
JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK LIKE COMMENT RATE DAN VOTE 😉 DUKUNG TERGODA DENGAN CARA TERSEBUT.
IG : asriainunhasyim
Selamat membaca 😘
.
.
.
Di ruang yang gelap dan hampa tak ada cahaya yang menjadi penerang, seorang wanita duduk di sudut ruangan. Dia menenggelamkan wajah diantara kedua lutut.
Rambut indah yang bergelombang kini berubah menjadi pendek tak beraturan. Tubuhnya yang molek dan ideal kini pun tak nampak lagi. Kurus, dia benar-benar kurus.
Dia dijuluki bidadari penunggu oleh setiap yang melihatnya ketika berdiri dengan percaya diri mendampingi kendaraan roda empat. Tapi sekarang tak lagi. Julukan itu telah hilang bersamaan dengan nama baiknya tercoreng di masyarakat.
Masalah yang terjadi padanya, mulai rumah tangga sampai dengan kondisi lingkungan yang seringkali menyerangnya membuat wanita itu mengalami gangguan mental. Perubahan emosi yang terjadi pada dirinya. Terkadang sedih, takut berlebihan dan marah yang tak terkendali hingga berusaha untuk bunuh diri.
Orang tuanya begitu terpukul melihat kondisi anaknya termasuk sang ibu. Tak pernah terlintas dalam benak mereka jika putrinya akan mengalami hal seperti itu.
Semenjak Debby dikabarkan merebut suami orang hingga hamil, pada saat itu juga pintu masalah mulai terbuka. Tak ada kedamaian dan ketentraman seperti harapan orang tua kepada pernikahan putrinya. Semua terbalik.
"Ibu juga harus jaga kondisi," ucap Alea. Adik dari Debby. Gadis yang memiliki wajah hampir sama dengan sang kakak.
Ibu Mita menghapus air matanya. "Ibu kasihan, Nak, lihat kondisi kakakmu." Suaranya begitu sengau.
Alea hanya menipiskan bibir. Sudah ribuan kali dia mendengar kalimat itu dari mulut ibunya semenjak Debby sakit. Bukan berarti ibunya juga menyiksa diri dengan melupakan kondisi kesehatannya.
*****
Harun menawarkan untuk menjemput Arumi. Berulang kali wanita cantik itu menolak dengan alasan ia akan merepotkan, tapi bagi Harun tidak sama sekali.
Pada akhirnya Arumi mengiyakan. Tapi tunggu! Kenapa jantungnya mulai berdetak tidak karuan? Apa karena dia akan bertemu dengan Ahmad Harun Kamil?
Harusnya hal ini biasa bagi Arumi, tapi entak kenapa dirinya seperti anak gadis yang pertama kali mengenal cinta-cintaan.
Pikirannya jadi tidak tenang, hingga dia menjawab pertanyaan temannya sudah tidak konsentrasi lagi.
Selang beberapa puluh menit, ketika Harun mengatakan sudah berada di depan bank, Arumi kesusahan menelan ludah. Telapak tangannya mulai dingin.
__ADS_1
"Oh iya. A-aku pamit dulu." Sialnya dia mulai gagap.
Teman-temannya mengiyakan.
Arumi mulai melangkahkan kaki keluar dari bangunan tersebut. Pandangan tertuju pada kendaraan yang pernah berkunjung ke rumahnya.
Arumi menarik napas dan membuang berulang kali, sebelum kakinya kembali melanjutkan langkah mendekat. Tiba-tiba pintu mobil terbuka dan menampakkan sang pemilik yang berdiri dengan senyum tersungging di bibirnya.
Arumi berhenti. Dia mematung menyaksikan pria di depannya. Kenapa Harun sangat gagah di mata Arumi? Begitu pun sebaliknya, mengapa Arumi begitu cantik di mata Harun?
Pada akhirnya, kedua orang tersebut saling mengagumi satu sama lain.
*****
Arumi telah berada di dalam mobil bersama dengan Harun hingga kendaraan itu melaju. Tatapannya keluar jendela. Dia begitu tegang. Bernapas pun susah.
Bukan hanya Arumi tapi Harun pun demikian. Namun bedanya pria itu berusaha tetap tenang.
"Arumi," panggil Harun. Dia memecah keheningan yang menjadi penghalang.
"I-iya." Arumi hanya mampu melirik tapi tak mampu memandang secara terang-terangan.
"Kita makan dulu sebelum pulang," ucap pria itu. Walau bagaimanapun, ini pertama kalinya mereka keluar bersama.
Namun ajaib, wanita itu hanya mengangguk mengiyakan.
"Arumi."
"I-iya." Arumi meremas tali rantai tasnya. Tidak bisakah pria itu berhenti memanggil namanya?
"Mau makan apa?" tanya Harun meminta pendapat.
"Aku ngikut ajah," pasrahnya.
Harun mengangguk. Dia membelokkan mobil kesalah satu restoran terdekat.
Mata Arumi membelalak. Restoran itu sangat tidak asing. Yah, itu adalah tempat dinner-nya bersama dengan Akmal, Debby dan Dini. Awal kehancuran rumah tangganya.
Tapi kembali lagi, wanita itu mencoba untuk melawan. Sugesti pikiran dan hati bahwa keduanya hanya masa lalu yang harus dilupakan dan diikhlaskan.
Harun beranjak turun dan membuka pintu untuk Arumi.
__ADS_1
*****
Keduanya telah duduk berhadapan. Mereka pun telah memesan makanan dan menunggu sampai pesanannya datang.
"Bunda ingin bertemu denganmu." Harun kembali memulai pembicaraan.
Arumi tak berkedip. "U-untuk apa?" Meskipun Arumi kenal dengan wanita paruh baya tersebut, bahkan sangat kenal, entah mengapa dirinya panas dingin mendengar. Situasi berbeda.
"Mungkin hanya sekedar ngobrol dengan calon menantunya," jawab Harun.
Mendengar kata calon menantu, membuat kedua pipi Arumi bersemu merah. Wanita itu mengalihkan tatapan dari Harun, dia jadi salah tingkah. Ingin rasanya Arumi bersembunyi saat ini juga. "A-aku ...."
"Malu?" Harun menyambung kalimat Arumi yang tak sampai.
Wanita cantik itu menggigit bibir dan mengangguk lemah.
Seketika Harun tertawa melihat Arumi. Lucu sekali. "Bukankah kamu dan bunda sudah saling mengenal?" Seperti itu informasi yang diterima.
"Tapi beda ...," protes Arumi.
"Hei, kan ada aku. Jangan ragu." Harun meyakinkannya dengan lembut.
"Permisi." Percakapan mereka terpotong kala pramusaji mengantarkan menu pesanan. Perhatian keduanya beralih pada hidangan tersebut.
Harun menggulung lengan kemejanya sampai siku. Memang pria itu masih menggunakan pakaian kantor untuk menjemput Arumi.
"Mau disuap?" goda pria itu.
Secepat Arumi menggeleng. "Ih!"
.
.
.
.
.
Salam
__ADS_1
AAH💚