TERGODA

TERGODA
Tergoda 39


__ADS_3

Asisten Rian menjemput ibu dari bosnya. Sepanjang jalan wanita paruh baya itu termenung. Masih sangat sulit untuk mempercayai apa yang terjadi pada rumah tangga anaknya.


Asisten Rian memandangi dari balik spion. Dia melihat betapa tegangnya wanita itu. Tatapannya kosong keluar jendela. Entah apa yang dia pikirkan.


Mobil memasuki kawasan rumah Akmal. Asisten Rian memarkir kendaraannya. Dia segera turun dan membuka pintu untuk bosnya.


Segera wanita paruh baya itu turun. Matanya terfokus pada pintu rumah anaknya yang tertutup rapat. Namun mengapa jantungnya sudah memompa hebat.


Wanita paruh baya itu melangkah dan memencet bel berkali-kali, tapi tak ada sahutan.


"Apakah ada orang di dalam?"


*****


"Aku ingin pulang, By." Akmal beranjak daru duduknya. Wajah pria itu sangat kusut. Dia ingin menenangkan dirinya barang sejenak saja.


Mata Debby berkaca-kaca. "Mas, ninggalin aku." Sejujurnya wanita itu takut. Yah, takut jika Arumi datang dan menghajarnya. Bukan dirinya prioritas, akan tetapi perutnya.


Akmal menghela napas. "Aku butuh sendiri, By ...." ucapnya dengan nada parau.


Debby yang sedari tadi duduk di sofa pun ikut berdiri. "Aku ikut, Mas ...." terdengar jelas getaran dari nada suaranya.


Apa bedanya kalau Akmal di sini dan di rumahnya jika Debby ikut. Padahal dia ingin menyendiri. Menenangkan pikirannya. "Kamu di sini saja."


Debby berjongkok dan menutup wajahnya. Dia menangis tersedu-sedu. Terngiang dengan jelas ucapan Arumi di kepalanya.


Kita sama-sama wanita. Suatu saat kamu akan merasakan apa yang aku rasakan.


"Ikutlah ...." Tak ada pilihan lain selain mengikutkan wanita itu.


******


Ibu Susan menlepon berkali-kali putranya tapi tak ada jawaban. "Rian!"


Asisten Rian yang dipanggil namanya segera mendekat. "Iya, Bu."

__ADS_1


"Kamu tahu dimana bosmu?" Tanya Ibu Susan yang mulai tak sabar.


Asisten Rian menunduk. "Maaf, Bu. Saya tidak tahu," jawabanmya. Karena memang, asisten Rian tidak mengetahui dimana keberadaan atasannya. Dia juga tak pernah memberi informasi kepadanya.


"Huufff ... dimana lagi anak itu ...."


*****


Sekitar 30 menit, Ibu Susan memutuskan untuk pulang. Dia beranjak dari tempat duduk dan melangkah menuju mobil. Belum pintu terbuka, tiba-tiba lampu kendaraan lain menyorotinya. Yah, itu adalah milik Akmal.


Ibu Susan menunggu anaknya. Dia mematung.


Sedangkan Akmal jantungnya kembali berdentum. "Ibu ...." Yah, dia melihat wanita paruh baya berdiri sedang menunggunya. Dia menelan ludah.


Apakah ibu sudah mengetahuinya?


Debby menatap pria itu. "Dia ibumu, Mas?" tanya wanita itu. Dia mendengar ucapan spontan dari mulut Akmal menyebutnya ibu.


Akmal mengangguk lemah. Pilihannya ternyata salah mengikut sertakan Debby. Ini bukan waktu yang pas.


"Kamu tunggu di sini ...." perintah Akmal diikuti anggukan oleh Debby.


*****


Kedua ibu dan anak itu saling berhadapan bersitegang. Ibu Susan menatap tajam putranya. Putra yang selama ini dibangga-banggakan.


Asisten Rian menjauh dari tempat yang menimbulkan suasana sangat tak nyaman itu.


"Dari mana?" Ibu Susan membuka pembicaraan. Dia melihat penampilan anak yang telah dilahirkan begitu berantakan.


Akmal menelan ludah. Terdengar suara ibunya sangat dingin. "A-aku dari ...." Sial dirinya gagap. Mau bilang apa? Apakah dia punya nyali yang kuat berkata bahwa dirinya dari rumah selingkuhannya.


"Istrimu mana?" Ibu Susan mempertanyakan keberadaan wanita yang telah dianggapnya sebagai putri. Meskipun dia sudah tahu, akan tetapi dia ingin mendengar langsung dari mulut sang putra.


Telak. Akmal betul-betul tak bisa berkata-kata. Lebih tepatnya mantan istri. Setelah talak yang dijatuhkan maka saat itu juga hubungan mereka putus. Bukan prihal mudah untuk rujuk kembali.

__ADS_1


Ibu Susan menajamkan matanya. "Mal, Ibu tanya, menantuku dimana?!" Suaranya sudah meninggi. Wanita itu betul-betul tak sabar mendengar jawaban putra semata wayangnya.


Mata Akmal mulai berkaca-kaca. "Bu ...."


Debby yang melihat itu merasa sangat gelisah. Betul-betul gelisah. Dia tak bisa mendengar apa yang mereka bicarakan namun bisa dilihat keduanya sama-sama dalam keadaan tak nyaman.


"Apa yang mau kau jelaskan?" Ibu Susan sama sekali tak terpancing dengan air mata anaknya.


Spontan Akmal berlutut dan memegang tangan ibunya dengan kuat. "Maafkan Akmal, Bu ...."


Namun wanita paruh baya itu menampik tangan putranya. "Ibu butuh penjelasanmu! Sekarang bilang, dimana Arumi?!" Emosi menyerang wanita paruh baya itu.


"A-arumi pergi, Bu ...."


Satu pernyataan yang keluar dari mulut pria itu membuat ibunya memejamkan mata. Menantunya adalah wanita yang lemah lembut. Dia perempuan baik-baik. Tak mungkin pergi tanpa alasan. "Kenapa?"


Akmal tak berani menatap mata ibunya. Dia menunduk.


"Jawab Akmal!" Suara Ibu Susan lantang. Memecah keheningan.


.


.


.


.


.


Jangan lupa tinggalkan jejak 😉


Salam


AAH♥️

__ADS_1


__ADS_2