
"Sepertinya, lahan yang ada di Kota B adalah tempat yang sangat strategis, Pak."
Asisten Rian memberikan masukan kepada Akmal prihal cabang perusahaannya yang akan ia bangun. Bukan tanpa alasan, Asisten Rian telah melihat tempat tersebut dan tahu peluangnya.
Asisten Rian menjelaskan secara detail. Mulai dari luasnya, posisinya serta masyarakatnya. Akmal yang mendengar itu mencerna baik-baik sebelum mengangguk paham.
"Baik. Minggu depan kita akan mengunjungi langsung tempat tersebut. Siapkan tiket penerbangan," titah Akmal. Meski sudah dijelaskan secara gamblang, namun tidak puas rasanya jika matanya tak melihat langsung tempat tersebut.
Rian hanya mengangguk. Dia sangat tahu sikap Bosnya. Akmal tipe pemimpin yang perfeksionis. Untuk pembangunan cabang perusahaan, betul-betul teliti mengingat ini adalah cabang pertama.
"Siap, Pak!"
*****
Akmal telah menyelesaikan pekerjaan dan bersiap untuk pulang. Dia memasuki kendaraan dan melajukannya. Tak lupa Pria Itu memutar musik untuk menemani kesendiriannya dalam berkendara.
Cinta karena cinta, tak perlu kau tanyakan
Tanpa alasan cinta datang dan bertakhta
Cinta karena cinta, jangan tanyakan mengapa
Tak bisa jelaskan karen hati ini telah bicara.
Lagu favoritnya terngiang, mengingatkan pada masa-masa pacarannya dengan Arumi. Sering kali dia memutar lagu tersebut ketika bersama dengan wanita itu.
Tiba-tiba matanya tertuju pada toko bunga. Dia memarkir kendaraan dan tersenyum. Akmal teringat kepada wanitanya yang sedang menunggu di rumah.
Arumi
Akmal turun dari mobil dan berjalan memasuki toko tersebut. Lonceng berbunyi memberi tanda kepada Sang Pemilik Toko.
"Selamat datang, Pak. Ada yang bisa saya bantu?"
Akmal mengangguk. "Aku ingin mawar kualitas terbaik yang ada di toko ini."
Pelayan menunjukkan bunga tersebut dan membuat buket berukuran sedang sesuai dengan permintaan pria tampan itu.
Setelah melakukan transaksi pembayaran, Akmal beranjak keluar dengan senyum yang tak pernah pudar. Sesekali mencium aroma mawar yang selalu mengingatkannya dengan Arumi.
Akmal ingin memberikan kejutan kepada istrinya. Pria itu tahu, bahwa Arumi sangat suka dengan mawar merah. Itulah sebabnya dia berinisiatif memberikan bunga indah tersebut.
Dia memasuki mobil dan kembali melajukan kendaraan.
*****
Jam menunjukkan pukul lima sore. Arumi telah selesai membersihkan tubuh. Dia bersiap menyambut kepulangan Sang Suami.
__ADS_1
Drrttt ... drrrtt ... drrttt ....
Arumi menyambar ponsel yang berada di atas nakas. Senyumnya mengembang ketika melihat nama yang tertera di layar benda canggih tersebut 'Dini'. Yah, itu adalah sahabat Arumi sejak SMA.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumussalam, Din," jawab Arumi dengan antusias.
"Bahagia banget, sih, pengantin baru," goda Dini. Dia ikut tersenyum mendengar respon sahabatnya.
Pipi Arumi bersemu merah mendengar. "Kangen, aku, tuh."
"Aku juga. Belakangan ini, kita jarang ngumpul bareng."
Arumi mengangguk meskipun Dini tak melihat. Dia membenarkan ucapan wanita itu. Semenjak menikah, waktunya hanya berfokus pada Sang Suami.
"Ya sudah. Atur jadwal kita kumpul," kata Arumi.
"Bagaimana kalau besok malam?" usul Dini. Wanita itu tak mau menundanya terlalu lama. Takut berujung batal.
Arumi lagi-lagi mengangguk. "Oke deh! Kalau tidak sibuk, ajak Johan sekalian. Aku akan mengajak Mas Akmal."
Seketika hening diantara mereka. Tak ada sahutan dari seberang telpon.
"Din?"
"Ya. A-aku ...."
"Ada apa?"
Dini menghela napas berat. "Aku dan Johan sudah putus."
Satu kalimat sukses meluncur lancar dari bibir sahabatnya membuat Arumi kaget. Dia tidak pernah membayangkan bahwa hubungan yang dijalani Dini selama 3 tahun lamanya berakhir.
Arumi mengira bahwa Dini dan Johan akan seperti dia dan Akmal mengingat kemesraan yang sering mereka tampilkan.
"Kenapa bisa? Bukankah hubungan kalian sangat baik?" tanya Arumi yang begitu ingin tahu.
"Hubungan kami tidak baik, Mi," ucapnya dengan suara parau dan serak. Matanya sudah menciptakan genangan air pedih. "D-dia ... s-selingkuh, Mi." .
"Apa! J-johan selingkuh?" Jantung Arumi berdetak lebih cepat. Mendengar kata selingkuh otaknya berhenti berpikir.
Tak terasa air lolos diantara pelupuk mata wanita itu. Dini meratapi nasib percintaannya. "Hiks …."
"Terus, kenapa kamu gak pernah cerita?" Arumi ikut merasakan pilu mendengar ucapan sahabatnya.
"A-aku m-malu, Mi. Hiks ...."
__ADS_1
Arumi menghembuskan napas panjang. Dia tidak ingin memojokkan sahabatnya. Dia tidak habis pikir, kenapa Johan sampai hati melakukan hal itu kepada Dini.
"Ya, sudah. Kamu tenangin diri kamu. Besok ketika kita bertemu, kamu harus ceritain semua sama aku."
Setelah puas menangis menumpahkan seluruh kesedihan, akhirnya wanita itu pun mengakhiri panggilan.
Arumi terdiam. Dia menyimpan kembali ponselnya dan duduk di tepian ranjang dengan pandangan lurus ke depan.
*****
Tit ... in ... tin ....
Akmal memarkir kendaraan pada garasi dan membunyikan klakson berulang kali pertanda dirinya telah tiba. Dia segera mengambil buket tersebut lalu keluar dari mobil.
Akmal mengedarkan pandangan. Dia mencari sosok yang dicintainya di teras rumah, namun tak menemukan.
Akmal melanjutkan langkah masuk dan melihat ruang tamu, keluarga, kolam renang dan dapur. Tapi lagi-lagi tak menemukan.
Dia beranjak ke lantai dua menuju kamar. Ketika dia membuka pintu, Arumi pun tampak duduk membelakangi.
"Arumi."
Tak ada jawaban. Akmal mendekat dan menyentuh pundak wanita cantik itu. Jelas Arumi terlonjak kaget.
"Mas Akmal!"
"Kok, ngelamun?"
Arumi mengusap wajahnya dan menatap pria di depannya. "Maaf, Mas, aku lupa," ucapnya dengan rasa bersalah.
Akmal hanya tersenyum. Dia memberikan buket bunga mawar kepada istrinya. "Untukmu."
Arumi menatap buket yang menggantung di depan mata. Kembali ucapan sahabatnya terngiang. "U-untukku?"
Akmal mengangguk mantap. "Iya untukmu!"
Arumi memaksa tersenyum. Entah mengapa ada rasa takut yang mencuat dalam hatinya. Dia takut jikalau suatu saat kebahagiaan rumah tangganya terganggu.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Salam
AAH♥️