TERGODA

TERGODA
Tergoda 36


__ADS_3

Mama Reni berbaring dengan gelisah. Perasaan betul-betul tidak enak. Firasatnya ada yang tidak beres. Tapi entah, dia pun tidak tahu. Tangannya berulang kali memainkan ponsel untuk menghubungi Sang Putri, namun tak mendapat jawaban. Bahkan nomornya tidak aktif.


"Arumi," gumamnya.


Dia mencoba menghubungi menantunya, tapi lagi-lagi tak mendapat jawaban. Ada apa? Apa mereka baik-baik saja?


"Pada kemana, sih, semua ...."


Baru kali ini mengalami hal demikian. Hanya mampu berdo'a semoga keduanya dalam lindungan Sang Pencipta.


Yah, putrinya. Belahan jiwanya. Kesayangannya.


Mama Reni menyimpan ponsel dan keluar menuju teras. Entah apa yang ditunggu, diapun tak mengerti.


*****


Arumi melangkah menuju mobil dengan keadaan syok dan terguncang. Tak tinggal diam, Dini berlari mengikuti sahabatnya. Dia akan mendampingi Arumi. Takut jika sesuatu terjadi diluar kendali.


Akmal menyusul hendak menahan, namun terlambat Arumi telah melajukan mobilnya dengan cepat. "Arumi ...." Pria itu meremas rambutnya. "Arrgghhhh!"


Akmal memasuki mobil dan mengikuti mantan istrinya dari belakang. Dia memikirkan kata-kata pemutus hubungannya dengan Arumi. Talak tiga dan yang ketiga kalinya.


"Dasar bodoh!" Dia mengumpat untuk dirinya.


******


Sebelum Akmal melangkah keluar, Debby menahan pria itu. "A-aku ingin membicarakan sesuatu ...." ucap wanita itu dengan suara lemahnya.


Akmal memijat pangkal hidung. "Katakanlah ...."


Debby menatap pria itu dalam-dalam. Dia menelan ludah. "A-apa kau ingin aku pertahankan janin ini ...." Debby meneteskan air mata.


Akmal menghentikan aktivitasnya dan balik menatap wanita di depannya dengan tajam. "Apa maksudmu?"


Debby menyentuh perutnya. "A-apa kau ingin ja-nin ini bertahan?"


Akmal tahu kemana arah pembicaraan wanita di depannya. Kenapa Debby berbicara seperti itu? "Dia darah dagingku, By. Dia tak punya salah sama sekali ...." Akmal segera meraup Debby dalam pelukannya. Pecah, tangis wanita itu pecah.


"Hiks ... bagaimana dia menghadapi dunia tanpa ayah ...." Debby meremas kemeja Akmal.


"Hussttt ... dia anakku. Aku ayahnya ...." Akmal hanya memejamkan mata. Mencoba memberikan kata penenang untuk Debby.


"Tidak, Mas .... hiks."

__ADS_1


Akmal memegang lengan wanita itu dan menegakkan posisinya. "Kenapa? Jangan berpikir macam-macam, aku mohon. Pikirkan kesehatanmu."


"Hiks ... bagaimana dengan Arumi?"


DEG!


Debby mengucap satu nama yang menjadi bumerang dalam diri keduanya. Arumi, istri sah Akmal. "Bagaimana kau akan menyelesaikan semua ini, Mas?" Debby menutup wajahnya menahan isakan.


Yah, Akmal belum menemukan jawaban itu. Bagaimana dia menyelesaikan kerumitan yang terjadi antara mereka bertiga?


"Istrimu atau anakmu, Mas?"


Akmal menahan napas mendengar pertanyaan Debby. Anak atau istrinya. Sialnya itu pilihan tersulit selama hidup pria itu. "Aku ...."


Debby melepas pelukan itu. Dia menutup wajahnya. "Aku tidak ingin melihat anakku kelak menderita ...."


Akmal menghela napas panjang. "Pertahankan dia, By." Tak ada pilihan lain. Janin itu adalah bagian dari diri Akmal.


Satu kalimat yang membuat Debby spontan meraup wajah pria itu. "Apakah itu berarti .... kau akan menceraikan Arumi?"


Akmal kembali memeluk wanita itu. Entahlah. Tapi yang jelas saat ini dia harus menenangkan Debby demi anaknya.


"Katakan, Sayang, bahwa kau akan meninggalkan Arumi, menceraikannya, menalaknya." Debby egois. Mau bagaimana ini demi calon buah hatinya.


*****


Arumi membalap kendaraannya dengan perasaan yang berkecamuk. Menambah laju mobilnya dengan kesetanan.


"Mi, aku mohon berhati-hatilah." Dini tegang. Dia ketakutan melihat sahabatnya menyetir.


Namun sia-sia ucapannya tak mendapat tanggapan dari wanita itu. Arumi menyalip satu persatu kendaraan. Dan membunyikan klakson tanpa henti jika mobil di depan tak memberikan jalan.


"Dimana rumahnya?" Arumi bertanya dengan suara yang amat dingin. Dini yang mendengar itu hanya menelan ludah sebelum memberikan alamat lengkap Debby.


"Pelan-pelan Arumi ...." Percuma. Lagi-lagi tak mendapat respon.


Akmal kesusahan mengejar mantan istrinya. Belum pernah Akmal melihat Arumi menyetir menggila seperti itu. Jantungnya memompa hebat kala arahnya menuju rumah Debby.


******


Debby gelisah. Dia merasa pusing dan mual. Dia meminum obat yang diberikan dokter dan menyapukan kembali minyak angin di pelipis dan perutnya. Menghirup aroma dalam-dalam.


Dia duduk di ruang tamu dan mengusap perutnya. Namun tiba-tiba terdengar bunyi klakson beberapa kali. Senyumnya mengembang. Dia mengira itu adalah ayah dari anaknya.

__ADS_1


"Ayah datang ...."


Debby bangkit dari pembaringan dan menuju luar untuk membuka pintu. Baru benda tersebut terbuka,


PLLAAKKK!


Suara tamparan menggema ditelinga ketiga orang tersebut. "Dasar tak punya hati!"


PLLAKKKK!


Darah mencucur di sudut bibir Debby Siring dengan dirinya terpentang ke belakang. Debby syok dengan apa yang dilihat dan terjadi.


Datang adalah Arumi istri sah dari pria yang telah direbutnya. Wanita yang terkenal dengan kelembutan dan keramahan sungguh tak tampak lagi.


Debby ketakutan. Dia melindungi perutnya. Takut jika wanita itu menyentuh bagian tersebut.


Mata Arumi memerah. Napasnya memburu hebat. Tangannya mengepal kuat.


"Arumi!" Akmal berlari masuk dan menghadang langkah Arumi yang semakin menyudutkan Debby. Dia merentangkan tangan.


"Cih! Dasar manusia bejat!" Arumi memaki keduanya.


"Aku mohon hukum saja aku ...." Mata pria itu kembali berkaca-kaca. Dia hendak menyentuh wanita yang baru saja ditalaknya.


"Jangan coba-coba sentuh aku brengsek!" dengan lantang Arumi memperingati Akmal dan menunjuk pria bergantian dengan selingkuhannya. "Jangan coba-coba ...." tekannya.


.


.


.


.


.


Maaf, otor lambat update. Agar jadwalnya lebih jelas dan teman-teman tidak menunggu tanpa kepastian (Ciee), silahkan follow akun IG: asriainunhasyim


"INFONYA DAPAT DILIHAT DISANA"


Salam


AAH♥️

__ADS_1


__ADS_2