
Readersnya AAH♥️ TIAP BACA EPISODE, TINGGALKAN JEJAK LIKE, COMMENT, RATE DAN VOTE. GAK MINTA BAYARAN KOK. CUKUP MAINKAN SAJA JEMPOLNYA. OK!
Follow Ig : asriainunhasyim
Selamat Membaca😘
.
.
.
.
.
Harun duduk bersandar di kursi kebesaran. Ia masih memikirkan Akmal. Tangan saling bertautan di depan. Yah menurutnya, jika memang Akmal dalam kesusahan, kenapa ia tak meminta bantuan kepadanya?
Tak dapat dipungkiri, jika Harun lebih dulu terjun ke dunia bisnis. Di samping karena keluarganya, juga karena potensinya.
Drrrttt ... drrrtttt ....
Deringan dan getaran ponsel membuyarkan lamunan. Pria itu segera meraih benda pipih berbentuk segi panjang. Harun melihat nama bundanya yang tertera di layar.
Pria itu menegakkan duduknya. "Assalamualaikum," sapa Harun terlebih dahulu.
"Waalaikumussalam, Run. Bunda mau minta tolong, Nak." Bunda Ira to the poin.
"Iya, Bunda. Bilang saja."
"Sepulang dari kantor, ambilkan pesanan dessert, Bunda. Persediaan di rumah sudah habis. Sedangkan Bunda tidak sempat."
Harun mengangguk meski bundanya tak melihat langsung. "Bunda tinggal kirimkan saja alamatnya. Biar Harun yang mengurus."
*****
Sebuah bangunan didominasi dengan warna pink, yang tak begitu luasnya menjadi tempat Arumi bertakhta. Wanita yang telah menyandang status janda sejak setahun lalu, kini bisa memiliki toko dessert.
Rambut panjangnya diikat kuda. Wajahnya semakin cantik dengan bibir ranum merah mudanya. Bulu yang lentik menghiasi mata bulat hitam pekatnya, serta hidungnya yang mancung.
Banyak pria yang mulai mendekati saat mengetahui statusnya, tapi dia menolak. Dirinya masih belum memikirkan pernikahan setelah perpisahan dengan pria sialan itu.
Dia juga semakin disibukkan dengan usahanya. Bahkan sekarang, dia mempekerjakan satu karyawan untuk membantunya. Bagaimana tidak, dirinya sudah tak mampu menangani sendiri. Dia tak henti-hentinya bersyukur atas rezeki yang diberikan.
Selalu ada jalan bagi orang yang berusaha.
Tak lama kemudian, sebuah mobil sedan berhenti tepat di depan tokonya. Seorang pria berparas tampan nan teduh turun dari kendaraan tersebut. Dia tampak melihat ponsel lalu kemudian kembali melihat plakat yang terpasang di depan.
__ADS_1
Pria itu tersenyum lalu berjalan mendekat.
"Permisi."
"Iya, pak. Ada yang bisa dibantu?" Karyawan yang bernama Tika itu menyambut Harun. Sedangkan Arumi berdiri membelakangi membuat adonan dessert.
"Saya mau ambil pesanan Bu Ira," jelas Harun.
"Bentar, yah, Pak."
Harun mengangguk. Dia membiarkan karyawan tersebut berbalik.
Tika mendekati Arumi. "Kak, pesanan Ibu Ira?" Gadis hitam manis itu mempertanyakan hal tersebut kepada bosnya.
Arumi menghentikan aktifitasnya. "Oh iya. Kamu lanjutkan ini. Biar Kakak yang urus."
Arumi bertukar posisi dengan karyawannya. Dia berbalik dan menyambangi pelanggannya yang sedang menunggu di depan.
Matanya mencari keberadaan Ibu Ira namun tak menemukan. Wanita cantik itu hanya melihat seorang pria berdiri bersedekap dengan tatapan keluar.
Tanpa banyak bicara, Arumi segera mengantongi pesanan salah satu langganannya. Arumi sudah tahu porsinya dan juga sudah tahu varian apa yang ibu Ira suka.
"Permisi. Pesanan ibu Ira," ucap Arumi dengan suara lembut.
Kalimat tersebut membuyarkan lamunan Harun. Dia menoleh menuju sumber suara tersebut dan ...
Keduanya saling menatap.
2 detik
3 detik
Mereka sama-sama tersadar dan mengalihkan pandangan. Harun segera mengambil dompet dan menyerahkan beberapa lembar uang merah.
Keduanya bertukar. Arumi mengambil uangnya sedangkan Harun barangnya.
Arumi menunduk segera meraih laci untuk kembaliannya.
"Terima kasih." Kompak mereka mengucapkan kata tersebut. Mereka menelan ludah. Salah tingkah jadinya.
"Saya permisi." Harun segera berbalik menuju kendaraannya.
Saat pintu mobil tertutup. Dia mengehela napas dan menggeleng pelan. Harun melajukan mobilnya meninggalkan toko dessert itu.
*****
Arumi pun demikian, dia berbalik dan menghela napas. Dia mengedikkan bahu dan bergabung dengan Tika.
__ADS_1
"Aku baru lihat pria tadi, Kak. Apakah anaknya Ibu Ira?" ucap Tika membuka pembicaraan dengan Arumi tanpa menghentikan aktifitasnya.
"Mungkin." Arumi menjawab cuek.
Tika cekikikan. "Ganteng, yah, Kak." Gadis manis itu membayangkan wajah pelanggannya yang baru pulang.
Arumi tidak menanggapi ucapan karyawannya. Entah mengapa, dia begitu malas membicarakan masalah pria.
"Kak Rumi, juga jangan terlalu cuek, mah."
"Husssttt! Anak kecil!"
Gadis berusia 18 tahun itu tertawa. Membuat Arumi menggeleng. Keduanya memang sangat dekat, hingga Tika pun tak sungkan menggoda seorang Arumi Anggun.
*****
Harun menyimpan kantong plastik tersebut di atas meja makan. Bunda Ira yang melihat itu segera menghampiri putranya.
"Ada yang ownernya katakan, Run?" tanya Bunda Ira. Karena memang selama berlangganan, ini pertama kalinya mengutus seseorang untuk mengambil pesanan.
"Tidak ada. Ownernya tak bilang apa-apa."
Bunda Ira ber 'Oh' ria.
Harun Segera berlalu menuju kamarnya. Dia menyimpan tas lalu duduk di sofa. Pria itu mengusap wajahnya.
******
Jam menunjukkan pukul sembilan malam. Arumi menutup toko. Saatnya untuk pulang istrahat setelah seharian berkutat dengan pekerjaan.
"Tika pamit dulu, yah, Kakak Cantik."
Arumi mengangguk. "Hati-hati, yah."
Gadis manis itu berlalu meninggalkan Arumi. Sedangkan dia pun juga bersiap-siap untuk pulang.
Jarak rumah keduanya dari toko tidak terlalu jauh. Cukup dengan berjalan kaki sekitar 10 menit, mereka sampai.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Salam
AAH♥️