
Readersnya AAH♥️ TIAP BACA EPISODE, TINGGALKAN JEJAK LIKE, COMMENT, RATE DAN VOTE. GAK MINTA BAYARAN KOK. CUKUP MAINKAN SAJA JEMPOLNYA. OK!
Selamat Membaca😘
.
.
.
.
.
Keesokan pagi, di samping kamar tidur, Harun melakukan aktivitas rutin. Yah, dia berolahraga dengan fasilitas lengkap yang telah tersedia.
Peluh membasahi seluruh tubuh tak terkecuali wajahnya. Tetes demi tetes bergulir indah seiring dengan gerakan. Handuk yang berada di pundak dia gunakan untuk mengelap cairan asin tersebut.
"Huufff ...."
Pria itu menghentikan aktivitas dan menghela napas panjang seraya menyisir rambut ke belakang menggunakan jemari.
Panas, pria itu merasa panas menyengat seluruh tubuhnya.
Dia keluar menuju balkon kamar. Duduk tenang menunggu tubuhnya kering sebelum mandi.
*****
Pukul delapan, Harun sudah bersiap ke kantor. Hari ini, dia memakai kemeja biru navy melekat pas di tubuhnya yang berisi, dipadukan dengan celana kain hitam.
__ADS_1
Tangannya dengan lincah memasang dasi di leher. Seharusnya itu dilakukan oleh seorang istri, akan tetapi apa boleh buat, ketika dia belum memiliki.
"Selesai!"
Pria itu mengambil tas kerjanya dan turun ke bawah. Dia ikut bergabung dengan keluarganya untuk sarapan. Tak lupa senyum dia tebarkan untuk ketiga kesayangannya.
"Istirahatlah dulu, Nak, barang sehari." Ayah Kamil memberikan usulan kepada putra semata wayangnya. Bukan tanpa alasan, dia merasa kasihan melihat Harun yang terlalu sibuk bekerja.
Bunda Ira mengiyakan. "Istrahatlah dulu. Seminggu juga tidak apa-apa. Yah sekalian cari calon," ucap wanita paruh baya itu seraya meletakkan roti isi selai di atas piring Harun.
Bunda Ira merasa gemas dengan putranya. Dia sudah siap dari segi umur dan finansial tapi belum juga menikah. Kalau melihat Harun, rasanya bukan tidak mungkin banyak wanita menyukainya. Tapi entahlah!
"Sabar, yah, Bunda. Akan bertemu jika waktunya sudah tiba," ucap Harun. Dia mulai melahap roti tersebut.
Semuanya terdiam. Mereka tidak membalas ucapan Harun. Ketiganya juga mulai menyantap sarapan.
*****
Sudah setahun lebih Harun tak pernah lagi bertemu dengan Akmal Anggara Dinata. Terakhir datang pada saat temannya baru saja menikah.
Tak pernah mendapat kabar lagi setelah itu. Maklum, keduanya terlampau sibuk sehingga tak memiliki kesempatan walau hanya untuk bercengkrama.
Akmal juga pernah mengatakan jika akan memperkenalkan dengan istrinya, namun sampai sekarang itu belumlah terwujud.
Harun memarkir kendaraannya di area parkir. pria itu turun dengan gagahnya dan bertanya pada security.
"Mohon maaf, Pak. Saya ingin bertemu dengan pak Akmal?" tanya Harun.
Security tersebut diam sejenak. Tiba-tiba, "Oh, maksud Bapak, pemilik terdahulu perusahaan ini?" bukannya menjawab, tapi pria itu bertanya kembali.
__ADS_1
Harun mengerutkan kening. Kenapa mengatakan pemilik terdahulu? Apakah itu berarti ....
"Bos sekarang namanya siapa, Pak?" Harun ingin menuntaskan rasa bingung sekaligus terkejutnya.
"Perusahaan ini telah berpindah tangan, Pak, sejak setahun lalu. Pemiliknya sekarang bernama Yunan Suhartono."
Harun menelan ludahnya. Dia termangu mendengar penuturan security tersebut. Kenapa bisa? Pertanyaan demi pertanyaan muncul dibenaknya
"Pak!"
Harun spontan mengangguk. "B-baik, Pak. Terima kasih. Kalau begitu, Saya pamit."
Harun berlalu dari hadapan security dan segera memasuki mobil yang dikendarainya. Dia mengetuk-ngetuk stir dengan telunjuknya berpikir.
Hanya satu kemungkinan menurutnya ketika perusahaan tersebut berpindah tangan. Yah, Akmal mengalami krisis.
"Dimana dia Sekarang?" gumamnya. Dia meraih ponsel dan mencari nama yang jarang dia hubungi sama sekali 'Akmal'.
Namun nahas, nomornya tidak aktif. Harun melakukanya berulang kali, dia berharap jaringan yang mempengaruhi. Tapi sayang, lagi-lagi tak bisa.
Harun hanya mendengus. Dia menatap jam yang bertengger sempurna di pergelangan tangannya. Harun segera melanjutkan perjalanannya menuju kantor.
.
.
.
.
__ADS_1
.