
Readersnya AAH♥️ TIAP BACA EPISODE, TINGGALKAN JEJAK LIKE, COMMENT, RATE DAN VOTE. GAK MINTA BAYARAN KOK. CUKUP MAINKAN SAJA JEMPOLNYA. OK!
Selamat Membaca😘
.
.
.
.
.
"Saya terima nikah dan kawinnya Arumi Anggun binti Rasyid Mustafa dengan maskawin tersebut tunai karena Allah!"
"Bagaimana para saksi ... sah?"
"Saahhh!
"Alhamdulillahirabbialamiin ...."
Ijab qabul yang diucapkan pada hari ini, pertanda terbukanya lembaran kehidupan yang baru bagi Akmal dan Arumi. Dengan penuh keyakinan dan kesungguhan mereka memulainya.
"Selamat!"
"Bahagia selalu."
"Hebat, yah, Arumi! Bisa sampai ke jenjang ini. Semoga aku bisa mengikuti jejaknya."
"Selamat, Pak! Semoga menjadi keluarga sakinah mawaddah warohma."
"Akhirnya sampai juga, tuh."
Raja dan ratu itu hanya tertawa kecil mendengar para tamu undangan yang datang memberikan selamat dan do'a untuknya. Termasuk teman kantor Arumi dan para pegawai Akmal.
Yah, mereka sama-sama berkarir. Namun, dengan jurusan yang berbeda. Arumi salah satu Teller di bank BUMN (Badan Usaha Milik Negara). Sedangkan Akmal merupakan pengusaha otomotif.
Tapi sebelum menikah mereka telah bersepakat untuk mengorbankan salah satu karir diantara keduanya. Tentu sesuai tanggung jawab dan porsi masing-masing, bahwa prialah yang mencari nafkah. Sedangkan Arumi akan fokus mengurus rumah tangganya nanti. Adil bukan?
••••
Malam harinya, pukul 22.45 acara pun selesai. Yah, hari ini acara akad dan resepsi dirangkaikan. Bukan tanpa alasan, mereka tidak ingin repot 2 kali. Keluarga masing-masing juga menyetujui hal itu.
"Huff ... capek," keluh Arumi seraya mendudukkan dirinya di atas tempat tidur.
Akmal yang melihat itu, merasa kasihan. Dia berjalan mendekat, berinisiatif untuk membantunya. "Sini, aku bantuin bukan gaunnya," ucapnya.
Tanpa menunggu lama, Arumi mengangguk menyetujui. Dia berbalik membelakangi suaminya. Dadanya berdegup kencang mengingat ini pertama kalinya berdua dengan seorang pria di dalam kamar. Meski berpacaran selama 2 tahun, tapi mereka tidak pernah melewati batasan. Saling menjaga satu sama lain, apa lagi itu menyangkut masalah kehormatan.
__ADS_1
Bukan hanya istrinya yang merasa gugup, tapi Akmal pun demikian. Dia menurunkan resleting gaun itu yang menampakkan kulit punggung Arumi yang putih nan mulus. Spontan pria itu menelan ludah. Secepat kilat dia membukanya dan segera bangkit.
"Selesai!"
Arumi menengadah melihat suaminya. Dia tersenyum simpul seraya memegang jemari pria yang dicintainya. "Kamu mau aku bantuin juga?" tanyanya dengan suara lembut.
Akmal menggeleng pelan. "Terima kasih ... aku bisa melakukannya sendiri. Lebih baik aku langsung ke kamar mandi."
"Baiklah ... mandi, gih." Dia melepas genggamannya dan membiarkan suaminya pergi."
Wanita itu melanjutkan membuka gaun dan mengenakan handuk. Bergegas dia membereskan semua dan menyiapkan pakaian suaminya yang berada di dalam koper. Yah, malam ini mereka menginap di hotel. Keluarga telah menyiapkan perlengkapan keduanya selama berada di tempat tersebut.
Senyumannya tidak pernah luntur. Bahagia yang dia rasakan melebihi lelahnya. Wanita itu tak henti-henti bersyukur dipersatukan dengan pujaan hatinya. Meski semua bagaikan mimpi.
Tak lama kemudian, Akmal keluar dari kamar mandi juga dengan handuk yang sepinggang. Tatapan mereka bertemu dan saling melempar senyum gugup. Arumi segera berlari kecil melewati suaminya. Dia menyembunyikan wajah yang merona merah karena malu. Akmal yang melihat tingkahnya pun, hanya menggeleng pelan.
••••
Arumi memakai pakaian tidur selutut berwarna hitam. Wanita cantik itu duduk di depan cermin dan menyisir rambut panjangnya. Wajah tampak fresh. Akmal mendekat dan melingkarkan tangannya ke pinggang istrinya dan menyandarkan dagu pada pundak wanita itu.
"Cantik," pujinya.
