TERGODA

TERGODA
Tergoda 49


__ADS_3

Wanita berambut pendek dengan hiasan bandana, memakai gaun selutut berwarna pink salem jelas sangat menyatu dengan kulitnya yang putih bersih.


Celemek terpasang di bagian depan badannya. Wanita itu sedang memasukkan adonan dessert ke dalam wadah plastik berukuran sedang.


Dia begitu serius hingga sapaan pun tak dia dengarkan.


"Serius amat, sih!" ucap Nadini Andrea. Hampir dua bulan ini dia tak pernah alpa mengunjungi sahabatnya guna menghibur atau pun memberikan dorongan.


Arumi Anggun menoleh dan tersenyum dengan lembut. Dini melangkah mendekat dan membantu sahabatnya untuk menyelesaikan pekerjaan.


"Banyak pesanan, yah?" tanya Dini disela-sela aktivitasnya.


"Iya. Untuk acara arisan," jawab Arumi.


Dini tersenyum sumringah. "Alhamdulillah, yah, Mi."


Arumi mengangguk. Sudah dua minggu dia mencoba menggeluti usaha kuliner yang diberi nama 'Dessert Arumi'. Ini tak lepas dari ide yang diberikan Dini.


Arumi sering memposting Jualannya di media sosial sehingga banyak yang mengenalnya.


Tak disangka banyak pula yang menyukai buatannya. Pesanan demi pesanan berdatangan memenuhi daftar pelanggan.


Dia bersyukur. Karena memang Arumi tak punya pekerjaan. Dan juga alasan menyibukkan diri guna menghilangkan kenangan pahit yang menari di kepala akan rumah tangganya dengan Akmal.


Yah, seraya menunggu sidang selanjutnya yang memutuskan seluruh ikatan dengan Akmal. Membersihkan dirinya. Dia tak menuntut apa-apa termasuk harta gono gini.


Persetan dengan itu, Arumi tak mau mengambil uang, harta benda dari pria yang pernah menjadi imamnya. Ambil semua, dia sama sekali tak menginginkannya.


Atas izin Tuhan, dia bisa berusaha di atas kakinya sendiri.


Tak mau berurusan lagi. Bahkan ketika pihak pengadilan mengajukan mediasi kepada kedua belah pihak Arumi menolak mentah-mentah. Lagi pula, Akmal juga tak pernah merespon surat pemanggilan itu. Seakan tak mau berpisah.


*****

__ADS_1


Nadini memotret puluhan dessert yang berjejer di atas meja dengan berbagai varian. Dia memposting di akun WhatsApp, Instagram dan facebook. Sedangkan Arumi membersihkan peralatan yang telah dipakainya.


Selang beberapa menit, komentar mulai berdatangan. Banyak yang memesan dengan alamat yang berbeda-beda. Nadini girang bukan main.


"Wah! Arumi! Banyak yang pesan," ucap Dini seraya memperlihatkan ponsel kepada sahabatnya.


"Kalau mau, besok! Bahan-bahan aku tak cukup."


Nadini memainkan jempol membalas satu persatu komen dan pesan tersebut. Dia memberitahu sesuai dengan yang Arumi katakan.


"Mending sekarang aku antarin beli perlengkapan," ucap Dini. Dia menawarkan bantuan kepada Arumi.


Tanpa berpikir panjang wanita cantik itu mengangguk. Dia segera melepas celemek yang masih setia terpasang di badannya. Dia menyimpan ke tempat semula.


*****


Sesuai kesepakatan, mereka ke supermarket membeli perlengkapan jualan. Dini mendorong troli sedangkan Arumi yang memilih barang-barang yang akan dia gunakan.


Namun tiba-tiba mata mereka bersitatap dengan seseorang yang amat sangat tidak asing. Meskipun memakai masker dan kacamata tapi keduanya mengenali.


Dini membuka percakapan. "Wanita tak tahu malu yang merebut milik orang!" Dia memegang kuat troli tersebut.


Suara wanita itu membuat Debby menelan ludah. Jantungnya mulai memompa dengan hebat. Debby menguatkan diri dan membuka kacamatanya. "Aku sudah tak punya urusan dengan kalian," ucapnya.


Tapi entah mengapa darahnya seakan memanas melihat Arumi. Debby melihat penampilan mantan istri sang suami. Hal itu membuatnya teringat dengan Akmal yang selalu mengagungkan nama Arumi.


"Aku sudah bahagia dengan suamiku. Menanti kelahiran buah cinta kami," imbuhnya dengan nada memprovokasi. Meski sesungguhnya tak sesuai dengan nyata.


Arumi sakit mendengarnya. Seketika hal tersebut membuatnya teringat dengan pengkhianatan yang telah mereka lakukan. Namun dia cukup cerdas untuk tidak terpancing. "Tak ada yang bertanya," jawab Arumi singkat padat dan jelas namun menusuk.


Debby mengepalkan jemarinya mendengar jawaban Arumi. Dadanya kembang kempis.


"Pergilah dari situ! Kau menghalangi jalan kami!" Arumi menjentikkan jemarinya.

__ADS_1


Debby menggertakkan giginya. Dia membuka masker. "Dasar wanita sial!"


Satu kalimat yang keluar dari mulut Debby menciptakan kobaran emosi. Dia mengatai-ngatai Arumi.


Seketika pelanggan berkumpul mendengar itu. Mereka juga melihat wajah Debby yang sangat tak asing. Yah, wajah yang belakangan ini mengisi beranda soisal medianya.


"Dia wanita yang terkenal, kan, merebut suami orang sampai berbadan dua!" Lantang salah satu pelanggan wanita tanpa takut.


"Iya benar Bu-Ibu. Saya sering lihat fotonya. Ish! memalukan!"


Membuka masker Debby ternyata pilihan yang salah. Dia mengundang reaksi orang-orang disekelilingnya.


"Dasar pelakor! Amit-amit dah ...." ucapnya dengan bergidik.


Debby ditelanjangi tanpa henti di tengah keramaian, terlebih di depan Arumi, istri pertama Akmal. Malunya bukan main. Ingin rasanya dia mati saja saat ini.


Debby menggigit bibirnya. Wajahnya memerah.


Sedangkan Arumi hanya mendengar ocehan orang-orang tanpa menyahut sedikitpun. Tanpa membalas ucapan Debby ternyata masyarakat yang lebih dulu membalasnya.


Seketika lengkungan senyuman di bibir Dini terbentuk.


.


.


.


.


.


JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK LIKE, COMMENT RATE DAN VOTE.

__ADS_1


Salam


AAH♥️


__ADS_2