
Readersnya AAH♥️ TIAP BACA EPISODE, TINGGALKAN JEJAK LIKE, COMMENT, RATE DAN VOTE. GAK MINTA BAYARAN KOK. CUKUP MAINKAN SAJA JEMPOLNYA. OK!
Selamat Membaca😘
.
.
.
.
Menit berganti jam, hari-hari terus berlalu. Kini cukup sebulan setelah kejadian yang menimpa Arumi. Kaki Arumi juga perlahan sembuh. Dia sudah bisa berjalan meski masih tertatih. Wanita itu terus berlatih setiap hari dengan memberikan semangat atas nama suaminya.
Akmal Anggara Dinata.
Sedikit demi sedikit Arumi sudah bisa mengerjakan pekerjaan rumah. Dia harus bisa demi untuk meringankan beban suaminya. Setiap subuh Arumi selalu bangun memasak menu sarapan dan makan siang untuk Akmal.
Yah, Akmal tentu saja menerima itu. Tapi kalap, Debby juga tak pernah absen untuk hal tersebut. Terkadang makan siang yang dibuatkan Arumi diberikan kepada sang asisten sedangkan makan siang yang diberikan Debby untuknya sendiri.
Hubungan antara Akmal dan Debby semakin dekat. Mereka sering telponan, sering ketemu, bahkan Debby sering menyusul ke kantor Akmal. Ironis bukan?
*****
Pagi itu, Akmal mandi. Sedangkan Arumi menyiapkan baju kantor untuk suaminya. Dia melakukan seperti biasa. Tiba-tiba ponsel Akmal berdering. Wanita itu menghampiri benda tersebut.
Arumi melihat nama yang terpampang di layar 'Putri' nama pernah dia lihat sebelumnya. Arumi mengangkat telpon tersebut. Baru dia menyapa, tapi orang di seberang telah mematikan.
Arumi mengerutkan kening. Wanita itu menatap layarnya. Dia begitu penasaran siapa orang tersebut. Arumi mencoba membuka ponsel Akmal namun siapa sangka, ponsel suaminya menggunakan kode.
Seumur-umur Arumi pacaran dengan Akmal sampai dia menikah, pria itu tidak pernah memberikan sandi kepada ponselnya. Ada apa?
__ADS_1
*****
Kepala Debby pusing. Dari semalam perutnya terasa tidak enak. Wanita itu berbaring dengan sangat lemas di atas springbed. Minyak angin telah tersapu dibagian pelipisnya. Mungkin saja masuk angin.
Dia ingin menelpon Akmal memberitahunya bahwa dirinya sakit. Debby juga ingin memberi tahu untuk tidak menjemputnya ke kantor karena memang kondisi tidak memungkinkan.
Namun nahas, pada saat dia menghubungi pria itu, yang mengangkat bukan pemilik ponsel melainkan Arumi. Dengan cepat dia mematikan. Dia menarik napas dalam dan membuangnya. Hampir saja.
Kemana, sih, mas.
Debby merasa kesal dengan Akmal. Dia membanting ponselnya. Tiba-tiba dia menangis tersedu-sedu seperti telah dicampakkan oleh pria itu. Kenapa dia secengeng ini?
"Jahat. Hiks ...."
Dia menelungkupkan wajahnya dibawah bantal. Membuat benda tersebut ikut basah karena ulah air matanya.
******
Akmal keluar dari kamar mandi. Pria itu mengibaskan-ngibaskan rambutnya yang basah. Sesaat, pandangannya tertuju pada Arumi. Dia melihat wanita itu memegang ponselnya.
"Kenapa ponsel, Mas, diberi sandi? Biasanya, kan, gak begini?" Arumi menuntut penjelasan dari suaminya. Dia tahu jika ada sandi berarti ada sesuatu yang tidak boleh diperlihatkan di dalam.
Akmal menelan ludah. Dia memutar otak. Alasan apa yang akan dia berikan kepada istrinya persoalan sandi itu. Yah, memang di dalam, terdapat sesuatu yang tidak boleh diperlihatkan. Salah satu chatnya dengan Debby.
"Tidak ada apa-apa, Sayang. Mas, cuman iseng ajah." Hanya kalimat itu yang meluncur lancar dari mulutnya.
Akmal segera menyibukkan diri dengan memakai pakaiannya. Dia bernyanyi kecil sebagai upaya istrinya tidak memperpanjang pertanyaan.
"Tadi ... atas nama Putri menelpon, Mas."
Satu kalimat membuat Akmal menghentikan kegiatannya. Dia segera berbalik. Dengan mengambil ponsel tersebut dari tangan istrinya. "Kamu angkat?"
__ADS_1
Arumi mengangguk lemah. Dia memang mengangkat namun tak berbicara. Akmal menatap tajam Arumi. "Dia bilang apa?"
"Dia tidak bicara. Langsung mematikan." Arumi melihat balik suaminya dengan pandangan curiga. "Putri itu siapa, Mas?"
Akmal memalingkan wajah dan menghembuskan napas kasar. "Klien." Pria itu berbalik dan melanjutkan berpakaian.
"Tapi aku sering dapat dia menelpon setiap pagi." Arumi melempar pernyataan. "Apa klien, Mas, harus sesering itu menghubungi?" tanya Arumi dengan curiga.
Akmal tak menjawab. Dia tetap melakukan pekerjaannya tanpa memperdulikan ucapan istrinya. Dia ingin segera berangkat. Tak mau memperpanjang perdebatan.
"Mas, Aku tanya ...." Arumi berjalan dengan masih tertatih-tatih ke samping suaminya.
Akmal berbalik menatap wanita itu. "Arumi, sebentar lagi, Mas, mau berangkat buat cari nafkah. Apakah harus pergi dengan keadaan seperti ini? Bukannya malah diantar dengan senyum, tapi ini pancing dengan masalah."
Arumi termangu mendengar ucapan suaminya. Kenapa Akmal begini? Mata wanita itu mulai berkaca-kaca. Ini bukan jawaban yang dia harapkan. Lagi pula, Arumi bertanya dengan baik-baik.
"Mas Akmal ...."
Akmal mengambil tas dan berlalu pergi. Dia tak mau berlama-lama di ruangan itu. Bukan karena apa, dia hanya ingin menghindari pertengkaran dengan istrinya.
Air mata Arumi menetes. Dia tak menyangka jika Akmal bersikap seperti itu. Arumi menengadah menahan agar air matanya tak terjatuh lagi.
Dia berjalan menyusul sang suami ke bawah. Namun lambat. Akmal telah melajukan kendaraannya meninggalkan rumah. "Hati-hati," ucapnya meski sang suami tak mendengar.
.
.
.
.
__ADS_1
Salam
AAH♥️