
JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK LIKE COMMENT RATE DAN VOTE. YO! DUKUNG TERGODA DENGAN CARA TERSEBUT.
Ig : asriainunhasyim
Selamat membaca 😘
.
.
.
.
"Satu hal yang perlu kamu tahu, aku tidak sedang mempermainkanmu."
Air mata lolos diantara pelupuk mata Arumi hingga membuat kertas di tangannya ikut basah.
Entah apakah dia senang mendengar atau malah sebaliknya. Dari jarak beberapa meter, wanita cantik itu melihat keseriusan yang terpancar dari sorot mata dan ekspresi Harun.
Sama halnya dengan mama Reni yang tak sengaja mendengar ucapan pria tersebut. Dari balik dinding ruang keluarga wanita paruh baya itu meneteskan air mata.
Harun tak mempermasalahkan status Arumi! Bahkan tak marah atau pun terkejut sama sekali. Adakah lebih baik dari itu?
Mama Reni hanya berharap, Harun mampu menghapus trauma putrinya. Dan jika memang pria itu bersungguh-sungguh, semoga mereka dipertemukan dalam ikatan suci.
*****
"A-aku tidak tahu, harus berkata apa," lirihnya.
__ADS_1
Harun menggeleng dengan pelan. "Aku tak memaksamu untuk menjawabnya sekarang. Aku akan bersabar menanti sampai kau mengatakan iya." ucapnya dengan lembut.
Jujur, Arumi tersentuh mendengar ungkapan seorang Harun. Dia menunduk mengalihkan pandangannya dari pria tersebut. Dia meremas jemarinya satu sama lain.
"Arumi ...."
"Ya," jawab Arumi tanpa melihat sumber suara.
"Tatap aku."
Pipi Arumi merona merah. Dirinya bak anak kucing yang malu-malu. Wanita tersebut menipiskan bibir. Jantungnya berdebar-debar.
Harun tersenyum melihatnya. "Jangan malu." Dia mampu membaca ekspresi yang tampak dari Arumi. Betapa imutnya.
Arumi menghela napas pelan. Dia mengalihkan bola matanya sesuai arahan. Selang beberapa detik keduanya terkunci.
"Mantapkan hatimu dalam do'a. Aku yakin, kamu akan menemukan satu nama sebagai jawabnya. Sama seperti diriku saat ini."
Harun mengucap syukur dalam hati. Setidaknya ada setitik cahaya dari usaha dan do'anya.
Benar kata pepatah, batu yang ditetesi air secara terus menerus pasti akan berlubang. Bagaimana pun rapatnya hati Arumi Anggun jika seorang Ahmad Harun Kamil mengetuknya dengan pelan dan penuh perasaan, sedikit demi sedikit akan terbuka.
*****
Sepulang Harun. Arumi beranjak ke dalam. Dia hendak masuk ke dalam kamarnya. Namun tiba-tiba mama Reni memanggil putrinya. Arumi mendekati wanita paruh baya itu dan duduk di sampingnya.
Jelas Mama Reni masih melihat sisa air mata yang bersemayam di wajah Arumi. Namun dia tak mempermasalahkan hal tersebut. Yah, dia tahu bahwa itu adalah air mata haru.
"Mama sudah mendengarnya, Nak," ucap Mama Reni memulai pembicaraan.
__ADS_1
Arumi hanya diam. Dia bersandar pada sandaran sofa.
"Mama melihat jika dia adalah pria yang baik. Dari caranya berbicara dan bersikap membuat mama yakin," jelas Mama Reni.
"Arumi pun bisa merasakan."
Satu kalimat putrinya membuat wanita paruh baya itu mengangguk. "Apakah kamu akan memberikan kesempatan kepadanya?"
Arumi sukses menoleh melihat wanita yang telah melahirkannya. Dia menghela napas berat. "Do'akan Arumi."
Mama Reni mengangguk "Iya, Nak." Mama Reni mengusap pundak Arumi. "Cobalah perbanyak komunikasimu dengannya. Memang, tidak mudah Arumi. Tapi jika kamu berusaha untuk mencoba, kamu akan bisa. Mama hanya ingin yang terbaik untukmu."
Yah, benar apa yang diucapkan wanita paruh baya itu. Tak ada yang salah jika dirinya membuka hati untuk yang lain. Akmal adalah masa lalunya. Seseorang yang pernah menggoreskan kenangan pahit dalam hidupnya.
Tapi sekian milyar pria di dunia ini, apakah semua berwatak sama seperti Akmal?
Jawabannya adalah coba berikan kesempatan kepada yang lain dengan catatan peristiwa lalu jadikan pembelajaran untuk ke depan.
.
.
.
.
.
Salam
__ADS_1
AAH♥️