
Petir menggelegar. Pertanda pasukan hujan sebentar lagi menyerang semesta. Angin bertiup menggoyangkan pohon yang berdiri dengan kokohnya dan menggugurkan daun-daun kering. Menerbangkan tak berarah.
Suaranya begitu mencekam. Malam yang menjadi ketenangan untuk beristirahat, bahkan telah membangunkan sebagian orang. Membuat keresahan. Tak terkecuali Arumi.
Dalam tidur lelap, keningnya berkerut. Napas tersengal. Bulir-bulir keringat dingin membasahi pelipis. Mimpi buruk telah menguasai alam bawah sadarnya. Wanita itu mencengkram selimut dengan begitu kuat.
"Jangan!"
Arumi semakin menjerit ketakutan. "Aku mohon, jangan ...." Air telah lolos diantara pelupuk matanya yang masih terpejam.
******
Kedua insan itu telah berada dalam rumah. Mereka berdiri dan saling menatap satu sama lain. Karena terlampau terkejut wanita itu tak sadar dengan pakaian yang ia gunakan.
Pakaian tidur yang semestinya hanya seorang Arumi yang bisa memakai di depan Akmal. Pun Rambut Debby yang selalu terurai, kini tercepol menampakkan leher jenjangnya.
"Ada apa?" Debby bertanya alasan mendadak Akmal menyambangi kediamannya. Seorang pria yang mengisi pikiran dan hati belakangan ini. Debaran jantung jangan ditanya lagi.
"Ada sesuatu yang ingin kuperjelas." Akmal berucap dengan suara dingin.
Debby menelan ludah. Dia tak kuasa dengan tatapan pria itu. Dia memalingkan wajah. "Penting?"
Akmal mengangguk. Dia mengikis jarak antara mereka berdua. Akmal semakin mendekat sehingga Debby mau tak mau kembali melihat pria tersebut. "Kenapa kau melakukan itu?" tanya Akmal.
Debby sudah menebak arah pembicaraan Akmal. Yah, pria di depan telah mengetahui kotak makan yang selalu dia kirim ke kantor pada saat jam makan siang. "K-kau sudah tahu?" tanya Debby dengan suara yang hampir tak terdengar. Sekali lagi ingin memastikan.
"Iya." Akmal menyisahkan jarak beberapa senti antara dia dan Debby. "Aku sudah tahu semua."
Pipi Debby merona merah. Dia tak menyangka secepat itu pria di depannya mengetahui. Datang selarut ini untuk memperjelas segalanya. "Apa aku salah?" tanyanya dengan lembut.
"Aku merepotkanmu, By." Akmal menatap wanita di depannya dengan mata sayu.
"Huusstt!" Debby menggeleng. "Kamu sama sekali tak merepotkanku, Mas." Hal tersebut berbanding terbalik dengan apa yang pria itu ucapkan.
Dia senang bisa melakukannya untuk seorang Akmal Anggara Dinata. "Aku bahagia meski aku bukan istrimu," ucap Debby dengan tulusnya.
Akmal mengerutkan kening. "kenapa?" Dia menuntut penjelasan dari wanita itu.
Debby memejamkan mata. Dia merasakan getaran hati untuk Pria di depan. Apakah Dia salah? Perasaan ini timbul dengan sendirinya.
Debby sudah berusaha menahan, tapi menghadapi seorang Akmal tak mampu membuatnya terus berbohong. "Aku hanya ingin membalas semua perlakuan baikmu selama ini." Sesaat kemudian matanya terbuka kembali.
__ADS_1
Akmal menghela napas panjang. Dia sudah menduganya. Dia yakin bahwa Debby dalang dibalik pengadaan kotak makan tersebut.
******
Pukul dua belas malam. Hujan turun begitu derasnya disertai badai. Kedua insan itu masih saling berbicara. Berusaha menemukan titik terang.
"Apa aku salah?" Debby kembali mempertanyakan sikapnya.
Akmal menggeleng. "Terima kasih untuk perhatianmu."
Wanita itu terperangah. Dia tak menyangka jika Akmal mengucapkan kata terima kasih untuk kotak makan tersebut. Bangun subuh dan memasak dengan sepenuh hati untuk pria itu tak sia-sia.
Debby berjalan mendekat. Semakin mengikis jarak antara mereka. Tatapannya intens. Akmal pun tak menahan atau berkata jangan. "Mas ...."
Ingatan Debby akan Arumi sudah tertutup oleh rasanya. Dia tak akan menyia-nyiakan waktu ini. Jujur dua hari tak melihat pria di depan, ada rindu yang menuntut untuk segera diselesaikan.
