TERGODA

TERGODA
S2. Tergoda 87


__ADS_3

Selesai acara siang, Harun dan Arumi kembali ke kamar untuk beristirahat. Akan dilanjutkan resepsi pada malam hari.


"Capek banget, yah?" tanya Harun yang melihat Arumi duduk di sofa.


"Tidak juga." Memang begitulah kenyataan. Rasa lelah menguap dan digantikan dengan momen membahagiakan.


Harun mendekati wanita yang telah sah menjadi istrinya. Dia duduk namun tak terlalu dekat. Cukup berjarak.


"Mau mandi dulu atau istirahat dulu?" lagi-lagi Harun melempar pertanyaan. Ada rasa gugup yang melingkupi. Akan tetapi sebisa mungkin ia tutupi dengan berbincang-bincang.


"M-mau bersihkan riasan dulu," jawab Arumi.


"Abang bantuin, yah," tawar Harun.


Arumi menggeleng. "T-tidak. Biar aku sendiri." Dengan cepat wanita cantik itu beranjak dari tempat dan segera berlalu menuju cermin.


Dia mulai membuka jilbabnya dengan mata yang tak henti melirik pria yang masih sangat setia menatapnya. Jangan ditanya, jantungnya mulai berdetak di atas batas normal.


Arumi menggerai rambut.


Harun memalingkan wajah dengan cepat. Dia segera membuka jas dan menyisakan celana kain dan baju kaos putih polos sebagai dalaman.


Hening tercipta. Tak ada lagi yang bersuara. Bahkan sibuk dengan kegiatan masing-masing.


Harun duduk di pinggir spring bed. Dia memainkan benda canggihnya dan melihat pesan berderet yang masuk. Yah itu adalah ucapan selamat dan do'a.


Cukup lama, hingga Arumi pun selesai. Dia berbalik menatap suaminya yang duduk berselonjor, kepala menunduk dan fokus dengan benda di tangannya.


Arumi mengambil hanger dan merapikan jas beserta kemeja Harun. Aroma maskulin pria itu menyeruak memenuhi indra penciumannya.


Aroma terharum di dunia.


Setelah selesai, Arumi memberanikan diri. Dia menarik napas dan menghembuskan perlahan. Lalu, mendekati pria sahnya.


"Bang," panggil Arumi dengan lembut.


Harun mengalihkan tatapan. "Ada apa?"


"A-aku pijitin, yah?" Seketika rasa panas menyerbu hingga membuat merah di permukaan kulit wajahnya.


Oh! Mengapa situasi secanggung ini.


"T-tidak perlu, Dek. Kamu pasti capek." Berusaha menahan.


"A-aku bisa, kok." Tanpa menunggu lama, Arumi duduk. Jemari lentiknya mulai melakukan aksi pada kaki Harun. Bisa dibilang, tugas pertama setelah menjadi suami-istri.


Pria itu melongo. Bersusah payah menelan saliva. Ada rasa bahagia dan haru berpadu dalam dada. "Dek ...."


"Ya," jawab Arumi tanpa menoleh sedikit pun. Matanya masih berfokus pada gerakan tangannya.


"Gantian, yah, Sayang." Harun memegang punggung tangan Arumi. Mau tidak mau, aktivitas wanita cantik itu terhenti.


Arumi tak berkedip. Mata indahnya menatap pria di depan. Terdengar jelas dentuman jantungnya yang meronta ingin keluar.


Tok! Tok! Tok!


Keduanya spontan berbalik menuju sumber suara. Arumi hendak membuka pintu namun Harun menahannya. Pria itu dengan cepat bangkit dan berjalan mendekati benda tersebut.


"Iya."


"Permisi, Pak. Saya antarkan gaun dan jas untuk resepsi."


"Oh Iya! Silahkan masuk!"


tiga orang wanita yang merupakan karyawan butik memasuki kamar. Mereka segera memasang gaun dan jas tersebut pada manekin.


Setelah selesai, ketiganya berpamitan keluar kamar. Harun menutup pintu dan kembali mendekati istrinya.


"A-aku mau m-mandi." Arumi segera berdiri. Wanita cantik itu segera masuk ke kamar mandi dan menutup pintu.


Arumi menyandarkan diri pada tembok dan menghirup oksigen sebanyak-banyaknya. Padahal ini bukan pengalaman pertama, tapi mengapa semua terasa mendebarkan.

__ADS_1


Arumi segera membasuh wajahnya dengan air dingin.


Please, jangan seperti ini.


*****


Di aula, masih terdapat beberapa orang. Termasuk Mama Reni dan seluruh keluarga Harun. Mereka masih berbincang-bincang hangat.


"Pengantin baru kemana?" tanya Bibi Arumi yang tak melihat batang hidung keduanya.


"Mereka pamit istirahat," jawab Mama Reni yang disambut anggukan.


"Astaga! Mereka belum makan apapun," sahut Bunda Ira dengan raut khawatir.


Wanita paruh baya itu berbalik memanggil salah satu pelayan hotel dan menginstruksi mengantarkan makanan untuk Harun dan Arumi.


"MUA datang jam 5 nanti. Anak buahnya juga akan merias kita," imbuh Bunda Ira.


"Ya sudah! Istrahatlah dulu sebelum mereka datang." Ayah Kamil menatap jam yang bertengger di pergelangan tangannya. "Masih ada waktu 3 jam."


