TERGODA

TERGODA
S2. Tergoda 54


__ADS_3

Sepertiga malam, disaat orang terlelap dengan begitu nyenyaknya dibuai mimpi, seorang pria berparas tampan nan teduh sedang menadahkan tangan.


Memejamkan mata dan Berdo'a dalam temaramnya lampu, memohon segala keridhaan Tuhan. Dia begitu khusyuk. Segala keluh kesah dia keluarkan.


Saat perasaannya lega, dia mengusap wajahnya dengan telapak tangan. Mengucap syukur berkali-kali karena masih diberi kesempatan untuk merasakan nikmatnya ibadah malam.


Pria itu bangkit dari duduk ternyamannya. Dia menatap jam yang melekat sempurna pada dinding.


"Sebentar lagi masuk subuh."


Tanpa membuka sarung dan baju koko yang dipakainya, pria itu menuju meja kerja. Dia membuka laptop dan mulai berkutat dengan benda tersebut. Jemarinya begitu lincah menari di atas keyboard dengan sesekali meneguk air putih yang ada di samping benda tersebut.


Pria itu tidak tidur setelah shalat malam. Dia memilih menggunakan waktunya sebaik mungkin untuk bekerja hingga memasuki waktu subuh.


Dia harus menyelesaikan sebelum kembali ke tanah air. Yah, bolak-balik ke negeri sebelah untuk urusan bisnis.


*****


Pintu kedatang Bandara Kota J begitu ramainya. Seorang pria memakai jaket denim berada diantara keramaian tersebut. Dia menyeret kopernya dengan bola mata bergerak ke kiri dan ke kanan mencari sosok paruh baya yang tak pernah absen menjemput.


Ketika pandangannya menangkap seorang wanita dengan jilbab menutup kepala serta tangan yang melambai-lambai, senyum lembut terbentuk di bibir.


Pria tersebut berjalan kearahnya. "Assalamualaikum, Bunda." Dia langsung menyalami orang yang telah melahirkannya.


"Waalaikumussalam, Nak." Pancaran kerinduan dari kedua bola mata kala memandang Sang Putra 'Ahmad Harun Kamil'.


"Bunda sehat?" tanyanya.


Wanita paruh baya tersebut mengangguk mantap. "Disehatkan, dong!"


Harun tertawa hingga menampakkan deretan gigi yang rapi. Dia merangkul lengan bundanya dan berjalan menuju kendaraan yang telah terparkir rapi.


Harun mengambil alih kunci yang berada di tangan bundanya. Dia mengganti wanita paruh baya itu menyetir.


Diperjalanan mereka tak henti-henti bercerita berbagai hal. Kedua ibu dan anak itu mengungkapkan keseharian mereka satu bulan ini.


*****


Sesampainya di rumah, keduanya keluar dari mobil dan masuk ke dalam bangunan dua tingkat yang cukup besar didominasi warna abu-abu.

__ADS_1


Mereka segera menghampiri pria paruh baya yang duduk di ruang keluarga. Tampak ia sedang membaca surat kabar dengan kacamata yang bertengger sempurna di wajah.


"Assalamualaikum, Ayah," sapa Harun.


Paruh baya itu menoleh kala mendengar suara yang menyapanya. "Waalaikumussalam." Dia melipat surat kabar dan berdiri menyambut kedatangan putranya.


Harun mendekat dan meraih tangan sang ayah dan menciumnya. Dia memeluk sosok paruh baya tersebut.


"Ayah sehat?" Pertanyaan yang sama dilontarkan kepada ayahnya.


"Alhamdulillah, Nak. Cuman kolesterol nakal sesekali menyerang," jawab pria paruh baya memiliki wajah yang hampir sama dengan Harun. Bisa dibilang kopiannya.


"Tahukan, Ayahmu Harun. Hobi makan pantangannya," imbuh Bunda Ira.


Meskipun berulang kali melarang, tapi apa boleh buat ketika pria paruh baya itu masih tetap ngotot. Dia juga mengatakan, meskipun tak makan makanan tersebut, dirinya akan tetap mati.


Teori asal-asalan yang dibuat hanya sebagai senjata agar sang istri membolehkan.


Harun hanya menghela napas yang disambut tawa oleh Sang Ayah. Keduanya duduk di sofa. Sedangkan Bunda Ira menyimpan tas di atas meja dan berlalu menuju ruang dapur.


*****


"Diminum dulu," ucap Bunda Ira.


keduanya kompak berbalik. Mereka mengambil cangkir tersebut dan menyesap teh sedikit demi sedikit.


"Assalamualaikum ...."


Seorang wanita cantik berhijab memasuki rumah. Matanya berbinar-binar kala memandangi seorang pria yang duduk diantara ayah-bundanya.


"Waalaikumussalam ...." sontak mereka menjawab.


"Abang ...." Wanita itu mendekat dan memeluk kakaknya.


"Bagaimana kuliahnya?" tanya Harun kepada adik satu-satunya. Yah, mereka hanya dua bersaudara. Usia mereka terpaut 6 tahun.


Fanny melepas pelukan. "Lancar, dong!" Jawab wanita itu dengan semangat. Dia sekarang berada di semester akhir.


"Syukurlah." Harun mengusap kepala adiknya. Kedua orang tua hanya menatap dengan senyum. Mereka tahu kedekatan kakak-beradik tersebut.

__ADS_1


*****


"Jadi kapan kamu mengenalkan kami dengan wanita pilihanmu, Run?" tanya Ayah Kamil yang disertai anggukan istrinya.


"Bunda mau lihat calon mantu, Bunda," imbuh wanita paruh baya itu.


Harun menggeleng. "Belum ada," jujurnya.


"Kok, belum, Bang? Pengin banget lihat Bang Harun nikah."


Harun hanya terdiam. Memang dirinya belum ada calon sama sekali. Meskipun keluarganya sudah mendesak, akan tetapi dia hanya santai menanggapi. Mau bagaimana?


Harun mengedikkan bahu. Tangannya mengambil satu cup dessert dan menyantapnya.


"Enak."


"Itu salah satu favorit ayah dan adikmu. Bunda juga suka karena rasanya yang pas," jelas Bunda Ira.


Harun menatap logo yang terpasang di wadah tersebut. 'Dessert Arumi'.


.


.


.


.


.


JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK LIKE COMMENT RATE DAN VOTE 😉🤗


FOLLOW igehku : asriainuhasyim


Teman-teman bisa lihat jadwal disana😁🙏


Salam


AAH♥️

__ADS_1


__ADS_2