"Mas ...."
Akmal hanya terdiam. Balas menatap wanita yang memanggilnya dengan suara lembut. Mereka sangat dekat hingga Akmal mengendus aroma Debby yang manis. Pria itu tak menyangkal jika Debby cantik. Salah! Bahkan sangat cantik.
"Aku mengagumi dan menyukai suami orang." Debby menggigit bibir bawahnya. Kedua tangannya telah merayap menyentuh pundak pria itu.
Satu kalimat yang meluncur bebas dari bibir wanita tersebut sukses membuat Akmal terperangah. Begitu gamblangnya dia berucap.
Debby spontan menangkup wajah pria pujaannya. Semakin mendekatkan kepala mereka hingga hidung keduanya saling bersentuhan.
"Aku mengagumimu, Mas. Aku menyukaimu ..." Suara wanita itu melemah bercampur nafsu. Yah, nafsu ingin memiliki. "Bahkan, aku berani mengatakan kalau aku ... mencintaimu ...."
Akmal hanya terpejam tanpa perlawanan. Pikirannya pun tertutup. Bahkan kosong. menerima setiap perlakuan Sang Bidadari. Entah mengapa pria itu tak punya kuasa untuk bicara atau menghalanginya.
"Mas ... apa aku boleh ...." Mata Debby mengiba. Memohon dengan sangat.
Pria itu hanya diam seribu bahasa. Dia bagai tersihir oleh Sang Bidadari. Jemari lentik Debby perlahan membuka jaket kulit yang menempel di tubuh pria itu. Seiring dengan perlakuan bibirnya.
*****
Praakkk!
Tiba-tiba bingkai yang berisi foto Akmal dan Arumi pecah. Benda yang semula terpajang rapi dia depan tempat tidur mereka berdua kini hancur berkeping-keping.
Wanita itu terbangun dengan napas yang tersengal. Dia menoleh menatap sampingnya, namun kosong. Wanita itu menangis. Dia mencari miliknya.
__ADS_1
"Akmal!" Arumi berteriak memanggil nama suaminya langsung.
Wanita itu menyibak selimut dan turun dari tempat tidur. Namun nahas pecahan beling menancap tepat di tumitnya. Arumi hanya memejamkan mata dan membungkuk mencabut beling tersebut. Dia meringis menahan sakit.
Arumi tak perduli. Dengan kaki terpincang-pincang dia tetap berjalan mencari pria itu di balkon dan kamar mandi. Namun tak menemukan.
"Mas Akmal ...." tangisnya pecah. Firasatnya tak enak. "Mas Akmal ... kakiku berdarah. Hiks ...." Dia berharap dengan mengatakan itu suaminya akan segera datang. "Mas ... kakiku sakit. Hiks ...." Percuma. Tak ada balasan.
Arumi memukul dadanya. Dia tergopoh-gopoh menuju ruang kerja suaminya. Arumi sungguh tak perduli dengan kaki yang robek dan darah yang tak hentinya mencucur. "Mas ...." Wanita itu kembali mengingat mimpinya. Dia ingin segera melihat miliknya.
Arumi turun ke bawah, mencari di setiap sisi ruangan. Namun lagi-lagi tak ada. "Mas Akmal jangan tinggalkan aku ...." Di depan pintu keluar wanita itu duduk dan menyembunyikan wajahnya diantara kedua lutut. Dia menangis tersedu-sedu. Wanita itu pucat.
"Mawarku ... Hiks ...." Suaranya melemah. Matanya berkabut karena air.
Kemana pergi miliknya? Kenapa rumahnya kosong? Pandangannya mulai berkunang-kunang hingga wanita itu hilang kesadaran.
*****
Kedua insan tanpa ikatan kini hilang kendali. Sentuhan dan ucapan-ucapan Debby menghipnotis seorang Akmal. Rambut indah Debby telah tergerai. "Aku mencintaimu, Akmal ...." Suara Debby begitu syahdunya di telinga pria itu.
"By ... Deb-by ...."
Tergoda. Janji yang diucapkan seakan tak ada artinya. Dia Akmal. Yang selalu berbicara cinta di depan wanita sahnya. Wanita yang menemani dan membantunya berjuang sampai derajatnya terangkat, kini terlupa.
Dalam malam tersebut, malam yang panjang dilaluinya bersama dengan wanita lain adalah permulaan dari lunturnya janji di depan Sang Pencipta.
.
.
.
.
.
LIKE & VOTE
(IG : asriainunhasyim)
Salam
__ADS_1
AAH♥️