Mereka pun mengiyakan.


*****


Arumi merendam tubuhnya di dalam bath up. Menikmati sensasi aroma sabun yang menenangkan.


"Dek ...."


Sayup terdengar Harun memanggil. Memang sudah cukup lama dirinya di dalam tempat tersebut tanpa memedulikan waktu yang terus bergerak.


"Dek ...." panggilan kedua. Arumi segera beranjak. Dia memakai jubah mandi lalu keluar.


Terlihat Harun telah berdiri di depan pintu menunggu. Namun saat mereka saling menatap, keduanya kembali terdiam.


Arumi menunduk dengan wajah yang tersipu. Begitu pun dengan Harun, sekujur tubuhnya terasa kaku.


"M-maaf. Abang hanya khawatir kamu terlalu lama di dalam." Memalingkan wajah yang ikut memerah.


"Iya. Setelah itu, kita makan."


Arumi berjalan melewati Harun. Wanita cantik itu melangkah tanpa mengangkat wajah. Dia menyiapkan keperluan sang suami yang berada di dalam koper.


Jujur, ada rasa yang sulit didefinisikan melakukan hal tersebut.


*****


MUA beserta tim telah datang. Mereka siap melakukan aksi. Menyentuh wajah Arumi dengan kuas ajaibnya.


Wanita cantik itu telah duduk anteng di depan cermin. Sedangkan Harun, dia melepas jas dari manekin hendak memakainya.


"Yang rias Bunda siapa?" tanya Bunda Ira yang menyembul dari balik pintu.


Carol menunjuk salah satu asistennya. "Jeny yang akan membantu Tante."


"Oke! Saya dan besan saya akan dirias di kamar sebelah agar kalian juga bisa leluasa untuk pengantinnya."


"Baik, Bu," sahut Jeny seraya mengangkat koper make up dan mengikuti Bunda Ira dari belakang.


Carol melakukan tahap demi tahap. Menyelasaikan pekerjaannya dengan bersemangat. Menyelipkan godaan kepada kedua pengantin baru tersebut.


"Cantik dan tampan," puji Carol.


"Cocok, Sis!" seloroh salah satu tim.


Harun maupun Arumi hanya mampu tersenyum simpul mendengar.


*****



Semua orang telah bersiap. Sebentar lagi raja dan ratu memasuki ruangan dan menaiki singgasananya. Senyum bahagia jelas terlukis di bibir. Mereka diapit oleh Mama Reni dan Bunda Ira.

__ADS_1


"Siap?" tanya petugas kepada kedua mempelai.


Harun mengangguk.


"Silahkan!"


Harun dan Arumi melangkah. Tangan wanita cantik itu bergelayut pada lengan suaminya.


Bapak Ibu, hadirin sekalian. Bersama-sama kita sambut raja dan ratu kita pada malam hari ini. Dr. Ahmad Harun Kamil, B.B.A., M.B.A. Beserta permaisuri, Arumi Anggun, S.E.


Dimana, tepat pukul 11.00 siang tadi, telah mengucap ikrar pernikahan yang disaksikan langsung oleh keluarga besar kedua mempelai.


Semoga keduanya menjadi keluarga sakina, mawaddah, warahmah.


Suara bass MC kembali menggema di ruangan elegan yang bertabur tamu dengan penampilan terbaik mereka. Musik mengalun dengan syahdu menyertai langkah Harun dan Arumim


Seluruh kamera tertuju pada keduanya. Sekadar untuk mengabadikan momen tersebut.


"Akhirnya, Pak Harun."


"Arumi ...."


"Cocok bener!"


Pujian-pujian adalah hal yang yang tak pernah lepas. Namun Harun maupun Arumi hanya membalas dengan anggukan sekali atau pun dengan lambaian tangan.


****


Satu persatu tamu mulai berdatangan memadati aula. Mulai keluarga tentunya, kerabat, teman maupun rekan bisnis Ayah Kamil dan Harun sendiri.


"Halo jagoan!" Sapa Arumi kepada si gembul. Putra Danish.


Keluarga bahagia itu, turut menghadiri undangan. Kompak mereka bertiga menggunakan pakaian dengan warna senada (Maroon).


Danish dengan jas yang sama persis dengan putranya. Sedangkan Sang Istri menggunakan gaun yang melekat indah di tubuhnya.


"Bu ... bubbu ... bu ...." oceh Bara.


"Selamat Aunty ...." seloroh istri Danish menirukan suara anak kecil.


"Selamat Pak Harun dan Bu Arumi. Semoga kalian menjadi keluarga sakina, mawadda, warahmah," ucap Danish seraya mengajak bersalaman.


"Cepat pula dapat momongan," imbuh istri Danish yang disambut senyum malu keduanya.


"Terima kasih juga untuk kedatangannya."


Mereka berfoto, sebelum turun dari atas panggung.


*****


Dari jarak jauh, seorang pria dengan langkah yang berat memasuki aula.


.


.


.


.


.


Halo-loha readers 😁 Maaf yah kalau update-nya kelamaan. Otor lagi dimabuk kesibukan😂


Terima kasih banyak atas dukungan untuk TERGODA. Dengan berat hati, otor menyampaikan, tinggal menghitung bab TERGODA selesai.


Nikmati yah😁🙏


Follow IG : asriainunhasyim


Salam

__ADS_1


AAH ♥️


__ADS_2