TERGODA

TERGODA
Tergoda 7


__ADS_3

Setelah melayani Akmal, Arumi duduk di balkon kamar dengan memegang pemberian suaminya. Wanita cantik itu menghirup aroma mawar dengan mata yang terpejam.


Dia begitu menikmati harum yang disajikan bunga tersebut. Yah, dari dulu, dia memang sangat menyukainya dan Akmal pun tahu.


Arumi teringat akan Dini sehingga membuatnya tak tenang. Berulang kali dia meyakinkan hati bahwa Akmal setia dan tak akan membuatnya kecewa.


"Arumi."


Wanita cantik yang mendengar namanya dipanggil pun berbalik. Dia menatap pria yang berdiri tak jauh darinya.


"Kenapa terus melamun?"


Akmal yang menyadari sikap dari Arumi tentu mempertanyakan hal tersebut. Dia tahu ada yang mengganjal pikiran wanita itu.


Akmal pun berjalan mendekat dan duduk di samping istrinya untuk memastikan.


Arumi menarik napas dalam. "Mas."


"Ada apa, Sayang?"


Arumi tertunduk. Sebenarnya dia ragu untuk mengutarakan sesuatu yang membuatnya tak tenang. "Sebenarnya, a-aku ...."


Akmal cemas-cemas harap mendengar ucapan istrinya. "Katakanlah jika ada yang membuatmu tak enak hati."


"Aku takut, Mas," ucap Arumi dengan menggigit bibirnya.


Akmal mengerutkan kening. Dia menegakkan duduknya dan membalikkan badan. "Takut kenapa?"


Jemari wanita itu saling bertautan satu sama lain. "D-dini, Mas."


Akmal sangat tak asing dengan nama tersebut. Yah, itu adalah sahabat baik Arumi.


"Ada apa dengan Dini?"


"Johan ... selingkuh." Tiba-tiba air menggenang di pelupuk matanya. Entah apakah itu bentuk kepedulian terhadap sahabatnya atau karena ketakutan dalam hati.


"Selingkuh?!" Sekali lagi Akmal mengulang ucapan istrinya.


Arumi mengangguk lemah. Air mata yang semula ditahan kini meluncur bebas di pipi mulusnya.


Akmal yang melihat itu segera berpindah ke depan istrinya dan berlutut. Kini dia tahu alasan dibalik rasa takut Arumi.


Akmal mengusap air mata istrinya dan memegang kedua lengannya. "Sayang, dengar ...." Dia berucap dengan memandang nanar dua bola mata yang telah basah.


Akma lmerapikan rambut Arumi dan menyelipnya di belakang telinga. "Jangan pernah berpikir yang tidak-tidak tentang hubungan kita," ucapnya dengan lembut.


"T-tap ...."


"Husstt! Kita berbeda dengan mereka. Hubungan kita kuat dan yakin tak akan goyah semudah itu."

__ADS_1


Arumi mencoba mencerna dengan baik-baik ucapan Akmal. Itu hanya rasa takut yang menjadi paranoid dalam diri. Sebagai seorang wanita sekaligus istri, dia hanya ingin mempertahankan rumah tangganya.


Akmal mengecup sayang kening Arumi. Lama hingga membuat hati wanita itu menghangat. "Ingatlah, bahwa aku akan setia."


Sekali lagi Akmal menegaskan hal tersebut sebagai bentuk janji kepada wanita di depannya.


******


Matahari mulai merambat naik ke permukaan. Cahayanya menembus jendela kamar dua orang yang masih bergelut di tempat tidur. Hingga salah satunya tersadar.


Arumi mengumpulkan puing-puing kesadaran dan melihat sekeliling. Pandangannya tertuju pada jarum jam yang berada diangka delapan. Betapa terkejutnya dan segera membangunkan Akmal.


"Mas, terlambat." Arumi menggoyangkan lengan Akmal.


"Hmm ...."


"Mas, bangun!"


Akmal perlahan membuka mata. Tatapannya tertuju pada wanita di depan. Seketika senyum terbit dari bibir.


