
"Aku masih punya beberapa mobil yang bisa dijual," ucap Akmal dengan suara pasrah. Mau bagaimana, itu jalan satu-satunya.
Satu kalimat yang keluar dari mulut Akmal membuat Asisten Rian termangu. Pria itu betul-betul tak tahu harus berkata apa. Yah, mengapa seorang Akmal harus menjual kendaraan demi untuk melunasi gaji para karyawan?
"Jual secepatnya. Sebelum mereka melakukan sesuatu yang dapat mencemarkan nama baik tempatnya bekerja."
Asisten Rian mengangguk. "Baik, Pak." Ingin juga rasanya pria itu mempertanyakan kemana Akmal selama ini dan mengapa tak pernah masuk kantor. Padahal dia tahu, Akmal adalah tipe bos yang sangat disiplin.
Akmal menghela napas berat. Dia mengusap wajahnya dan bersandar pada sandaran sofa. "Semuanya hancur, Rian."
Satu kalimat membuat Asisten Rian menelan ludah.
"Aku tak seperti dulu lagi." Akmal menatap langit-langit ruang tamunya. Wajah pria itu mengukir kegetiran dan sedih yang mendalam. "Penyanggaku telah pergi. Aku menyia-nyiakannya ...."
Rasa kasihan menjalari hati Asisten Rian. Dia tak tahu harus bagaimana. Bertahun-tahun dia mendampingi orang tersebut, baru pertama kalinya dia tampak seputus asa ini.
Asisten Rian tahu, jika semua berkaitan dengan masalah yang menjeratnya puluhan hari yang lalu.
Asisten Rian juga tahu sosok istri pertama Akmal Anggara Dinata. Dia wanita yang telah mendampingi bosnya selama ini. Rian juga tak bisa membayangkan betapa hancurnya Arumi atas perselingkuhan yang dilakukan bosnya.
Seandainya semua bisa kembali seperti dulu lagi.
*****
Sedarinya belanja, Arumi menyusun barang belanjaannya di dapur seraya menunggu pelanggan yang akan mengambil pesanannya. Sedangkan Dini, wanita itu telah pulang kerumahnya.
"Banyak yang pesan, Nak?" Mama Reni melihat sang putri yang sibuk di dapur.
Arumi menghentikan aktivitas dan berbalik menatap wanita yang telah melahirkannya. "Alhamdulillah, Ma. Rumi tidak menyangkan, banyak yang suka," ucap wanita itu disertai dengan senyum lembut.
Mama Reni sangat bersyukur melihat itu. Putrinya bisa tersenyum kembali setelah luka yang ditorehkan mantan suaminya. Arumi menyibukkan diri dengan tidak berlarut-larut dalam dukanya.
"Assalamualaikum ...."
__ADS_1
Seseorang memberi salam dan mengetuk pintu rumahnya. Spontan keduanya berbalik.
"Mungkin pelangganmu, Mi ...."
Arumi mengangguk. "Biar Arumi lihat dulu, Ma." Wanita cantik itu keluar melihat orang tersebut. Ternyata benar.
Seorang wanita paruh baya berparas teduh telah berdiri berdiri dengan senyum tersungging di bibir ranumnya. "Saya mau ambil pesanan, Nak," ucap wanita paruh baya tersebut.
Arumi tersenyum. "Masuk dulu, Bu." Arumi mempersilahkan pelanggannya duduk terlebih dahulu.
Wanita paruh baya itu duduk. Sedangkan Arumi kembali ke dapur guna mengambil puluhan dessert yang telah dibuatnya. Mama Reni membantu sang putri memasukkannya ke dalam kantong plastik.
Setelah selesai, kedua ibu dan anak itu keluar menghampiri pelanggan tersebut. "Semoga puas, yah, Bu dengan hasil buatan putri saya," ucap Mama Reni.
"Saya sudah coba, Bu, dan rasanya sangat enak. Manisnya pas," ucap wanita itu.
Mama Reni dan Arumi tersenyum sumringah.
"Terima kasih banyak, Bu," ucap Arumi.
"Iya. Saya juga terima kasih Koki Cantik," puji wanita itu.
Pipi Arumi bersemu merah. Keduanya mengantar kepergian wanita paruh baya tersebut sampai ke depan pintu. Mereka memandangi hingga mobil yang dikendarainya semakin mengecil dari balik pengelihatan.
*****
Belum genap satu jam, mobil Akmal telah melayang. Diantaranya adalah Lamborghini Aventador dan si hitam yang menjadi awal mulanya dengan Debby. Yah, mereka menjualnya dengan dalih ingin menggantinya dengan yang baru. Salah satu rekan bisnisnya membeli.
"Uangnya akan ditransfer secepatnya, Pak. Asisten mereka akan menjemputnya juga," jelas Rian.
Ada perasaan lega di hati Akmal. Tidak masalah jika kedua mobil kesayangannya terjual, yang terpenting gaji karyawan terbayarkan.
"Baguslah. Setidaknya uangnya sudah ada," ucap Akmal.
__ADS_1
Asisten Rian mengangguk. "Apakah besok, Pak Akmal akan ke kantor?" tanyanya ingin memastikan.
Akmal mengedikkan bahu. "Saya tidak tahu."
Asisten Rian hanya terdiam mendengar itu. Sejujurnya dia juga ingin mempertanyakan prihal pembangunan cabang yang ada di Kota B. Akan tetapi, melihat situasi dan kondisi sekarang, bukanlah waktu yang tepat.
Pembangunan tersebut tertunda atau bahkan tidak diadakan sama sekali. Miris. Dia tak menyangka Masalah yang menimpa atasannya mempengaruhi segala sisi kehidupannya.
Hening terbentang diantara keduanya. Tenggelam dalam pikiran masing-masing. Namun tiba-tiba ...
"Tolong!"
Suara teriakan terdengar. "Mas! Tolong!"
Teriakan Debby terdengar dari lantai atas. Spontan kedua pria itu beranjak dari duduknya dan naik menuju sumber suara tersebut. Apa yang terjadi?
"Mas! Tolong!"
Akmal dan Asisten Rian hanya melangkahi beberapa anak tangga hingga akhirnya sampai. Akmal segera membuka pintu dan ...
.
.
.
.
.
JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK LIKE COMMENT RATE DAN VOTE 😉
Salam AAH♥️
__ADS_1