
JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK LIKE COMMENT RATE DAN VOTE 😉
Ig : asriainunhasyim
Selamat Membaca 😘
.
.
.
.
Lamaran yang diajukan Harun beberapa hari lalu kini telah sampai pada telinga orang tua mereka. Tentu bahagia bukan main. Hal itu yang didamba-dambakan keduanya.
Masalah status Arumi, jauh hari sebelum Harun berkenalan dengan wanita tersebut, Bunda Ira sudah tahu. Seratus persen dia tak mempermasalahkan. Ayahnya pun demikian.
Apa adanya bukan karena ada apanya.
Pria berparas tampan nan teduh itu sangat bersyukur segalanya dimudahkan. Jalannya dilancarkan.
******
Bunda Ira begitu sibuk mempersiapkan acara makan malam yang diadakan di kediamannya. Tentunya dengan kehadiran calon menantu.
"Pokoknya semua harus sempurna," ucap wanita paruh baya itu dengan sangat antusias.
Ayah Kamil dan Fanny mengangguk. Mereka juga ikut senang dengan hal tersebut. Memang sudah lama menunggu momen itu.
"Gak nyangka, yah. Ternyata dessert yang kita makan setiap hari adalah buatan jodoh Abang." Fanny cekikikan. Sangat lucu menurutnya.
"Ayah juga tidak menyangka. Sebentar lagi, satu rumah dengan owner-nya." Ayah Kamil menimpali.
"Harun sudah punya rumah sendiri. Tidak mungkin tinggalnya di sini. Meskipun kita sangat menginginkan." Raut wajah Bunda Ira berubah sendu.
__ADS_1
"Oh iya. Ayah lupa," sesal Ayah Kamil.
"Seandainya bisa. Bunda ingin satu rumah dengan menantu Bunda."
"Biarlah. Putramu juga ingin merasakan suka duka berdua dengan istrinya."
Bunda Ira mengangguk.
Harun pun juga sudah menyiapkan sebuah rumah. Rencana memang akan ditinggali kelak bersama dengan keluarga kecilnya. Jarak kurang lebih satu jam dari kediaman ayah-bundanya.
*****
Arumi mendengus pasrah. Sedari tadi, dia memandang isi dari lemarinya, namun belum menemukan apa yang dianggapnya cocok.
Baju apa? Warna apa?
Sepertinya ini sudah menjadi kebiasaan kaum Hawa. Jika ada acara penting, maka pakaian yang menjadi masalah utama. Bahkan sampai berjam-jam lamanya memilih namun tak kunjung mendapat solusi.
Mama Reni melihat putrinya dari balik pintu. Wanita paruh baya itu menggeleng dan segera mendekat. "Sudah ada?"
Mama Reni tertawa. "Usahakan, pakaiannya jangan terlalu terbuka," sarannya.
Arumi duduk di tepi tempat tidur. "Bingung, Ma."
Tanpa menunggu lama, Mama Reni turun tangan untuk membantu sang putri. Dia mulai mengabsen satu persatu pakaian yang dimiliki wanita cantik itu.
"Atau Arumi ke mall deh! Acaranya juga masih lama."
Mama Reni tak menjawab. Dia mengeluarkan sebuah long dress berwarna hitam dengan taburan permata dibagian dada sebelah kanan. "Coba ini," seraya menyodorkan.
Arumi meraihnya. Melakukan sesuai dengan perintah mamanya. Dia menatap pantulannya di cermin.
"Cantik, Mi," puji wanita paruh baya itu. "Lengannya juga tidak terlalu terbuka."
Arumi mengangguk.
__ADS_1
*****
"Alhamdulillah, lamaranku diterima," ucap Harun dari balik telpon. Dari nada suaranya jelas dia sangat bahagia.
Akmal tersenyum. "Syukurlah! Aku turut bahagia. Beruntungnya wanita itu."
Setelah sekian lama, akhirnya temannya telah menemukan wanita yang disukainya. Hampir 2 tahun lalu dia memberikan saran untuk segera mencari pasangan dan menikah. Sekarang kesampaian.
"Justru aku yang beruntung. Dia wanita cantik, baik." Harun mengingat wajah Arumi yang membuatnya jatuh hati. "Aku akan mengenalkanmu secepatnya sesuai janjiku."
Akmal mengangguk. "Yah, kamu infokan saja dimana tempatnya. Putriku juga sudah sehat."
"Ibunya gimana? Bawa mereka sekalian," usul Harun.
Akmal terdiam. Itu hal yang tidak mungkin dia lakukan. Datang dengan keluarga yang lengkap.
"Hallo."
"Dia masih sakit."
Harun mengerutkan kening. Rasa penasaran mencuat dalam benaknya. "Memang ibunya sakit apa?"
Akmal mendengus. "Intinya dia masih sakit." Pria itu berat mengatakan yang sesungguhnya.
Harun tak memaksa. "Ya sudah. Semoga ibunya cepat sembuh." Do'a pria itu dengan tulus.
.
.
.
.
Salam
__ADS_1
AAH♥️