"Selamat pagi," sapa Akmal dengan suara serak khas bangun tidur.


"Nanti kamu terlambat." Arumi mengingatkan suaminya.


"Aku tidak masuk kantor hari ini," katanya sembari merenggangkan otot-ototnya.


Akmal berbalik, kembali menatap istrinya. Dia mencuri ciuman di bibir ranum itu kemudian berkata, "aku ingin menemani istriku yang cantik."


Arumi tersipu hingga menampakkan pipinya yang kemerah-merahan. Dia menyembunyikan wajah dibalik selimut.


Semenjak menikah, mereka memang jarang menghabiskan waktu bersama dikarenakan kesibukan Akmal. Terlebih semalam, dia ingin menemani Arumi dan meyakininya bahwa apa yang dipikirkan tidak akan pernah terjadi.


"Sini," ucap Akmal.


"Apaan, sih, Mas! Mending ke kantor."


"Tidak, Sayang. Aku bosnya jadi bebas."


Arumi memunculkan kembali wajahnya. Dia ingin melayangkan protes namun didahului oleh Akmal, "Titik!"


******


Akmal mengajak Arumi keluar. Mereka akan kencan mengulang masa-masa mereka sewaktu pacaran. Sepasang kekasih itu tampak sangat bahagia terlebih Arumi.


Mereka mengunjungi salah satu pusat perbelanjaan yang ada di kota tersebut. Mereka berbelanja dan menonton. keduanya tampak serasi berjalan dengan saling bergandengan bak ABG.


"Senang, gak?" tanya Akmal tanpa melepaskan tautan jemarinya.


Arumi mengangguk. Senyum tak pernah luntur dari bibir ranumnya. Hatinya benar-benar diliputi perasaan bahagia.

__ADS_1


Hal yang membuatnya sedih ataupun takut seketika meluap begitu saja. Melihat perlakuan Akmal, membuat dirinya yakin bahwa dia adalah pria yang setia.


"Mau makan dulu, Sayang?"


"Iya, Mas. Aku lapar."


Akmal tersenyum dan mengecupi pucuk kepala wanitanya. Mereka mengunjungi salah satu food court. Akmal menyuruh Arumi untuk duduk. Sementara ia memesan makanan.


"Duh! Maaf, aku lupa dompetnya."


"Jadi pesanannya, Mbak?"


Akmal melihat seorang wanita menggeledah tasnya dengan raut wajah panik. Dia mengerutkan kening dan memperhatikan wanita tersebut. Tampak tak asing dengan rambut yang bergelombang. Dia memutar memori untuk mengingatnya.


"Ada apa, Mbak?" Akmal mendekati wanita tersebut. Yah, dia bidadari penunggu mobil yang dipilih Akmal di pameran otomotif waktu lalu.


Wanita cantik itu berbalik menatap Akmal. Tentu dia masih mengingatnya. "Aku lupa dompetku, Pak. Padahal pesanannya sudah jadi," ucap wanita itu dengan ekspresi sedih.


"Berapa total pesannya?" Akmal mengeluarkan kartu dan menyodorkan kepada pramusaji tersebut.


Secepat kilat wanita itu menahan," t-tidak p-perlu, Pak! Aku akan menelpon temanku."


"Anggap saja ini bentuk terima kasihku karena kamu menemukan kunci mobilku waktu itu." Akmal tetap kukuh.


Bidadari penunggu menggigit bibir bawahnya. Dia merasa tidak enak dengan bantuan pria tersebut. Dia menatap ke belakang, ternyata antrian sudah sangat panjang akibat ulahnya. Mau tidak mau dia menerima tawaran Akmal.


Usai membayar semua, Akmal menyerahkan kantongan kepada bidadari penunggu tersebut.


"Terima kasih, Pak. Saya jadi tidak enak."


"Tidak masalah. Sekarang giliran saya. Istri saya sudah menunggu."


Wanita itu mengangguk dan berlalu meninggalkan Akmal.


.


.


.


.


.


Yuhuuu


Salam


AAH♥️

__ADS_1


__ADS_2