TERGODA

TERGODA
Tergoda 25


__ADS_3

Dini mendapat kabar bahwa sahabatnya masuk rumah sakit. Ia berencana mengajak Debby untuk pergi menjenguk Arumi tapi sepulang dari kantor.


Wanita cantik itu menelpon temannya namun nomornya tak aktif. Ia mengulangi beberapa kali hingga memutuskan untuk menyambangi langsung tempatnya bekerja.


Jam menunjukkan pukul 15.00, Dini meminta izin kepada atasannya untuk pulang lebih dulu karena memang pekerjaannya telah selesai. Wanita itu bekerja di salah satu perusahaan pembiayaan yang ada di kota tersebut.


Dia melajukan mobilnya menuju kantor Debby. Sesampainya, dia memarkirkan kendaraan dan turun untuk mempertanyakan kepada staff yang ada di sana.


"Maaf, Pak. Atas nama Putri Debby, ada?"


Pria yang berumur sekitar 40 tahun itu ternyata Manajer temannya. Dia betul-betul tidak salah orang untuk bertanya.


"Oh, Debby izin untuk hari ini. Dengan alasan dia sakit," ucap Manajer tersebut.


Sakit?


Dini dibuat kaget. Dua orang temannya sakit dalam waktu bersamaan. Namun sesaat dia berterima kasih dan meminta izin pamit. Dini melangkahkan kakinya keluar dari kantor tersebut dengan bertanya-tanya. Debby sakit apa?


*****


Dini memarkir kendaraan di depan rumah yang berukuran sedang tak lain adalah rumah Debby. Wanita itu turun dari mobil. Dia ingin memastikan keadaan temannya sebelum ke rumah sakit.


Dini memencet bel berulang kali hingga akhirnya pintu terbuka menampakkan sang pemilik rumah. Dini memperhatikan Debby mulai atas sampai bawah. Namun wanita itu tak seperti orang sakit. Penampilannya masih sama seperti biasanya.


"Katanya kamu sakit, By? tanya Dini dengan ekspresi bingung.


Debby yang ditanya pun hanya mampu menelan ludah. "Kamu tahu dari mana?" Karena memang wanita itu tak pernah memberitahu orang. Kecuali ....


"Aku ke kantormu tadi."


Benar dugaannya. Dini menyambangi kantornya. Hari ini, memang dia meminta izin untuk tidak masuk dengan alasan sakit. Yah, dia memang sakit. Tapi sakitnya tidak bisa dijelaskan.


"Sakit apa?" Dini maju selangkah untuk mengecek suhu tubuh temannya dengan menempelkan punggung tangan pada jidat wanita itu. Namun panasnya normal.

__ADS_1


Debby memegang tangan Dini. "Lebih baik masuk dulu, yuk!" sesaat dia mencoba mengalihkan pembicaraan.


Debby mempersilahkan tamunya untuk berjalan lebih dulu diikuti dirinya di belakang menuju kamar wanita itu. Dini langsung merebahkan dirinya di atas spring bad.


"Haus. Ambilin minum, dong, tamunya ...," kata Dini.


Debby hanya mengangguk. Dia berbalik hendak ke dapur. Berjalan dengan pelan. Teman yang memperhatikan itu mengerutkan kening. "Tunggu!"


Debby berhenti dan memejamkan mata. Dia menelan ludah dan menggigit bibir bawahnya.


"Kok, jalan kamu beda, By?" Dini bertanya dengan curiga. Ada kejanggalan dari wanita di depannya. Dia bangkit dari pembaringan dan duduk di tepi tempat tidur.


Debby berbalik. "S-seperti biasa, kok."


Dia mencoba mengelak. Jantungnya, jangan ditanya lagi.


Dini terdiam sesaat kemudian mengangguk lemah. Atau mungkin hanya perasaannya saja. Yah, mungkin karena dia capek jadi pikirannya tidak konsen. Wanita itu berbaring kembali. Dia membiarkan Debby pergi.


*****


Debby segera menyiapkan minuman serta beberapa camilan ke kamarnya. Berusaha bersikap biasa-biasa saja.


Dia menyimpan nampan tersebut di atas nakas kemudian duduk. "Minumlah," ucap Debby.


Dini bangkit kembali. Dia mengambil gelas yang berisi cairan berwarna jingga. "Aku sebenarnya mau ngajak kamu ke rumah sakit." Dini mengatakan seraya menyesap sedikit demi sedikit minuman tersebut.


Debby mengerutkan kening. "Untuk apa?"


"Arumi sakit. Sekarang dia berada di rumah sakit. Aku mendapat kabar tadi dari Akmal."


Mendengar kata dua orang tersebut Debby terdiam. Apakah Arumi telah mengetahui kelakuannya dengan Akmal? Perasaan menjadi tak tenang.


"Mau ikut, gak?" Dini kembali bertanya.

__ADS_1


Debby tampak menimbang-nimbang. Dia juga begitu penasaran dengan keadaan Arumi. Dia menatap wanita di depannya yang telah menandaskan isi gelas.


"Kalau kamu tidak bis-"


Spontan Debby mengangguk. "Aku mau ikut!"


Dini tertawa melihat temannya. "Siap-siap, gih!"


Debby segera bangkit dari duduknya dan berjalan menuju lemari. Sekali lagi Dini memperhatikan wanita itu. Debby betul-betul berbeda. Dari caranya berjalan.


Dini menyinkronkan ucapan manajer yamg mengatakan Debby sakit dengan gerak gerik wanita itu. Seketika matanya membulat penuh. Dia menelan ludah.


Apa jangan-jangan?


Dini menggeleng. Dia menghempas pikiran-pikiran negatif dari kepalanya. Mungkin itu itu hanya perasaannya saja.


*****


Debby dan Dini telah sampai di rumah sakit. Mereka berjalan menuju ruangan tempat Arumi dirawat. Mereka membawa parsel berisi buah-buahan.


Debby sedikit deg-degan. Rasanya ia belum siap bertemu dengan Arumi. Entah apakah orang itu telah mengetahui atau Akmal masih menyembunyikan.


.


.


.


.


.


Salam

__ADS_1


AAH♥️


__ADS_2