TERGODA

TERGODA
S2. Tergoda 78


__ADS_3

JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK LIKE COMMENT RATE DAN VOTE ๐Ÿ˜‰ DUKUNG TERGODA DENGAN CARA TERSEBUT. Yuk! Ramai-ramai.


IG : asriainunhasyim


Selamat Membaca ๐Ÿ˜˜


.


.


.


Sesuai dengan kesepakatan yang terjadi di kediaman Harun, hari ini keluarga pria berparas tampan nan teduh itu akan melakukan lamaran secara resmi serta penentuan tanggal dan bulannya untuk pernikahan mereka.


Mama Reni beserta keluarga yang lain telah sibuk mempersiapkan acara. Tetangga pun satu persatu telah berdatangan.


"Kok, kamu gak pernah cerita sama aku?" Dini melakukan komplain terhadap sahabatnya setelah kabar yang diberikan Arumi kemarin.


Keduanya telah duduk berhadapan di dalam kamar.


Arumi mengusap tengkuknya. Dia tidak tahu harus memulai dari mana. Semua terjadi begitu saja. Mereka juga tidak pacaran. "Maaf. Belum jelas jadi aku takut ngumbar," cicitnya.


Nadini mendengus. "Sejak kapan kalian kenal?"


"Belum lama juga."


Nadini mengerutkan kening. "Belum lama? Apa kamu sudah yakin? Apa kamu sudah tahu latar belakangnya dan keluarga?" selidiknya. Dini hanya takut jika saja terulang kejadian menyedihkan di masa lalu.


Arumi mengangguk. "Ibunya adalah langgananku. Kemarin dia mengundangku makan malam dan Alhamdulillah semua menyambutku dengan tangan terbuka," jelas Arumi.


"Apa kamu bahagia?" tanya Dini kembali. Itu yang paling penting.


Arumi menunduk. Dia mengangguk pelan. Wajahnya terasa memanas.


"Baiklah jika membuatmu bahagia. Itu yang paling penting. Tapi ingat! Kalau sampai dia macam-macam, aku orang pertama yang akan melawannya!" Nadini menekan kalimatnya.


Arumi tersenyum. "Terima kasih Sobat. Terima kasi selalu ada."


Mereka berpelukan dan saling memberi dukungan satu sama lain. Ada kelegaan yang dirasakan Nadini setelah mendengar semua. Setidaknya, Arumi mampu melangkah dan membuka hati untuk yang lain.


"Semoga kamu dan Rama juga mengikuti jejak kami," harap Arumi.


"Aamiin ...."


*****


Dini membantu sahabatnya bersiap. Arumi memakai kebaya berwarna salem yang sangat cocok dengan kulitnya yang putih. Yah, itu adalah pilihannya sendiri.


Namun ada yang berbeda dengan penampilannya kali ini, Arumi menggunakan jilbab. Murni dari keinginannya.


__ADS_1


"Kamu cantik banget, Mi. Sumpah!" Dini terkagum-kagum melihat penampilan sahabatnya. "Beruntung banget si Harun."


Arumi membalas dengan senyuman. Dia memang melihat perubahan pada wajah setelah mengenakan penutup kepala.


Mama Reni memasuki kamar putrinya. "Wah! Ini benar anak Mama, Din?"


Dini mengangguk mantap meski Mama Reni sudah mengetahui jawabannya. Wanita paruh baya itu menangkup wajah sang Putri. "Cantiknya, Nak."


Arumi tersipu mendengar pujian demi pujian yang menyerbu. Yah, auranya benar-benar memabukkan.


"Aku penasaran, bagaimana tampan pria yang ingin memiliki sahabatku."


"Tampan rupa dan hatinya," imbuh Mama Reni.


"Wih! Itu yang paling penting, Tante. Setidaknya bisa bertanggung jawab." Nadini bersyukur mendengar.


*****


Harun dan seluruh keluarga serta kerabatnya telah tiba. Ada 3 mobil dengan merk yang berbeda-beda terparkir di pekarangan Arumi.


Harun terlihat gagah mengenakan batik lengan panjang berwarna coklat muda. Pria itu selalu menebar senyum bahagia menambah kadar ketampanannya.


"Assalamualaikum ...." Kata pertama kala memasuki rumah.


"Waalaikumussalam. Silahkan masuk!"


Mereka disambut dengan tangan terbuka. Kedua keluarga itu bersalaman dan saling memperkenalkan diri.


"Aku deg-degan, Din," ucap wanita cantik itu. Meskipun telah mengalami hal tersebut sebelumnya, entah mengapa kali ini berbeda.


"Tenanglah!" Dini mencoba menenangkan sahabatnya. Dia merasakan telapak tangan Arumi mulai dingin.


Berkali-kali Nadini melihat Arumi untuk memastikan jika ada yang kurang dari penampilannya. Tapi tidak, sempurna menurutnya.


*****


Setelah melakukan musyawarah, akhirnya mufakat pun terjadi. Yah, akad nikah Harun dan Arumi terlaksana satu bulan terhitung dari hari lamaran.


Tiga puluh hari waktu yang cukup untuk mempersiapkan segalanya. Mulai dari hotel, gaun pernikahan dan yang lebih penting undangan.


"Bisa hadirkan wanitanya?" tanya pihak pria. Dan yang dimaksud adalah Arumi.


"Bisa, Pak!" jawabnya serentak.


Mama Reni yang turun langsung untuk memanggil sang Putri.


"Siap, Nak?"


Arumi menarik napas berkali-kali untuk menenangkan debaran jantungnya. Tak lama kemudian, anggukan kecil dari wanita cantik itu. "Bismillah ...."


Arumi berjalan keluar diapit oleh mama dan sahabatnya. Dia tersenyum lembut dengan kepala yang sedikit menunduk.

__ADS_1


"Masya Allah ...."


"Cantik bener."


"Calon menantu Ira, hadeuh!"


Lagi-lagi sanjungan yang Arumi dapatkan. Orang-orang yang ada di sana tidak hentinya berdecak kagum.


Namun ada sepasang mata yang memandangnya dengan perasaan yang berbunga bukan main.


Harun.


Pria itu begitu takjub melihat penampilan calon istrinya, calon bidadari surganya. Ada yang berbeda dari seorang Arumi Anggun. Rambutnya tak nampak.


Wajah bening itu bersinar. Yah, dia Cantik. Bahkan sangat cantik.


Masya Allah calon ibu dari anak-anakku ....


Ingin rasanya dia menyembunyikan Arumi saat itu juga, sehingga kecantikannya hanya dia yang bisa nikmati.


Arumi ....


*****


Mereka berdiri berhadapan untuk pemasangan cincin sesuai dengan arahan Bunda Ira dan Ayah Kamil.


"Ayo pasangkan, Nak!" seru mereka.


Arumi masih dengan kepala yang menunduk.


"Angkat pandanganmu, Dek," ucapnya dengan suara yang lembut.


Pipi Arumi merona merah. Tangannya saling bertautan satu sama lain. Sedikit demi sedikit matanya beralih menatap sang pemilik netra hitam yang sebentar lagi menjadi suaminya.


"Ya Allah ... cantiknya calon istriku."


"Abang Harun-ku ...."


.


.


.


.


.


Izin cuti dong๐Ÿ˜‚๐Ÿ™


Salam

__ADS_1


AAHโ™ฅ๏ธ


__ADS_2