
Entah berapa lama Harun menyandarkan kepalanya pada pintu mobil tersebut. Dia memejamkan mata. Mendengar detak jantungnya yang semakin berdentam.
Entah apakah yang dia tunggu akan kembali ataukah malah ....
Tiba-tiba, tangan lembut menyentuh pundaknya. Namun dia tak bergeming sama sekali. Dia masih nyaman dengan posisinya saat ini.
"Bang ...."
Suara elok yang menyapa indra pendengarannya membuat dia spontan membuka mata.
Harun menelan ludah. Mencoba meyakinkan hatinya jika memang itu adalah orang yang dinanti. Tapi apakah dia datang untuk mengucapkan selamat tinggal atau memang ....
Harun dengan pelan berbalik menatap sepasang bola mata indah. Lagi-lagi membuat hatinya berdenyut. Sulit untuk mengeluarkan kata-kata.
"Mata Abang merah?" tanyanya Arumi dengan suara yang amat lembut. Jemari lentiknya kini berpindah pada lengan yang terbungkus kemeja.
Namun Harun masih diam.
"Hei ...."
Harun memejamkan mata lalu membukanya kembali. Rasa takut semakin menyelimuti hatinya. "Bagaimana?" Satu kata yang keluar dari mulut Harun. Hampir tak terdengar.
Arumi tersenyum. Bola matanya bisa menangkap raut wajah kecemasan dari pria di depan. "Tak ada yang berubah."
"Akmal?" Pertanyaan kembali terlontar.
Arumi menggeleng pelan. "Aku dan Akmal sudah tak ada hubungan apa-apa lagi. Kami sudah lama bercerai."
Bercerai?
Harun menelan ludah. Ternyata memang benar, antara Akmal dan Arumi memiliki hubungan lebih. Bahkan mereka pernah hidup bersama.
"Semua baik-baik saja. Abang tidak perlu khawatir." Lagi-lagi Arumi menjelaskan secara pelan kepada pria yang sebentar lagi menjadi suaminya.
"Aku mencoba menerima perdamaian dengan masa laluku yang rumit. Aku tidak ingin ada kerikil yang menghambat perjalanan ke depannya."
Arumi menghentikan sejenak ucapannya lalu melanjutkan kembali, "Maaf jika tadi Abang melihat sesuatu yang kurang mengenakkan. Sama sekali bukan maksud apa-apa."
"Pernikahan kita?" Harun tak pernah mengalihkan tatapannya dari Arumi walau se inci.
Arumi mengangguk. "Kita tetap akan menikah. Arumi dan Harun tetap akan bersatu. Insya Allah semesta merestui keduanya."
Harun memejamkan mata dan menghela napas berat seakan mengeluarkan beban berton-ton dari dalam dadanya. Artinya Arumi tidak akan membatalkan. Itu yang paling penting.
"Jangan tinggalkan aku." Harun berucap dengan ekspresi mengiba.
Arumi tertawa pelan.
"Kenapa tertawa?"
Arumi menggeleng. "Tidak akan pernah." Arumi memajukan sedikit langkahnya dan berjinjit. "Terlanjur sayang." Selang beberapa detik, kembali ke posisinya semula.
Harun tersenyum. "Serius?"
__ADS_1
Meski wajah Arumi telah dihiasi rona merah, tapi sesaat kemudian dia berucap, "Iya Abang Harun-ku."
Harun terkekeh pelan. Inilah alasan mengapa dia tak bisa melepaskan Arumi. Tingkahnya yang membuat semakin menambah rasa.
Arumi memberenggut melihat respon Harun.
"Dek." Harun kembali memasang wajah serius.
Arumi kembali memusatkan fokusnya pada Harun.
"Abang tak pernah menyangka jika kamu adalah mantan istri Akmal. Sama sekali tak pernah menduga."
Arumi menipiskan bibir.
"Permainan takdir memang hebat."
"Apa Abang keberatan?" tanya Arumi dengan sendu.
