
Readersnya AAH♥️ TIAP BACA EPISODE, TINGGALKAN JEJAK LIKE, COMMENT, RATE DAN VOTE. GAK MINTA BAYARAN KOK. CUKUP MAINKAN SAJA JEMPOLNYA. OK!
Selamat Membaca😘
.
.
.
.
.
Dua hari setelah insiden itu, Akmal tak lagi mendapat paket makan siang. Dirinya mulai bertanya-tanya, mengapa istrinya tak lagi mengirim.
Pada saat jam istirahat tiba, dia akan menunggu. Asisten Rian menawarkan makanan namun Akmal tak menerima dengan dalih paket dari Arumi sebentar lagi tiba.
Pintu tak kunjung terbuka. Karyawan yang mendapat tugas untuk bertemu kurir juga tak pernah mengetuk pintunya lagi.
Terkadang dia memberikan kode kepada Arumi, dengan mengirimkan WhatsApp 'Sayang' dengan arti waktunya telah tiba. Namun Arumi hanya membalas seperti biasa.
"Maaf, Pak. Sebentar lagi jam istirahat selesai. Apa saya perlu ke rumah, Pak Akmal menjemput langsung makan siang itu?" Asisten Rian sebenarnya ikut menunggu, tapi tak ada.
"Tidak perlu!"
Akmal betul-betul tak paham. Dia menghela napas panjang dan memutuskan untuk menanyakan langsung kepada istrinya ketika ia pulang ke rumah.
*****
Tepat pukul 2 siang hari, Arumi bersiap-siap keluar. Tujuannya adalah klinik dokter kandungan. Dia ingin memeriksakan langsung rahimnya. Takut jika ada masalah. Wanita itu pergi diam-diam tanpa memberi tahu Akmal.
Dia menginjak pedal gas menuju klinik tersebut. Arumi hanya ingin memastikan kesehatan rahimnya dan berkonsultasi langsung dengan sang dokter.
Sesampainya, dia mengambil nomor antrian dan menunggu giliran. Cukup lama. Dia menatap sekeliling melihat para wanita dengan perut membuncit. Ada yang bersama suaminya dan ada pula yang bersama dengan ibu mereka.
Arumi menelan ludah. Dia juga ingin begitu. Merasakan nikmatnya mengandung buah cinta dengan Akmal Anggara Dinata. Yah, entah bagaimana rupa bayi mereka. Perpaduan wajahnya dengan sang suami.
__ADS_1
Cepatlah hadir.
Giliran namanya dipanggil. Dia pun beranjak dari duduk. Bertemu dengan dokter Novia dan melakukan tahap-tahap pemeriksaan. Arumi cemas-cemas harap menunggu hasilnya.
"Rahim Ibu Arumi sehat. Tak ada masalah. Hanya perlu jaga pola makan, jangan banyak pikiran apalagi sampai stres. Ingat! Bukan hanya wanitanya saja yang berperan, tapi suaminya juga." Dokter Novia memberikan wejangan.
Arumi bernapas lega. Setidaknya tidak ada gangguan pada rahimnya. Itu sudah cukup. Dia tersenyum kepada dokter tersebut.
"Baik, dok. Terima kasih."
Arumi mengakhiri pertemuan dengan dokter. Dia pulang ke rumah dengan membawa beberapa vitamin yang diberikan tadi.
*****
Arumi memarkir kendaraannya di garasi. Dia melihat mobil suaminya lebih dulu ada di sana.
"Hmm ... bosnya sudah lebih dulu tiba," gumam Arumi.
Wanita cantik itu melangkahkan kaki memasuki rumah. Dia mengedarkan pandangan mencari Akmal namun tak menemukan.
"Dari mana saja?" tanya Akmal.
Arumi tak langsung menjawab. Dia langsung memeluk pria itu. Namun tak mendapat balasan. "Tumben cepat datang."
"Dari mana?"
"Ada urusan tadi." Arumi tak menjelaskan. Wanita itu kembali mempertanyakan alasan Akmal cepat pulang.
"Aku pulang karena lapar," ucap Akmal ada kegetiran tersirat dibalik suaranya.
Arumi melepas pelukan dan menengadah menatap pria itu. "Biasanya, kan, makan di kantor." Wanita itu memang heran. Selama menikah, ini pertama kalinya Akmal cepat pulang dengan alasan lapar.
"Aku menunggu, Arumi. Aku tak makan karena menunggu ...."
Arumi mengerutkan keningnya. Dia sungguh tak mengerti dengan maksud ucapan sang Suami. Apa yang sebenarnya dia tunggu?
"Maksudnya, Mas, apa? Aku tak mengerti. Apa yang Mas Akmal tunggu?"
__ADS_1
Akmal memejamkan mata. Dia sudah tidak bisa main teka-teki lagi dengan istrinya. Pria itu pulang karena kelaparan, capek dan pada saat sampai di rumah dia tak menemukan Arumi. Sekali bertemu dia malah mendapat respon tak jelas dari wanita itu.
"Berhentilah berpura-pura." Akmal mengucapkan dengan penuh penekanan. Pria itu memegang kedua lengan wanitanya.
Maat Arumi mulai berkaca-kaca. Dengan sekali kedipan siap meluncur di pipinya. "A-ku tak mengerti ...." suaranya melemah diakhir kalimat.
Akmal memalingkan wajah dan menghela napas kasar kemudian beralih menatap kembali istrinya. "Bukankah setiap hari kamu mengirimkanku makanan?! Tolong, berhentilah berpura-pura bodoh!"
"A-apa ...," suaranya tercekat di tenggorokan. Bagai tersambar petir di siang hari, dia mendapat kenyataan pahit.
Runtuh sudah. Air mata yang ditahan kini meluncur bebas. Suara Akmal yang meninggi serta kenyataan bahwa suaminya mendapat kiriman makanan dari wanita lain yang jelas bukan dirinya.
Ketakutannya kini menjadi kenyataan. Siapa orang itu? Siapa yang selama ini menginginkan suaminya? Menginginkan miliknya?
Arumi menutup mulutnya yang kini mulai terisak. Sedangkan Akmal mengusap kasar wajahnya.
Pria itu duduk dan menarik napas berkali-kali untuk meredam emosinya. Dia menatap nanar wanita di depan.
"Arumi." Akmal beranjak dan memeluk erat istrinya. Perasaan bersalah melingkupi hatinya. "Maaf ... maafkan aku, Sayang."
Pria itu mengecup berkali-kali pucuk kepala wanita itu dan meminta maaf atas perlakuannya. Hatinya teriris mendengar isakan Arumi disebabkan karena dirinya sendiri.
"Maaf ...."
.
.
.
.
.
Salam
AAH♥️
__ADS_1