Pipi Arumi merah padam mendengar itu. "Lebih tampan kamunya." Dia melipat bibirnya menahan senyum.
Akmal mengambil alih pekerjaan istrinya. Dia menyisir rambut wanita itu dengan lembut. Aroma wangi tercium jelas. Akmal mendekatkan indera penciuman dan menghirupnya dalam-dalam. Disela itu dia berkata, "Aku tidak akan memaksamu untuk melakukan, jika memang belum siap."
Akmal tahu bahwa Arumi belum siap untuk melakukan kewajibannya dan dia sangat mengerti. Pria itu menghentikan pekerjaan dan membalikkan tubuh istrinya. Dia mengecup sayang keningnya. Memandang lekat dan penuh cinta wanita pujaannya. "Aku akan menunggumu."
Arumi yang mendengar itu memeluk pinggang suaminya. Dia menyandarkan kepala pada perut pria halalnya. "Aku mencintaimu ... sangat mencintaimu," katanya dengan suara yang amat lembut.
Akmal tersenyum dan membelai rambut istrinya. "Aku juga mencintaimu ...."
Kedua pengantin baru itu menyudahi pelukannya dan melangkah menuju tempat tidur. Masing-masing mematikan lampu tidur yang berada di samping. Mereka berbaring dengan saling berhadapan. Akmal kembali meraup tubuh istrinya ke dalam pelukannya.
"Tidurlah ...."
Arumi mengangguk pelan dan mulai memejamkan matanya. Akmal pun demikian.
••••
Sinar mentari menyinari bumi. 2 pengantin baru itu masih bergelayut di dalam selimut saling berpelukan erat satu sama lain. Saat Arumi membuka matanya senyum manis terbentuk di bibir ranumnya. Matanya menatap lekat wajah tampan suaminya.
"Selamat pagi ..." dengan suara serak khas bangun tidur.
Dia mengecup pelan bibir Akmal. Namun, tiba-tiba tangan kekar menahan tengkuknya, mendorong dan memperdalam ciumannya. Mata Akmal terbuka lebar dia menggigit pelan bibir Arumi sebelum akhirnya melepas. Napas keduanya tersengal. Namun sesaat, tawa keduanya pecah.
"Nakal, yah, sekarang." Akmal berkata sembari menarik hidung mancung istrinya.
"Ih ... gak," elaknya dengan pipi memerah.
__ADS_1
"Jadi sudah siap, nih?" godanya.
Arumi menarik bantal dan menenggelamkan wajahnya. "Malu," dengan suara manja.
"Hahahaha ... sudah sah kali," imbuh Akmal.
Arumi mengintip suaminya dari balik bantal. "Oke. Tapi ada satu syaratnya."
"Harus?" tanya pria itu.
"Sangat!"
"Apa coba?" Akmal mencoba bernegosiasi dengan istrinya. Alisnya terangkat menunggu jawaban wanita itu.
Arumi tampak berpikir. Matanya menatap lekat suaminya. Dia melempar bantal yang menjadi perantara diantara mereka berdua lalu meringsuk mendekat. Akmal yang menyadari itu menelan ludah. Sekarang dirinyalah yang berbalik malu.
Arumi mendekatkan wajahnya dan berbisik "Aku mau, tapi setelah ... M."
Mata Akmal terbelalak. Mulutnya menganga. Dia mengerti apa yang diucapkan wanita pujaannya. Melihat ekspresi suaminya sontak membuat Arumi tertawa terpingkal. Cairan bening keluar dari mata indahnya. Yah, wanita itu memang tidak bohong kalau sekarang dia sedang kedatangan tamu bulanan.
Tidak ada yang bisa dilakukan Akmal selain mengusap dadanya mencoba bersabar. Dia bangkit menuju kamar mandi dan mengguyur tubuhnya dengan air dingin. Sedangkan, Arumi yang di luar menatap kepergiannya masih dengan sisa tawa.
Sebenarnya dia juga merasa kasihan melihat suaminya yang seperti itu. Tapi apa boleh buat, yang terjadi bukan atas kehendaknya.
.
.
.
.
.
**INFONYA DIBACA!
SEBENARNYA AUTHOR BELUM MAU LANJUTKAN NOVEL INI SEBELUM YANG DISEBELAH TAMAT. TAPI ISENG AJAH😁
JANJI! AUTHOR BAKALAN RAJIN UPDATE KALAU READERNYA KASI LIKE, COMMENT, RATE DAN VOTE YANG BANYAK 😂 NGAREPP!
DUKUNG TERUS DONG AKMAL DAN ARUMI. KASIH SEMANGAT MEREKA😂 OKE!
TERIMA KASIH, SEMOGA SEMUANYA DALAM
KEADAAN SEHAT WAL AFIAT 😇**
Salam
AAH♥️
__ADS_1