Harun dengan cepat menggeleng. "Tidak! Dia adalah bagian masa lalumu yang harus Abang terima tanpa syarat."
Mata Arumi mulai berkaca-kaca.
"Dek."
"Ya."
"Jujur, Abang hanya cemburu." Harun menipiskan bibir.
"Kan-"
Seketika Arumi tersenyum malu. "Seminggu lagi."
Harun mengangguk. "Seminggu lagi. Setelah itu, Abang tak akan lepas."
*****
Keduanya kembali ke dalam melanjutkan makan setelah drama yang terjadi. Meski tanpa kehadiran Akmal diantara mereka berdua.
"Pak Harun."
Suara bariton menyapa mereka berdua. Terlihat pria dengan tubuh tinggi, tegap, bak aristokrat dengan bayi dalam dekapannya. Diikuti seorang wanita berhijab di samping.
"Pak Danish."
Mereka melakukan salam. Termasuk Arumi dengan istri Danish.
"Wah! Ini calonnya?" seloroh Danish.
Harun mengangguk mantap. Dia tersenyum sumringah. "Jelas, Pak."
Harun dan Danish adalah rekan bisnis sekaligus pemilik 'Danish Cafe'. Mereka telah lama kenal karena bergelut di bidang yang sama.
"Akhirnya nikah juga," imbuh Danish yang disambut gelak tawa seisi ruangan.
__ADS_1
"Halo jagoan!" Arumi menyapa bayi tampan nan gembul yang bergerak aktif di gendongan Ayah-nya.
"Bubbuu ... bbuuu ... bu," oceh bayi gembul itu.
"Jagoan namanya siapa?" tanya Arumi yang semakin tertarik dengan bayi rupawan tersebut. Tak salah memang. Turunan dari ayah bunda-nya.
"Bara, Aunty," jawab istri Danish dengan menirukan suara anak kecil.
"Datang, Pak! Bawa serta istri dan jagoannya," ucap Harun.
"Tentu! Kami sekeluarga akan datang." Danish mengiyakan.
"Pasti!" imbuh istri Danish.
Semuanya melanjutkan obrolan dengan hangat.
*****
"Plong?" tanya Harun.
Arumi mengangguk. "Aku ingin memulai hubungan baru dengan langkah yang ringan."
"Abang setuju, De. Pertemuan kita bertiga sudah kehendak yang di atas. Semua punya maksud dan tujuan. Salah satunya, Abang tahu jika pria itu adalah Akmal."
Arumi lagi-lagi mengangguk.
"Hilangkan semua dendam dalam hatimu. Ingatlah, sekecil apapun perbuatan manusia, semua akan mendapat balasan. Jika Akmal melakukan kesalahan yang fatal, dia akan menuai ganjaran yang setimpal."
Betul apa yang Harun katakan. Kehancuran rumah tangga, dikucilkan masyarakat, ditinggal mati oleh ibu dalam keadaan tak berbaikan, istri memiliki gangguan jiwa, kehilangan harta, dan terlebih anak yang tak berdosa pun akan terkena imbasnya.
Apakah itu tidak setara?
Arumi menipiskan bibir. Membenarkan ucapan calon suaminya.
"Ujian yang manusia dapatkan tak akan melebihi batas kemampuannya. Kita harusnya bersyukur, jikalau bukan karena masa lalumu kita tak akan pernah bertemu seperti sekarang. Jadikan pembelajaran untuk rumah tangga kita nantinya."
Arumi terharu. "Melalui peristiwa ini, ternyata Allah mengirim pria berhati malaikat." Arumi menoleh melihat Harun. "Terima kasih nasihatnya calon suamiku." Pandang Arumi dengan mata berbinar.
"Itu sudah menjadi tugasku, Dek. Dan ...." Harun menggantung kalimatnya.
"Dan apa?"
"Bentuk sayangku padamu."
.
.
.
.
.
__ADS_1
Salam
AAH♥️