TERGODA

TERGODA
Tergoda 43


__ADS_3

Readersnya AAH♥️ TIAP BACA EPISODE, TINGGALKAN JEJAK LIKE, COMMENT, RATE DAN VOTE. GAK MINTA BAYARAN KOK. CUKUP MAINKAN SAJA JEMPOLNYA. OK!


Selamat Membaca😘


.


.


.


.


"Menikah sekarang atau jangan pernah muncul di kehidupan kami lagi!" tekan Pak Wijaya.


Satu kalimat membuat Debby termangu. Yah, ayahnya menyuruh untuk menikah sekarang dengan Akmal. Memang pria itu akan bertanggung jawab dan Debby mendengar sendiri dari mulut pria itu.


Tapi apa kabar dengan Ibu Susan? Mertuanya sama sekali tak merestuinya.


"T-tapi A-ayah ...."


Pak Wijaya menatap anaknya dengan tajam dan menusuk. Sedangkan ibunya sudah merangkul Debby.


"Saya tidak mau dengar tapi-tapian! Bawa pria itu kemari dan menikah sekarang juga!" Pria paruh baya itu berbalik dan menghela napas kasar. Emosinya betul-betul telah sampai ke ubun-ubun. Seandainya istrinya tak menahan mungkin tangannya sudah mendarat.


Debby memeluk ibunya. Wanita itu memikirkan bagaimana menjelaskan kepada ayahnya. Dia diambang kebimbangan.


"Ibu ...."


"Hiks! Kenapa bisa begini, Nak ...." Ibu Mita menangkup wajah sang putri.


*****


Arumi ditemani Mama Reni akan menyambangi pengadilan agama. Dia ingin segera mengurus berkas perceraiannya dengan mantan suaminya.


Wanita rapuh itu ingin memutuskan benang kusut diantara mereka. Dia ingin lepas dan ingin menyelesaikan semuanya.


Diperjalanan Arumi terus terdiam. Penampilannya pun tak seanggun biasanya. Jika ada yang melihat mungkin mereka tak percaya jika itu adalah Arumi.


"Kamu harus kuat, Nak .... jangan lemah," ucap wanita paruh baya itu.

__ADS_1


Arumi berbalik menatap Mama Reni. Dia mengangguk lemah.


Tiba-tiba ponsel berdering. Dia melihat nama yang terpampang di layar. Yah, yang menghubungi adalah mantan besannya. Wanita paruh baya itu tak menghiraukan.


*****


Akmal bangkit dari duduknya. Dia masuk ke dalam. "Arumi ... buatkan kop-" Tanpa sadar dia memanggil wanita yang tak tinggal di rumah itu lagi.


Dia terduduk di atas kasur. Pria itu meremas rambutnya. Akmal menatap isi kamar tersebut dengan mata yang mulai berkaca-kaca.


Pria itu bangkit dan membuka lemari yang dipenuhi dengan pakaian mereka berdua. Dia mengambil salah satu gaun Arumi berwarna biru muda. Yah, itu adalah gaun pertama setelah tinggal di rumah ini.


"Arumi ...."


Akmal menghirup aroma parfum mantan istrinya. Baru semalam semenjak kepergian wanita itu. Ada rindu hadir di hatinya. Bahkan sangat rindu.


Dia rindu dengan perilaku lembut wanita itu. Senyuman wanita itu dan perhatian-perhatian kecil wanita itu. Namun sekarang semua hanya tinggal kenangan.


"Arrrgggg!"


*****


Tok ... tok ... tok ...


"Mas ... buka."


Handel bergerak dan membuka benda tersebut. Menampakkan sang pemiliknya. Akmal berdiri menatap wanita itu. "Ada apa?"


Tapi fokus Debby beralih pada tangan Akmal yang masih memegang gaun biru muda itu. Yah, tanpa diberitahu pun dia sudah tahu jika itu milik mantan istrinya.


Debby ingin menyita pakaian itu, namun segera Akmal mengangkatnya. "Mas ... lepaskan gaunnya! Dia bukan istrimu lagi!"


Akmal tak menghiraukan ucapan wanita itu dan masih memegang benda tersebut.


Mata Debby berkaca-kaca. Oke! Bukan saatnya untuk berdebat. Secepat kilat dia menengadah menahan air matanya tidak jatuh. Lalu kembali menatap pria pujaannya.


"Ayah meminta kita menikah sekarang juga."


Satu kalimat yang meluncur lancar dari bibir ranum seorang Debby membuat Akmal berbalik. "Bisa kamu kasi aku waktu. Aku belum siap."

__ADS_1


Debby menyentuh lengan pria itu. "Mas ... ini tidak bisa ditunda-tunda. Mau sampai kapan? Perutku juga semakin membesar ...." Debby mungucapnya dengan suara yang bergetar.


"Iya, By! tapi aku belum siap!" Suara Akmal naik satu oktaf. Entah mengapa dia sangat sensitif masalah pernikahan. Baru saja semalam dia bercerai dengan Arumi, tapi hari ini wanita itu meminta untuk dinikahi.


Lagi-lagi air matanya meluncur. "Kamu bentak aku ...." Debby terduduk.


Akmal mengusap kasar wajahnya dan mendengus. "Aku minta maaf." Akmal memegang lengan wanita itu dan membangkitkan lagi.


"A-aku ingin kita menikah sekarang ...." Suara Debby parau. Dia menyentuh perutnya sebagai senjata.


Akmal tak menjawab. Matanya beralih melihat tangan Debby. Dia menelan ludah.


*****


Arumi telah berada di depan pengadilan agama. Tempat yang sama sekali tak pernah terlintas di pikirannya untuk dikunjungi. Dia menatap bangunan itu dengan perasaan yang teriris.


Mama Reni melihat anaknya. Dia tahu apa yang dipikirkan wanita itu. Namun secepat kilat dia membuyarkannya. "Sekarang kita masuk, Nak."


"Ma ...."


Mama Reni segera tersenyum dan menggeleng seakan memberi tahunya 'Jangan takut. Semua akan baik-baik saja' Dan yah, senyum itu terpalsu selama hidup wanita paruh baya itu


Dia mengusap lengan putrinya dengan sangat lembut. "yuk!"


Mama Reni dan Arumi saling berpegangan tangan. Mereka melangkah dengan pasti memasuki kawasan tersebut.


.


.


.


.


.


Follow Instagram : asriainunhasyim


Salam

__ADS_1


AAH♥️


__ADS_2