Arumi. "Iya, kan, Mas?" Arumi meminta persetujuan suaminya dan dibalas dengan anggukan.
__ADS_1
******
Debby sedang duduk dan memegang setir. Dia masih tak menyangka bisa seperti sekarang. Rasanya masih mimpi. Berkali-kali dia mencubit pipinya, tapi memang benar. Hal itu adalah nyata.
Akmal duduk di samping Debby. Dia menjelaskan secara detail penggunaan mobil yang mendapat julukan 'Banteng' tersebut. Debby mendengar dengan sangat seksama tanpa ada sedikit pun yang terlewat.
"Sudah siap?" Akmal bisa melihat ekspresi tegang yang tergambar di wajah seorang Debby.
Bidadari penunggu itu menarik napas dalam dan menghembuskan perlahan. Sesaat kemudian, Debby mengangguk. Dia mulai mempraktikkan sesuai yang telah Akmal jelaskan tadi.
Debby membuka hard top yang membuatnya semakin bersemangat. Beberapa detik kemudian, mobil tersebut mulai melaju. Senyum termanis Debby hingga menampakkan gigi ginsul yang dimiliki. Dirinya terasa melayang.
"Fokus." Akmal sesekali mengingatkan Debby.
Hari ini, bidadari penunggu itu merasa bersyukur. Bagaimana tidak, mobil yang hanya bisa dia pandangi sejak dulu, sekarang bisa dikemudikan.
******
Debby menambah kecepatan. Dia mencoba memainkannya dengan menyalip satu persatu kendaraan yang menghalangi jalannya. Rambutnya yang bergelombang tertiup angin seiring dengan laju mobil tersebut. "Woho ...." teriaknya.
Tanpa sadar Akmal yang memperhatikan pun tertawa. Dia tak menyangka jika wanita di sampingnya begitu bahagia dan lepas hanya dengan mengendarai mobil tersebut.
.
.
.
.
.
Salam
__ADS_1
AAH♥️