TERGODA

TERGODA
Tergoda 40


__ADS_3

Debby yang melihat adegan itu meremas jemarinya. "A-apa aku turun?" Wanita itu berpikir bahwa setelah mengatakan kalau dirinya hamil, mungkin Ibu Susan akan menerimanya.


Yah, memang belum hadir seorang cucu diantara hubungan Akmal dan Arumi. Dia pernah mendengar jika hadirnya seorang bayi akan membawa gembira bagi keluarga. Terutama orang tua.


Debby mengangguk mantap. Dia memegang perutnya. "Mungkin saja demikian," gumamnya.


******


"A-aku m-menyakitinya, Bu ...."


Satu jawaban Akmal membuat ibu Susan termangu. Dia memegang lengan putranya dan membangkitkan pria itu. "Kau apakan istrimu?" suaranya kecil tapi menusuk. "Anak saya tidak mungkin menyakiti fisik seorang wanita ...."


Akmal menelan ludah. Bukan fisik tapi batin. Itu sakit yang tidak ada tandingannya. Tak berdarah. Itulah kesalah terbesarnya.


"Katakan ...." ucapnya dengan penuh penekanan.


Buliran keringat dingin telah membasahi pelipis Akmal.


"Ibu Susan ...."


Ucapan Akmal terpotong. Satu suara berada diantara mereka berdua. Wanita bodoh itu turun. Ibu Susan dan anaknya spontan berbalik.


"Kamu!" Wanita paruh baya itu mengenali sosok dengan rambut yang bergelombang. Matanya menajam.


"Debby ...." Sorot mata Akmal mengatakan untuk apa kesini? Tingkah ceroboh wanita itu membuat Akmal semakin tersudutkan.


"Ada apa?" tanya ibu Susan.


Namun wanita itu tak menjawab. Dia hanya mematung bak orang bodoh. Entah mau bilang apa. Tangannya meremas satu sama lain.


Ibu Susan kembali menatap putranya. Dia tak menghiraukan keberadaan wanita itu.


"Jawab Ibu!"


Debby menghela napas. "Karena aku mengandung anaknya ...." Debby memejamkan mata. "Mas Akmal sudah menalaknya ...."


DEG!


Ucapan spontan Debby membuat jantung Ibu Susan semakin berdentum keras. Darahnya memanas sampai ubun-ubun. Ucapan wanita itu bagai genderang perang.


"Apa maksudmu?!" Dia menatap putranya dan Debby bergantian. "Ha?!" Ibu Akmal menggertakan gigi. Tiba-tiba ...

__ADS_1


PLLAAKKKK!


Suara tamparan keras menggema. Akmal merasakan pipinya yang panas. Saat pria itu mencoba menoleh. Namun ...


PLLAAAAKKK!


Satu tamparan lagi menambah pedihnya pipi pria itu. Dia hanya bisa memejamkan mata. Dia memang pantas menerimanya.


"Dasar anak tak punya malu!" Suara ibu Susan sudah bergetar karena begitu emosinya. "Apa kamu sadar dengan perbuatanmu itu?!"


Akmal hanya tetap diam. Sedangkan Debby meluncurkan air matanya. Dia salah. Benar-benar salah. Tak ada pembenaran dari perbuatannya.


"Arumi adalah wanita baik. Dan kamu membuangnya demi wanita ini! Yang kehormatannya saja rela dia berikan kepada pria bukan mahramnya!" Lantang Ibu Susan.


Bagai benda tajam yang menghunus dada Debby. Dia betul-betul sakit mendengar pernyataan wanita paruh baya itu. Bagaimana ini?


"Arumi menemanimu, mendampingimu dari gembel sampai sekarang! Dan kamu sakiti dia! Dimana otakmu sebagai pria?!" bentak Ibu Susan. Kepalanya benar-benar ingin meledak merutuki kebodohan Akmal.


Dialah saksi dari kisah percintaan anaknya dengan wanita yang bernama Arumi Anggun. Wanita dengan begitu tulus dan sabar bertahan dengan Akmal hingga di titik kejayaan.


Pria itu lagi-lagi mendapat tamparan tak kasat mata. Ucapan ibunya bagai sebuah bom.


"Saya benar-benar kecewa ...."


Ibu Susan menatap Debby. "Dan kamu!" Ibu Susan menunjuk wanita itu. "Cih! Jangan harap saya menerimamu! Saya tidak punya menantu selain Arumi! Hanya Arumi!" Ibu Susan mendekati Debby. "Camkan Itu!"


Arumi ... Arumi ....


Debby menutup mulutnya menahan isakan tak bergunanya. Air matanya sama sekali tak menarik simpati akan wanita paruh baya itu.


"Dan sekali lagi! Jika kamu wanita baik-baik, kamu tidak akan menikam sahabatmu dari belakang!" tekan ibu Susan. "Jangan pernah memunculkan wajahmu di hadapanku!"


Ibu Susan memundurkan langkahnya. "Sekarang, nikmatilah kebodohan kalian! Kebodohan yang akan kalian sesali seumur hidup!"


*****


Ibu Susan memasuki mobil dan membanting pintunya. Asisten Rian segera mengikut dan melajukan kendaraannya. Drama pertama kali yang dia lihat selama hidupnya.


Diperjalanan Ibu Susan menangis. Dia begitu terpukul dengan kenyataan yang terjadi pada rumah tangga anaknya yang harmonis hancur.


Yang lebih parah adalah Akmal menghamili wanita lain sehingga menghadirkan makhluk. Meskipun harapannya menginginkan seorang cucu tapi tidak seperti itu. Dia bahkan enggan mengakuinya.

__ADS_1


Dada sebelah kiri semakin nyeri. Wanita itu hanya bisa meremasnya.


Ingatan tertuju pada Arumi. Isakannya semakin menambah. Dia bisa merasakan bagaimana rapuhnya wanita itu. Suami yang seharusnya menjadi pelindung malah balik menyerangnya.


"Arumi ... hiks!"


*****


Setelah kepergian ibunya, Akmal bagai orang linglung. Dia melangkah masuk. Tak memperdulikan isakan Debby.


Dia berhenti kala ekor matanya menangkap mawar kesayangan Arumi. Yah, kelopaknya benar-benar layu.



Mawar yang mulanya mekar dan mengeluarkan aroma harum kini tak lagi. Yah, diapun tak pernah menyiramnya dan memperhatikan.


Akmal mendekati tanaman itu. Dia berlutut. "Aku jahat ... memang jahat ...." Dia berbicara kepada mawar tersebut seakan meminta balasan. Namun nihil.


Akmal mengusap sudut matanya yang berair. "A-aku yang membuatnya pergi. Dia ... benar-benar pergi ...."


Akmal menyentuh bunga itu dengan tangan yang bergetar. Hatinya teriris.


.


.


.


.


.


Maaf kalau MICINNYA terlalu banyak🤧


Jangan lupa tinggalkan jejak 😉


Agar jadwalnya lebih jelas dan teman-teman tidak menunggu tanpa kepastian (Ciee), silahkan follow akun IG: asriainunhasyim


"INFONYA DAPAT DILIHAT DI INSTASTORY"


Salam

__ADS_1


AAH♥️


__ADS_2